Saya ingin ikut. Sangat ingin. Masalahnya, kondisi tubuh tidak memungkinkan. Apa boleh buat? Saya tak punya pilihan lain.

Bismillah, saya pasrahkan ke Bu Wiwik. Untuk memastikan Bu Layla dan teman-teman menjalankan tugasnya. Membersamai murid kelas 1, 2, dan 3 dalam kegiatan Pesantren Ramadan.

Pesantren Ramadan kali ini ada yang berbeda dari tahun sebelumnya. Kali ini ada acara sahur bersama. Hanya untuk murid kelas 3. Artinya, murid kelas 3 menginap di Sekolah. Adapun murid kelas 1 dan 2 pulang pukul 20.30. Usai jemaah Isya’ dan Tarawih.

Ini kali pertama Sekolah menyelenggarakan kegiatan menginap. Pun bagi murid kelas 3, ini kali pertama mereka menginap di Sekolah. Itulah salah satu sebabnya, saya sangat ingin ikut. Namun, bagaimana lagi. Ya, sudahlah. Saya juga harus memperbanyak latihan memberi kepercayaan kepada teman-teman.

Ya, saya memang deg-degan. Saya berkali-kali ingin menanyakan update kegiatan. Namun, alhamdulillah, saya berhasil menahan diri untuk tidak bertanya kepada teman-teman. Hingga Bu Wiwik mengabari saya, kegiatan berjalan lancar. Alhamdulillah.

Murid-murid terjadwal pulang pukul 06.00 pagi. Di hari kedua, Sabtu, 15 Maret 2025. Usai kegiatan, tepatnya pukul 08.30, Bu Wiwik kirim chat. Ternyata pesan terusan dari Bu Nila—mama Ridho, kelas 3. Begini isinya.

Matur nuwun sanget, Bu Wiwik. Sudah membersamai anak-anak sehari yang bikin speechless. Meleset dari prasangka para mama. ‘Di rumah begini, apa ya bisa di Sekolah?’ Terbukti, anak-anak malah jadi lebih mandiri di Sekolah.”

Ternyata sejumlah wali murid juga sempat khawatir. He-he, saya tidak sendirian. Dan faktanya, anak-anak justru menunjukkan perilaku yang melebihi ekspektasi saya dan para wali murid.

Terbayang oleh saya saat bermusyawarah dengan teman-teman guru. Saya tampak kurang mantap dan terlihat sangat ragu. Sebaliknya, teman-teman justru menunjukkan kemantapan mereka.

Sebetulnya saya merasa teman-teman belum berhasil meyakinkan saya. Artinya, saya dalam posisi 60% tidak setuju. Namun, saya kebetulan ingat salah satu pesan dari Habib Shaleh. Saat kami sowan Habib Shaleh. Beliau menyarankan, agar murid-murid sering diajak mabit.

“Mulai diajak mabit kelas berapa, sebaiknya?” tanya saya saat itu.

“Ya, sekitar usia 10 tahun,” jawab Habib Shaleh.

Saya bisa menangkap jawaban beliau. Saya memaknainya, tak ada batasan pasti di kelas atau usia berapa. Justru yang perlu diperhatikan tingkat kesiapan anak. Bagaimana mengukurnya. Itu domain guru mereka.

Untung saya ingat pesan beliau saat musyawarah itu. Jika gurunya mantap, tidak ada alasan bagi saya untuk menolaknya.

Alhamdulillah, murid dan guru kompak: menunjukkan tanggung jawab mereka. Itu proses yang luar biasa. Saya sangat mengapresiasinya. Guru dan murid, sama-sama hebatnya. Ups, ada yang lebih hebat lagi: wali murid. Tak hanya sekadar dukungan dan restu, wali murid bahkan telah mendidik dan membekali anak-anak sejak dalam kandungan. Terima kasih, Bu Nila dan para wali murid lainnya. (A1)

Baca juga: Teladan Orang Tua

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code