“Bu, enggak habis!” lapor seorang anak dengan nada merengek yang mengejutkan saya.
Saya menoleh. Ternyata Fatih, salah satu anak kelas 1. Fatih sedang memegang potongan buah di tangannya. Wajahnya tampak meringis. Rupanya rasa buah itu tidak sesuai harapannya. Saya tersenyum memahami.
“Ya, udah. Dibuang aja, gak pa-pa,” saran saya.
“Oke, Bu,” jawab Fatih. Ia berlalu meninggalkan kelas dan menuju tempat sampah. Saya pun melanjutkan mengamati anak-anak lainnya yang sedang makan.
Namun, belum ada satu menit. Fatih kembali lagi dan berkata, “Bu, makanannya, kan, enggak boleh dibuang? Nanti Allah gak suka.”
Pertanyaannya yang bernada protes itu membuat saya kaget. Tertegun.
“Astagfirullah,” batin saya tercengang. Bahkan saya malu. Bagaimana tidak. Di usia sekecil itu, Fatih bisa mengingatkan saya dengan cara seperti itu dan mengena.
Saya pun menarik napas. Mencoba memutar otak. Mencari jawaban logis yang dapat dipahami Fatih dengan mudah.
“O, iya, ya. Maafin Bu Guru, ya, Fatih,” ucap saya, sembari membungkuk agar sejajar dengan wajah Fatih. “Begini aja. Taruh makanannya di tempat sampah. Terus Fatih bilang sama Allah, ’Ya Allah, Fatih bersedekah sama belatung’,” terang saya.
“Belatung itu apa, Bu?” tanya Fatih sembari mengernyitkan dahi.
“Belatung itu hewan kecil yang suka makan sisa-sisa makanan,” jawab saya sembari tersenyum.
“Ooo. Oke, Bu.”
Fatih berlalu dengan wajah yang semringah. Tapi, tak lama kemudian, ia kembali menghampiri saya.
“Bu … Tadi bilangnya gimana? Fatih lupa. He-he.”
Saya ikut tertawa kecil. Lalu mengulang kalimat tadi. Fatih mengangguk-ngangguk paham. Ia tampak serius merapal kalimat itu. Kemudian berlalu meninggalkan kelas.
Tak lama, Fatih masuk kembali ke dalam kelas. Saya menatap punggung kecilnya ketika ia kembali bergabung dengan teman-temannya. Wajahnya tampak berseri-seri. Seperti seseorang yang baru saja berhasil melakukan sesuatu sesuai kehendak hatinya. Terima kasih, Fatih, sudah mengingatkan Bu Guru: sekecil apa pun perbuatan, jika disertai dengan niat bisa menjadi nilai ibadah.
