Selasa, 27 Mei 2025
Cuaca pagi ini sedikit mendung. Tapi itu tak menyurutkan semangat saya untuk pergi ke sekolah. Bagaimana bisa? Satu hari saja tak melihat keunikan anak-anak rasanya sudah membuat hati rindu.
Pukul 06.09 saya memulai perjalanan. Tepat pukul 06.22 saya tiba di parkiran sekolah. Masih sepi, hanya beberapa motor yang terparkir. Ah, berarti saya termasuk yang datang lebih awal hari ini.
Saat melangkah masuk ke lobi, saya disambut oleh Ridho dan Fillio—dua murid kelas 3—yang masih mengenakan kaus dan tampak berkeringat. Saya tersenyum, menebak-nebak apa yang baru saja mereka lakukan.
“Habis lari dari rumah, ya?” tanya saya.
“He-he, iya, Bu,” jawab mereka sambil menyeringai.
“Masyaallah, keren sekali. Habis ini jangan lupa mandi, ya.”
“Iya, Bu.”
Pagi-pagi saya sudah disambut dua pemuda cilik yang penuh semangat berolahraga sebelum sekolah. Saya jadi ikut tertular semangat mereka. Tak mau kalah, saya pun segera menuju ruang kelas 2.
Tak lama, Icha datang dan menyapa sambil menyalami saya.
“Bu, saya piket hari ini. Tapi piketnya agak nanti saja, ya?”
“Iya, gak apa-apa. Jangan lupa, ya, Cha.”
“Oke, Bu!”
***
Jam pelajaran pun dimulai. Hari ini saya memberikan soal latihan penjumlahan. Tapi tidak seperti biasanya, kali ini saya tidak membagikan kertas. Saya menuliskan soal langsung di papan tulis, lalu anak-anak menyalin dan mengerjakannya di buku masing-masing.
Metode ini jarang saya pakai karena beberapa murid masih kurang teliti. Tapi justru itu alasannya: saya ingin melatih ketelitian mereka, baik saat menyalin maupun mengerjakan soal.
Biasanya saya hanya memberi 10 soal. Tapi hari ini? Saya tulis 20 soal sekaligus.
“Bu, sampai nomor berapa?” tanya beberapa murid, tak sabar.
“Tunggu sebentar, ya. Bu Yunita selesaikan menulis soal terlebih dahulu,” jawab saya sambil terus menulis.
Saya sengaja tak langsung menjawab, supaya mereka belajar bersabar.
Beberapa menit kemudian, selesai sudah saya menuliskan soal-soalnya.
“Bu, … banyak sekali soalnya!” keluh sebagian murid.
“Gak apa-apa. Soalnya gampang, kok,” timpal yang lain.
“Ini latihan untuk mengerjakan soal asesmen. Saat asesmen bisa sampai 30 soal, malah,” ucap saya.
“Oh, iya, Bu?” Mereka pun terdiam sejenak, mencerna kenyataan itu.
Beberapa menit berlalu.
“Bu, saya sudah selesai!” lapor Fathir.
“Tunggu teman-teman yang lain dulu, ya,” jawab saya sambil tersenyum penuh rencana.
Saya tidak langsung mengoreksi jawaban mereka. Saya sudah punya ide lain.
Keesokan harinya, saat pelajaran Bahasa Indonesia, saya bermaksud untuk menggantinya dengan pelajaran Matematika. Saya membagikan buku tulis kepada tiap murid. Tapi bukan buku milik mereka—melainkan milik teman sekelompoknya. Tugas mereka: mencocokkan jawaban di buku itu dengan kunci jawaban yang tertuliskan di papan tulis. Saya ingin melatih ketelitian mereka. Selain itu, cara ini juga meringankan pekerjaan saya. Dan benar saja, waktu yang dibutuhkan jauh lebih singkat dibanding saya yang mengoreksi satu per satu.
Alhamdulillah, ide ini muncul di saat yang tepat. Saat saya hampir kehabisan inovasi untuk mengajar. Sesederhana itu, dengan melibatkan murid dalam pembelajaran, pembelajaran akan lebih mengena.
Terima kasih, Murid-Murid. Kalian terus bertumbuh menjadi pribadi yang lebih dewasa dan luar biasa. Saya belajar banyak dari kalian setiap hari!
