Matahari bersinar cerah. Jejak guyuran hujan semalam masih terlihat jelas. Lapangan futsal bercat biru itu masih digenangi air. Meski para petugas kebersihan telah berupaya mengeringkan, genangan airnya masih ada yang tampak. Tentu saja tak sebanyak sebelum dikeringkan.

Lagu pagi telah berkumandang. Melalui pelantang yang terkoneksi di seluruh ruangan. Dari lantai satu hingga empat. Saya bergegas menuju teras. Setiap Jumat, saya terjadwal piket penyambutan. Selain saya, ada Bu Na’im, Bu Milla, dan Pak Aruf yang bertugas. Kami berdiri berbanjar dari timur ke barat. Di sisi dinding teras sebelah timur.

Sengaja, saya memilih berdiri di ujung kiri. Dekat tangga. Tangga itu terbagi menjadi dua. Sisi kanan dan kiri terpisah oleh handel berbahan stainless steel. Saya memanfaatkan cerahnya matahari untuk menghangatkan punggung. Semilir angin kian menyempurnakan suasana pagi itu.

Keenan dan adiknya—Khalif—tiba. Keduanya diantar ayahnya. Setelah salim dengan sang ayah, Keenan menaiki tangga lalu mengucap salam dan mencium punggung tangan kanan saya. Saya jawab salam Keenan sembari salim dengan Khalif. Keenan melangkah maju dan menyalami para guru di sebelah kanan saya.

Murid-murid silih berganti datang dan salim. Berseragam pramuka siaga. Halsduk merah putih melingkar di leher. Tas punggung digendong. Tas bekal ditenteng. Begitulah kira-kira penampilan sebagian besar anak-anak.

Kirana turun dari mobil. Sabrina—kakak Kirana—masih tampak menyiapkan barang-barangnya di dalam mobil. Saya sudah bersiap menyambut Kirana. Ia menaiki tangga pertama. Ups, Kirana bergeming. Ia tak melanjutkan langkahnya. Kirana lantas membungkukkan badannya. Mengambil sesuatu di tangga kedua. Ia lalu berbalik badan. Tangan kirinya memegang sesuatu. Rupanya, ada sampah plastik di tangga itu. Kirana lantas memasukkan sampah itu ke tempat sampah.

“Masyaallah. Terima kasih, ya, Mbak Kirana,” ucap saya sembari menerima uluran tangan Kirana.

Kirana tersenyum. “Sama-sama, Bu,” jawabnya.

Baca juga: Teladan Orang Tua

Kirana berlalu. Saya masih termangu. Bahagia sekaligus malu. Jika saya mendapati situasi yang sama, belum tentu saya bertindak sepeduli Kirana.

Belum usai dengan lamunan itu, mata kepala saya kembali menyaksikan hal yang serupa. Bu Nana—Kepala SD Islam Hidayatullah 02—juga melakukan hal yang sama dengan Kirana. Beliau memungut sampah gelas plastik minuman. Tanpa berkata apa pun, Bu Nana memasukkan sampah itu ke tempat sampah. Ah, saya kian malu.

Kembali saya merenung. Saya teringat akan nasihat Pak Kambali.

“Pengajaran yang paling efektif itu melalui keteladanan,” ujar Pak Kambali di suatu kesempatan.

Saya pun tersadar. Bisa jadi, kepedulian Kirana merupakan resonansi dari keteladanan Bu Nana. Yang pasti, kedua kejadian di waktu yang berurutan tersebut terlalu sayang jika hanya saya jadikan sebagai sebuah cerita. Saya perlu memaknainya dan mengupayakan untuk meneladan. Semoga Allah mudahkan.

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code