Saya bergegas keluar rumah. Arloji yang melingkar di pergelangan tangan kiri saya sudah menunjukkan pukul 06.00. Saya berjalan keluar gang. Menuju jalan raya. Tepatnya di pemberhentian bus. Meski rutenya sangat pendek, perjalanan itu (dulu) selalu membuat saya waswas dan kadang kecewa. Langkah kaki sudah dipercepat, tetap saja sering tertinggal bus. Bus melaju di depan mata. Tak kuasa untuk mengejar. Hasilnya: kecewa dan jadi lebih capek.
Saya tak ingin berlarut-larut dengan kedua perasaan itu: waswas dan kecewa. Maka, saya berusaha mengatur pikiran dan hati. Berusaha menerima apa pun yang akan saya dapatkan. Termasuk Jumat (21/08/2025) pagi ini. Saya tertinggal bus. Seharusnya, saya sudah siap di halte sebelum pukul 06.00. Biasanya bus tiba di halte pada jam tersebut. Konsekuensinya, saya mesti menunggu bus berikutnya. Biasanya 5—10 menit kemudian.
Bersyukur, pukul 06.19 saya sudah tiba di Sekolah. Setiap Jumat, saya terjadwal piket penyambutan. Masih ada waktu sekitar 11 menit menuju waktu penyambutan.
Aqilaa menyambut saya di pintu. Ia mengulurkan tangan kanannya. Mengajak saya salim. Saya sambut uluran tangannya sambil mengucapkan salam. Aqilaa menjawab salam saya dengan lirih. Namun, suaranya masih dapat saya dengar dengan jelas.
“Salat, yuk!” ajak saya.
Saya tidak menanyakan apakah Aqilaa sudah berwudu atau belum. Beberapa kali (sebelumnya) sempat saya tanyakan dan Aqilaa menjawab sudah. Saya pun tidak menjelaskan salat yang hendak kami kerjakan. Aqilaa sudah tahu. Ia sering melaksanakannya dengan saya di ruangan yang sama.
“Mbak Aqilaa gelar sajadahnya, ya,” pinta saya.
Saya menutup jendela yang terletak di sisi barat ruangan. Gorden berwarna cokelat tua menggantung di jendela itu. Saya tarik tirai tersebut untuk menutup jendela. Di balik ruangan, terdapat area parkir. Pengabdi SDIH, SDIH 02, dan LPIH memarkirkan sepeda motor mereka di sana. Saya tidak nyaman jika salat dengan kondisi jendela tidak tertutup tirai.
Kami melaksanaan salat Duha. Meski bersama, salat kami tidak berjemaah. Sebelumnya, saya mendapat data bahwa Aqilaa sudah lulus tes rukun salat. Saya mantap memberinya kepercayaan.
“Bu Wiwik baca doa, Mbak Aqilaa aminkan, ya?” pinta saya seusai salat.
Aqilaa mengangguk.
Tak berselang lama, lagu pagi mulai terdengar. Pertanda waktu piket penyambutan dimulai. Saya bergegas melipat mukena dan sajadah. Aqilaa pamit menuju kelasnya.
***
“Pagi ini, Mutiara datang terlambat. Ia menyesal karena tidak sempat melaksanakan salat Duha 2 rakaat.”
Begitu isi pesan yang dikirim Bu Puput di grup Telegram “Daily Activity Kelas 2”. Bu Puput mengirimkan pesan itu pada pukul 07.11. Saya baru membukanya sekitar pukul 5 sore. Saya pun teringat akan Aqilaa. Segera saya ketik di bawah chat Bu Puput.
“Pagi ini, Aqilaa kembali melaksanakan salat Duha sebelum bel.”
Selain hari Jumat itu, selama tiga hari berturut-turut sebelumnya, Aqilaa juga istikamah melaksanakan salat Duha sebelum bel masuk. Wali kelasnya mencatatnya di grup yang sama. Bahkan, Bu Yunita menjelaskan bahwa tak hanya Aqilaa, tetapi Kirana juga turut serta melakukan hal baik tersebut. Tak ingin rugi, Mutiara juga meneladan Aqilaa. Bahkan, kebaikan itu sudah dilakukan Aqilaa sejak ia masih kelas 1.
Baca juga: Guru: Apa Profesinya?
Saya makin kagum dengan resiliensi Aqilaa. Betapa tidak? Demi bisa menunaikan salat Duha sebelum bel, Aqilaa mesti berangkat lebih awal. Ia juga harus memastikan diri dalam keadaan berwudu. Selain itu, Aqilaa pun rela menangguhkan keinginannya yang lain.
Sebenarnya, salat Duha sudah terjadwal setiap hari. Tujuannya untuk pembimbingan dan praktik fikih salat. Apa yang Aqilaa, Mutiara, dan Kirana teladankan membuat saya bertanya-tanya: bagaimana cara Aqilaa menularkan kebaikan itu? Setidaknya, salah satunya sudah terjawab: konsistensi. Dan Aqilaa telah membuktikannya.
Ah, sungguh indah Allah menuliskan cerita saya hari itu. Berkat tertinggal bus, saya bertemu Aqilaa di waktu yang tepat. (A2)
