Pukul 08.15 Bu Amik sudah berada di depan kelas 2. Pagi itu jadwal mengaji untuk kelas 2. Tiba-tiba pintu terbuka dari dalam, muncul Bu Shoffa dari belakang pintu.

Ngapunten, Bu Amik, istirahatnya ditambah 5 menit lagi. Anak-anak kersane minum dulu,” kata Bu shoffa dengan lembut.

Nggih, Bu Shoffa. Nggak pa-pa,” kata Bu Amik.

Beberapa menit kemudian Bu Amik masuk kelas. Meski ada penambahan waktu istirahat, meja untuk mengaji kelompok Bu Amik telah tertata rapi dengan formasi seperti biasa. “Masyaallah …. Anak-Anak telah terbangun kebiasaan baiknya, yaitu menyiapkan yang dibutuhkan saat mengaji,” gumam Bu Amik dalam hati.

Anak-anak yang mengaji dengan Ustaz Adhit, Ustaz Aruf, dan Ustazah Layla keluar dengan membawa buku jilid. Tempat mengaji mereka masing-masing di musala, ruang media, dan kantor tata usaha. Sedangkan yang di ruang kelas 2 adalah  kelompok ngajinya Bu Amik.  Kelompok ini terdiri dari Sabrina, Hasna, Renda, dan Rayya.

Kelompok ngaji ini sudah seperti keluarga. Saling mengingatkan di antara mereka, sering dilakukan. Jika salah satu kurang semangat, yang lain menyemangati. Tidak jarang ketika temannya kurang lebar membuka mulut saat berdoa atau murajaah, yang lain memberi isyarat dengan jari untuk membuka mulut. Bahkan sangat sering dilakukan, yang sudah bisa mengajari halaman yang di bawahnya.

SOP pembelajaran BAQ, setelah murajaah surah pendek dan menambah hafalan adalah membaca peraga. Namun, sebelumnya anak-anak diberi kesempatan untuk minum terlebih dahulu.

Selesai minum terlihat Sabrina dan Hasna bersama-sama mengangkat peraga. Peraga mengaji tiangnya dari besi sehingga kalau diangkat sendiri cukup berat. Selain itu, yang terpasang di besi adalah peraga jilid 3 dan 4, jadi lumayan berat. Mereka berinisistif mengangkat sekaligus menata di tempat seperti biasanya.

“Kamu yang sebelah sini,” kata Sabrina.

“Tanganku di bawah tanganmu, ya, Sab,” timpal Hasna.

“Iya. Ayuk! Kita hitung, ya. Satu … dua … tiga…,” aba-aba Sabrina.

“Hee, … berhasil!” seru mereka.

Wajah mereka tampak puas berhasil mengangkat peraga.

 “Terima kasih Mbak Sabrina dan Mbak Hasna, sudah membantu Bu Guru menyiapkan alat peraga,” kata Bu Guru.

“Sama-sama,” jawab mereka hampir serempak.

Saat Rayya mendapat giliran mengaji, Bu Guru meminta yang lain murajaah halamnnya atau belajar halaman berikutnya. Hasna dan Sabrina tampak bergeser duduknya. Mereka menepi. Tetapi masih berjejer.

“Has, kamu halaman berapa?” tanya Sabrina.

Bentar,” jawab Hasna sambil membuka buku jilidnya. “Halaman 24, Sab.”

“Sini, aku ajari,” kata Sabrina.

Mereka duduk berebelahan di bawah peraga. Hasna di sebelah kanan Sabrina. Tampak Sabrina menunjuk tulisan yang ada di halaman buku. Hasna memperhatikan dengan baik.

Begitulah mereka. Saling membantu, saling bekerja sama. Tidak jarang mereka saling bercanda, akrab sekali. Mereka memang dua orang sahabat seperti yang biasa disebut bestie, di zaman now.

Bagikan:

By Suparmi

3 thoughts on “Karib”
  1. Alhamdullillah terima kasih Ibu Bapak/Ibu Guru dan Ustadz Ustadzah yang mengabadikan cerita keseharian anak-anak. Sederhana namun penuh makna, memberikan pembelajaran dan menjadi kenangan tak terlupakan.

    Membiasakan adab yang baik, memberikan inspirasi, saling menghargai, saling menguatkan, saling menyemangati

    Terima kasih juga mbak Sabrina yang selalu membuat Hasna selalu semangat

    1. Maasyaallah, terima kasih kembali, Bunda atas perhatian dan motivasinya.
      Mohon doa dan dukungannya selalu.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *