“Sikap berdoa,” ucap Aya, kapten siang itu.

“Sikap berdoa,” tiru anak-anak yang lain sembari melipat tangan.

“Tangan diangkat,” lanjut Aya.

“Tangan diangkat,” tiru anak-anak sembari mengangkat tangan.

“Rama, Shaqueena, Vira, Rara, Dea,” tegur Aya kepada teman-temannya yang belum tertib. “Kepala menunduk,” lanjutnya.

“Kepala menunduk,” tiru anak-anak sembari menundukkan kepala.

“Berdoa mulai,” ucap Aya.

“Berdoa mulai,” ucap anak-anak serentak dilanjutkan dengan doa makan siang.

Makan siang dimulai setelah doa yang dipimpin oleh kapten. Sebelum makan makanan utama, anak-anak dipersilakan makan buah. Kebetulan saat itu terjadwal buah semangka di menu katering.

Saya duduk tepat di depan Rara. Di sebelah kanan Rara ada Vira, dan di sebelah kirinya ada Dea. Mereka bertiga mengumpulkan biji semangka.

“Untuk apa, Mbak Rara?” tanya saya.

“Mau kita tanam lagi, Bu. Kemarin kita menanam biji melon, terus tumbuh. Sudah ada daunnya, loh, Bu,” cerita Rara kegirangan.

“Iya, Bu,” tambah Vira dan Dea dengan antusias.

“Oh, ya?” tanya saya, penasaran.

“Iya,” jawab mereka kompak.

“Memang di mana kalian menanamnya?” selidik saya.

“Di taman,” jawab Rara.

“Taman? Taman yang mana?” kejar saya, makin penasaran.

“Di situ, loh, Bu,” jawab mereka sembari menunjuk mini garden di samping kantin.

“Oh, coba nanti tunjukkan ke Bu Iin, ya,” pinta saya.

Makan siang pun berakhir. Kapten kembali memimpin doa. Setelah itu, anak-anak baru dipersilakan mencuci piring. Rara, Vira, dan Dea selesai mencuci piring lebih dulu. Mereka bergegas menanam biji semangka yang sudah mereka kumpulkan. Saya masih mengamati dari depan wastafel. Sembari mengantre untuk mencuci piring. Setelah selesai mencuci piring, saya menghampiri mereka.

“Wah, iya, sudah tumbuh,” ucap saya sembari menyempil di sela-sela mereka—Rara, Vira, Dea—yang sedang berjajar di mini garden.

Mereka secara otomatis merenggangkan barisan. Sehingga mudah bagi saya untuk masuk di antara barisan mereka. Mereka masih disibukkan dengan biji semangka yang mereka tanam.

“Iya, Bu, benar, kan?” ucap Rara dengan bangga.

“Wah, iya, ada berapa itu?” tanya saya.

“Kita tanam sembilan biji, Bu, tumbuh semua. Iya, kan, Vir?” tanya Rara memastikan kepada Vira.

Vira hanya menganggukkan kepala. Mereka telaten menyirami tanaman setiap hari menggunakan botol minuman bekas. Dan benih-benih itu pun tumbuh.

“Wah, ini ada siput. Hati-hati nanti kalau daunnya dimakan siput ya,” ucap saya.

“Ih, buang saja, aku takut. Dea, kamu saja,” pinta Rara.

“Ih, gak mau. Aku juga takut,” jawab Dea.

“Ya sudah, kamu saja, Vir,” pinta Rara lagi.

Hih,” ucap Rara, yang tampak enggan tapi tetap mengambil dan menyingkirkan siput itu.

Keesokan harinya, mereka mendapati tanaman mereka dimakan siput. Yang tersisa hanya beberapa. Itu pun tanpa daun. Jadi, hanya terlihat batang-batang kecil.

Saya baru sampai di Sekolah. Meletakkan sepatu di rak sepatu depan kelas 3. Lalu cuci tangan dan hendak masuk ke kelas. Namun, sebelum masuk kelas saya sudah diadang ketiga anak tersebut. Mereka tampak murung. Mereka melapor, kecambah melon mereka dimakan siput.

“Bu Iin, tanaman kita dimakan siput,” rengek Rara.

Seperti biasa, Vira dan Dea hanya mendampingi. Dan wajah mereka juga terlihat murung.

Loh, kok bisa? Mana, coba lihat,” tanya saya keheranan.

Rara menarik tangan saya menuju ke mini garden.

“Tinggal tujuh, Bu. Padahal kemarin kita tanam sembilan, daunnya juga pada hilang,” lapor Rara.

“Oh, iya, tapi ini benar dimakan siput?” selidik saya.

“Kayaknya iya, Bu,” jawab Rara.

“Terus bagaimana, ini?” selidik saya ingin tahu solusi dari mereka.

“Ini mau kita tutup pakai kardus, Bu. Iya, kan?” tanya Rara sembari memastikan kepada Vira dan Dea.

Vira dan Dea hanya mengangguk.

“Tapi kalau pakai kardus, nanti waktu hujan, kardusnya basah semua. Dan nanti kalau kena angin, kardusnya jatuh menimpa tanamannya, bagaimana?” tambah saya.

“Besok itu rencananya kita mau bawa stik ice cream itu, loh, Bu,” jawab Rara.

Masyaallah, ternyata mereka sudah memikirkan dan mendiskusikan solusinya.

“Ya, sudah, bagaimana kalau sekarang kita pakai ini saja,” usul saya sambil menunjuk botol bekas minuman yang Rara pegang.

Itu botol yang biasa mereka gunakan untuk menyiram benih tersebut.

“Begini, Bu?” usul Rara sembari meletakkan botol dengan terbalik di atas tanaman mereka.

“Tapi kalau seperti ini, nanti tertutup semua. Tidak ada udara yang bisa langsung masuk,” ucap saya.

“Terus, gimana, Bu?” tanya Rara.

“Bisa dibolongi atau dipotong jadi dua saja,” jawab saya.

Setelah itu kami—saya, Rara, Vira, Dea—menuju ke kelas. Kami memotong botol menjadi dua bagian. Satu bagian untuk menutup tanaman. Bagian lainnya masih difungsikan untuk menyiram tanaman.

“Masyaallah, Rara, Vira, dan Dea anak yang telaten. Mereka merawat benih hingga tumbuh berkecambah. Bahkan sepertinya ketelatenan mereka dimulai saat mereka memilih dan mengumpulkan biji melon. Selain itu, mereka bahkan merawatnya saat sudah hampir tidak ada harapan. Saat tanaman itu hampir benar-benar rusak, mereka masih melindungi dan menyiraminya. Semoga saya bisa meniru ketelatenan mereka. Telaten untuk menyemai benih-benih karakter yang harus ditanamkan pada murid-murid. Hingga nantinya mereka akan tumbuh menjadi pribadi yang berkarakter,” batin saya.

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code