Bu Eva mendapat tugas dinas luar selama sepekan. Bu Eva merupakan wali kelas 1 bersama Bu Yeni. Senin (08/09/2025), saya turut mendampingi Bu Yeni di kelas. Ini merupakan kali pertama saya mengikuti pembelajaran di kelas 1.  Saya belum hafal sebagian nama-nama anak di kelas tersebut.

Jam pertama dan kedua terjdwal BAQ. Usai BAQ, saya masuk ke kelas 1. Rayyan sedang menangis. Bu Yeni menenangkan Rayyan. Anak-anak mengerumuni Rayyan dan Bu Yeni. Saya mengambil alih kelas. Saya minta anak-anak duduk di karpet. Rayyan masih menangis. Bu Yeni mengajaknya keluar kelas.

“Teman-Teman, apakah ada yang tahu kenapa Mas Rayyan menangis?”

“Tadi Rayyan jatuh, Bu. Kepalanya kena kursi,” jawab salah seorang anak.

“Baik, nanti kita tanya Mas Rayyan, ya. Kalau Mas Rayyan sudah tenang. Sekarang kita belajar dulu.”

Saat istirahat, saya membuka CCTV untuk melihat kejadian yang menimpa Rayyan. Rupanya, tadi ia terjatuh karena keserimpet tali tas temannya. Kepalanya terbentur punggung kursi. Saya mencari tahu siapa pemilik tas tersebut. Dan ternyata, pemilik tas itu adalah Clemira.

Clemira duduk di kursi paling belakang. Tasnya diletakkan di sisi kanan meja. Saat Rayyan berjalan, kaki kirinya menyangkut di tali tas Clemira. Rayyan pun terjatuh dan terbentur punggung kursi. Saya lantas menemui Clemira secara pribadi.

“Mbak Clemira, tadi Mas Rayyan keserimpet tali tasnya Mbak Clemira. Lalu jatuh dan dahinya terbentur,” jelas saya.

Clemira tampak berpikir. Raut wajahnya menyiratkan penyesalan dan rasa bersalah. Ia masih terdiam.

“Sebaiknya tasnya ditaruh di mana, Nak?”

“Di loker,” jawab Clemira.

“Iya, betul. Mulai besok, tasnya dimasukkan ke loker, ya.”

Clemira mengangguk.

Sebelum kejadian Senin itu, setiap saya masuk ke kelas 1, saya selalu mendapati tas Clemira digantung di sisi meja. Yang seharusnya dimasukkan ke dalam loker. Clemira belum bersedia memasukkanya ke loker. Bu Eva dan Bu Yeni mengonfirmasinya.

Sehari setelah kecelakaan yang menimpa Rayyan, Clemira bersedia memasukkan tasnya ke dalam loker. Namun, hari berikutnya, Clemira kembali menggantungkan tasnya di sisi meja. Menurut keterangan dari Bu Yeni, Clemira bosan kalau setiap hari harus memasukkan tasnya ke loker. Hal ini menjadi PR bagi wali kelas. Menumbuhkan kesadaran pada diri Clemira.

***

Saya sudah melupakan PR itu. Saya pun tidak mengonfirmasinya lagi kepada Bu Eva dan Bu Yeni. Namun, beberapa hari berikutnya, ketika saya masuk ke kelas 1, tidak ada tas yang menggantung di sisi meja. Atau pun di tempat lain selain di dalam loker.

Baca juga: Istikamah

Saat istirahat, saya temui Clemira.

“Mbak Clemira, sekarang tasnya sudah dimasukkan ke dalam loker, ya?” tanya saya.

“Iya,” jawab Clemira singkat.

“Masyaallah. Setiap hari?” selidik saya.

“Iya,” respons Clemira.

“Alhamdulillah. Terima kasih, ya, Nak.”

Clemira berlalu sambil berjalan berjingkat.

Beberapa hari kemudian, saya menanyakan kepada Bu Yeni. Apakah hingga saat itu Clemira masih istikamah menaruh tasnya di loker. Saya harap-harap cemas menunggu jawaban Bu Yeni.

Dan alhamdulillah, jawaban Bu Yeni sangat melegakan saya.

Baca juga: Telanjur Istikamah

Rupanya, Bu Eva dan Bu Yeni tidak berhenti mengingatkan Clemira. Hingga pada masanya, tumbuh kesadaran pada diri Clemira. Tanpa perlu diingatkan lagi, Clemira menaruh tasnya ke dalam loker. Atas keistikamahannya itu, saya memberikan stiker piala kepada Clemira.

Sebenarnya, Bu Yeni dan Bu Eva juga sangat layak mendapatkan penghargaan. Beliau berdualah yang mengawal proses Clemira. Tanpa melewatkan sehari pun, Bu Yeni dan Bu Eva selalu mengingatkan Clemira. Kembali, saya mendapatkan penguatan bahwa konsistensi merupakan salah satu kunci berhasilnya ikhtiar. (A2)

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code