Jumat (22/08/2025) pagi, Bu Nana mengirim sebuah fail terusan ke grup Sekolah. Saya menduga, Bu Nana mendapatkannya dari grup K3S. Saya buka fail Excel tersebut. Terdapat 23 sheet. Isinya daftar peserta lomba MAPSI beserta nomor undiannya.

Saya tidak membuka setiap sheet. Pun tidak mengecek isinya secara detail. Saya terlalu percaya diri dengan keyakinan saya. Ternyata saya salah besar. Sepulang anak-anak, Bu Dian menemui saya.

“Bu Wiwik, Ridho belum ada di daftar peserta lomba hifzil Qur’an,” terang Bu Dian mengawali perbincangan.

Deg.

Saya buka kembali fail kiriman Bu Nana tadi pagi. Saya cari sheet “Hifzil Pa”. Benar adanya. Nama Ridho belum tercantum!

“Astagfirullah. Nggih, Bu Dian. Terima kasih atas ketelitiannya. Coba nanti saya pikirkan solusinya, Bu.”

Bu Dian mengiakan. Beliau lantas pamit. Saya gusar. Saya mengingat-ingat lagi runtutan ceritanya hingga Ridho belum terdaftar sebagai peserta.

Beberapa pekan sebelumnya, Bu Naim bercerita jika bunda Ridho menanyakan tentang keikutsertaan Ridho pada lomba MAPSI. Ridho ingin sekali ikut tetapi ternyata tidak terpilih. Jika pun Sekolah tidak mengajukan, mama Ridho tidak keberatan.

Mendengar itu, saya segera membuka chat yang saya kirim kepada Pak Kukuh. Saya meminta Pak Kukuh untuk mendaftarkan anak-anak yang ikut lomba MAPSI. Benar adanya. Nama Ridho terlewat. Saya hanya mencantumkan nama Aza pada cabang lomba hifzil Qur’an. Seharusnya Ridho juga menjadi wakil Sekolah. Namun, saya benar-benar lupa.

“Beruntung, Bu Naim menyampaikannya sebelum batas akhir pendaftaran. Sehingga Ridho masih bisa didaftarkan,” batin saya.

Manusia merencanakan, Allah-lah Sang Maha Penentu. Tenggelam dengan aktivitas harian, saya cuai. Seharusnya saya menyampaikannya ke Pak Kukuh. Apa daya, hingga Jumat sore itu, saya masih bimbang. Belum menemukan solusi yang solutif.

Di satu sisi, saya ingin Ridho ikut lomba. Namun, di sisi lain, saya tidak ingin (lagi) terlalu percaya diri. Sudah berharap tinggi, jika ternyata hasilnya tak sesuai, akan terasa lebih sakit jatuhnya. Saya menepis harapan tinggi itu. Saya makin bersalah tatkala membayangkan bagaimana perjuangan Ridho dan Bu Dian. Keduanya telah berlatih selama berhari-hari. Tak tega rasanya jika harus memupuskan harapan mereka. Terpaksa kalah sebelum berperang.

Bakda magrib, saya memberanikan diri mengirim pesan kepada bunda Ridho.

“Assalamu’alaikum, Bunda. Bunda, saya pribadi mohon maaf yang sebesar-besarnya. Waktu itu saya lupa menyampaikan ke Pak Kukuh untuk mendaftarkan Mas Ridho di lomba MAPSI.Saat ini kami sedang mengupayakan untuk mendaftar susulan. Sekali lagi, mohon maaf, nggih, Bunda.”

Wa ‘alaikumus-salām waramatullāhi wa barakātuh. O… begitu, nggih, Bu. Tidak mengapa, Bu Wiwik. Kami maklum. Kalau pun sudah tidak bisa tidak mengapa, Bu Wiwik. Qadarullāh .”

Jawaban bunda Ridho tersebut amat melegakan saya. Namun, tetap saja saya belum tenang. Saya membayangkan betapa kecewanya Ridho.  Perasaan bersalah terus menggelayuti.

Sebelum mengirim pesan ke bunda Ridho, saya juga berkomunikasi dengan Pak Kukuh.

“Sudah nggak bisa menyusul, nggih, Pak?” tanya saya harap-harap cemas.

“Kalau soal itu, kurang tahu saya, Bu. Atau mungkin besok saya coba daftarkan dulu, nggih,” respons Pak Kukuh.

“Nggih, Pak Kukuh. Mendaftarnya ketemu langsung panitia?”

“Atau saya cari tau kontak panitianya dulu, Bu. Nanti saya kabari malih, nggih,” jawab Pak Kukuh.

Nggih, Pak Kukuh. Matur nuwun sangêt.”

Selang 80 menit kemudian, Pak Kukuh kembali mengirim pesan. Pesan yang saya tunggu-tunggu.

“Alhamdulillah, (Ridho) sudah bisa saya daftarkan ke panitia, Bu Wiwik.”

Ah, saya lega. Selega-leganya.

“Alhamdulillah. Matur nuwun sangêt, Pak Kukuh. Mohon maaf, karena saya, Pak Kukuh jadi repot.”

Sami-sami, Bu Wiwik. Mbotên mênapa, Bu.

Segera, saya menyampaikan kabar gembira ini ke bunda Ridho.

***

Saya sangat bersyukur. Cerita ini berakhir dengan indah. Saat berkomunikasi dengan Pak Kukuh, saya tidak berani meminta beliau untuk mengusahakan mendaftarkan Ridho. Saya menyadari bahwa masalah ini adalah murni kelalaian saya.  Saya hanya bermaksud menjajaki apakah ada celah untuk saya bisa memperbaiki kesalahan saya itu.

Baca juga: Putus Asa?

Ternyata Pak Kukuh sangat peka dan peduli. Melampaui ekspektasi saya. Tanpa saya minta, Pak Kukuh berinisiatif memberikan bantuan. Kebaikan Pak Kukuh diridai Allah. Hingga terjadilah akhir cerita yang indah ini. Terima kasih, Pak Kukuh. (A2)

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code