Saya mencari Langit di kerumunan anak-anak berseragam biru dongker. Ketemu. Pagi ini saya bertugas membersamai anak-anak mengikuti kunjungan ke Perpustakaan Provinsi Jawa Tengah. Kunjungan ini merupakan rangkaian penutup dari program pelatihan organisasi Sekolah untuk murid-murid. Dalam kegiatan ini, Sekolah memutuskan untuk bergabung dengan SD Islam Hidayatullah. Dan Langit merupakan satu-satunya murid SD Islam Hidayatullah 02 yang tergabung dalam organisasi Pustakawan Cilik.
Selain Pustakawan Cilik (Puscil), ada pula PKS (Patroli Keamanan Sekolah) dan Dokcil (Dokter Kecil). PKS akan berkunjung ke Satuan Brimob Jawa Tengah. Sementara Dokcil akan belajar ke FK Unissula. Anak-anak terlihat antusias.
Saya mencari informasi tentang posisi penugasan saya. Seorang guru yang saya belum mengenal memberitahu saya. Beliau sampaikan kalau saya bertugas di bus 1. Saya lantas mencari tahu bus Langit. Ternyata Langit di bus 2. Segera, saya bicarakan hal ini kepada Langit.
“Mas, Bu Wiwik ditugaskan di bus 1. Tapi Mas Langit nanti naik bus 2. Gimana?”
“Ya, enggak pa-pa,” jawab Langit. Pandangannya menyapu ke arah kanan dan kiri.
“Oke. Nanti Mas Langit sama Bapak/Ibu Guru dari SDIH, ya.”
Langit mengangguk.
Saya lega. Langit tak berkecil hati. Meski pandangan dan gesturnya sempat menyiratkan keraguan, saya yakin Langit bisa mengatasinya.
Bu Ismi—guru SDIH—mendekati saya.
“Bu, njenengan jadinya di bus 2,” jelas Bu Ismi.
“Lo, kenapa, Bu? Anaknya gak pa-pa, kok.”
“Aman, Bu,” respons Bu Ismi.
“Nggih, sampun. Makasih, Bu.”
“Sama-sama, Bu Wiwik.”
Saya menyampaikan informasi terbaru itu ke Langit. Langit biasa saja menanggapinya. Lebih tepatnya: sok cool.
Sekitar pukul 07.30, anak-anak diarahkan masuk ke bus masing-masing. Saya masuk belakangan. Lewat pintu depan. Saya cari Langit. Ia duduk sendiri di jok nomor 5 dari belakang. Semua anak sudah mendapatkan kursinya masing-masing. Tempat duduk mereka tidak ditentukan. Bebas. Selain Langit, ada pula anak lain dari SDIH yang memilih duduk sendiri. Melihat kondisi itu, saya memutuskan untuk duduk di samping Langit.
“Ngit, tadi sudah salat Duha?” tanya saya.
“Astagfirullah. Aku lupa, Bu!”
“Siapa?” tanya saya sambil melebarkan pupil mata saya.
“Eh, saya lupa, Bu. Soalnya tadi buru-buru,” sergap Langit.
“Emang Langit bangun jam berapa?”
“Jam 5.”
Saya mengernyitkan dahi. Langit paham maksud saya.
“Habis itu tidur lagi sampai jam 05.30,” respons Langit sambil tertawa.
“Kalau menurut Bu Wiwik, sih, harusnya Langit bisa salat Duha dulu di rumah. Setengah jam cukuplah untuk Langit siap-siap. Mandi, makan, dan lain-lain. Jam 06.05 salat Duha dulu.”
Langit nyengir.
“Kalau yang melipat selimut siapa?” tanya saya.
“Bunda,” jawab Langit singkat.
Saya geleng-geleng. Langit kembali nyengir.
“Selimutnya, kan, besar, Bu. Aku, eh, saya enggak bisa (melipat) sendiri.”
“Ya, sebisanya. Bu Wiwik yakin, Bundanya Langit akan sangat bangga meski lipatan Langit belum rapi.”
Langit tampak berpikir.
“Ngit, kalau Langit mau duduk sama teman yang lain, enggak pa-pa, lo,” tawar saya.
“Kenapa, Bu?”
“Siapa tahu Langit pengin ngobrol sama teman yang sefrekuensi. Kalau Bu Wiwik, kan, beda generasi dengan Langit. Takutnya Langit bosan.”
“Enggak, lah, Bu.”
“Oke, deh. Oh, iya, Bu Wiwik punya tantangan untuk Langit.”
Langit tampak penasaran. “Apa, Bu (tantangannya)?”
“Langit menulis pengalaman yang paling berkesan dari kunjungan ini. Nanti Bu Wiwik juga akan menulis. Sebelum tayang di website Sekolah, Langit boleh membacanya dulu.”
“Nanti di tulisannya ada sayanya, ya, Bu?”
“Oke, deal!”
Baca juga: Tak Sekadar Jalan-Jalan
Keesokan paginya, saya berjumpa dengan Langit di selasar lantai 1. Sembari salim, saya tanyai ia tentang tulisan yang kami sepakati.
“Saya belum menulis, Bu,” jawab Langit.
“Sama. Bu Wiwik juga belum menulis.”
Siang harinya, bakda Zuhur, saya merasa kurang enak badan. Saya memutuskan untuk istirahat di UKS. Cukup lama. Bahkan, saya sempat menelepon Bu Iin dan menyampaikan bahwa hari itu saya belum bisa turut membersamai English Club.
Beberapa waktu kemudian, saya merasa lebih nyaman. Saya lantas mengabarkan via pesan teks kepada Bu Iin.
“Bu Iin, insyaallah kondisi saya sudah memungkinkan untuk (mengajar) English Club. Nanti EC seperti biasanya saja.”
“Tidak perlu dipaksakan, Bu Wiwik. Anak-anak kelas 4 sama saya tidak mengapa,” respons Bu Iin.
“Insyaallah, aman, Bu. Ini sudah baikan.”
Pukul 14.15 saya menuju ruang waka. Saya terkejut sekaligus bahagia. Di atas meja terdapat selembar kertas. Tulisan Langit. Penuh satu halaman. Saya baca kertas itu sekilas.

Saya bergegas menuju ruang kelas 4. Mendampingi English Club. Setelah selesai, saya memastikan anak-anak bimbingan saya melaksanakan salat Asar berjemaah. Saya lantas turun menuju ruang waka. Saya kembali membaca tulisan Langit. Hingga tuntas.
Usai membaca tulisan itu, saya merasa tertampar. Ini merupakan kali ke sekian saya kalah dari anak-anak. Saya tak ingin berlarut dalam kekalahan. Saya tak pula ingin menyerah. Tulisan Langit menggugah semangat saya. Semangat utuk menyelesaikan tulisan ini. Terima kasih, Langit! (A2)
