“Dua … tiga …,” hitung Bu Layla ketika memberikan instruksi kepada anak-anak untuk memulai murajaah secara bersama-sama.

Nadia, Kalynn, Adia, Itaf, dan Ridho. Kelimanya serentak bersuara. Namun, dari kelimanya, ada dua anak yang level suaranya cukup lemah. Bu Layla terpaksa meminta mereka untuk mengulang bacaannya. Keduanya ialah Kalynn dan Adia. Bacaan mereka sangat teliti dan cukup jelas makhraj yang keluar dari bibir mungilnya. Sayang, suara mereka terlalu lembut dan cenderung lemah. Namun, motivasi keduanya sangat kuat. Itu berkat pengaruh dari Nadia, Itaf, dan Ridho, yang stabil baik dari kekuatan bacaan maupun suaranya. Yang tidak kalah penting, dukungan orang tua ketika di rumah.

Laporan setiap capaian mengaji anak-anak dituangkan di buku prestasi oleh Bapak/Ibu Guru. Mencakup catatan apresiasi, perkembangan, serta hal yang perlu ditingkatkan maupun diperbaiki. Buku prestasi berfungsi sebagai buku komunikasi antara Bapak/Ibu Guru dan orang tua siswa dalam hal mengaji sehingga timbul sinergi antara ketiganya: Guru, orang tua, dan siswa. Begitu juga bentuk laporan akademik maupun karakter, disampaikan pula oleh Bapak/Ibu Guru baik secara lisan maupun tulisan.

Imbauan untuk meningkatkan suara ketika mengaji sudah sekian kali dituangkan di buku prestasi Kalynn maupun Adia. Setidaknya, keduanya mampu berproses. Terbukti, hari berikutnya Kalynn dan Adia memperbaiki kekurangan yang menjadi catatan Bu Layla. Perlahan-lahan ada perubahan.

Yap, Kalynn membuktikan kesungguhannya untuk berubah. Dari hari ke hari ada perkembangan membaik. Baik bacaan dan hafalan garibnya, bacaan Al-Qur’annya, dan hafalan juz 30-nya. Suaranya makin stabil.

“Bagaimana, Teman-Teman, apakah suara Kalynn sudah mulai terdengar jelas?” tanya Bu Layla.

“Sudah, Ustazah. Suara Kalynn sudah mulai terdengar jelas,” jawab Itaf, yang duduk berjarak satu siswa di kiri Kalynn.

“Masyaallah, … terima kasih, Kalynn sudah terus berusaha. Semoga istikamah, ya, Nak,” puji Bu Layla.

Berikutnya giliran Adia untuk membaca garib maupun Al-Qur’an. Suaranya masih terdengar pelan sehingga Bu Layla harus mendekatkan telinganya ke Adia, yang duduk tepat di kanan Bu Layla.

“Bagaimana, Teman-Teman, apakah suara Adia sudah terdengar jelas?” tanya Bu Layla.

“Sudah, Ustazah,” jawab Ridho, yang kebetulan duduknya di sebelah kanan Adia.

“Belum, Ustazah. Suara Adia belum terdengar sampai sini,” jawab Itaf, yang duduk berjarak satu siswa dari Adia.

Dengan cara di atas, Bu Layla menganggap cukup untuk Kalynn dan Adia mendapatkan pengakuan, baik dari Bu Layla maupun teman-temannya. Terbukti, pengakuan tersebut mampu menjadi motivasi bagi siswa, khususnya Kalynn dan Adia.

“Adia, sebaiknya Adia menambah sedikit volume suara Adia, ya,” pinta Bu Layla.

“Adia, coba ikuti Bu Layla. Aaaa … Aaaa …, tambah lagi, satu lagi, satu lagi.”

“Yang lain, coba ikuti Bu Layla. Aaaa … Aaaa …, tambah lagi, satu lagi, satu lagi.”

Bu Layla meminta Adia membaca Al-Qur’an lagi. Setelah sekian kali Bu Layla memintanya untuk cek suara, Adia memenuhi permintaan Bu Layla. Ya, suara Adia tak kalah lantang dari suara Kalynn, yang lebih dulu mampu mengambil pelajaran atas catatan Bu Layla di buku prestasi.

Perihal suara. Suara lembut Kalynn dan Adia tidak menjadi penghambat mereka dalam meningkatkan kemampuan membaca Al-Qur’an. Ternyata keduanya mampu memosisikan diri. Kapan bersuara yang tepat untuk berbicara dengan level yang telah ditentukan. Kapan ketika bersuara yang tepat levelnya ketika membaca Al-Qur’an sehingga ke-tahqiq-an masing-masing huruf semakin tampak.

Selamat berproses, Kalynn! Selamat berproses, Adia! Berenanglah kalian dengan manisnya proses yang kalian selami. Karena setiap proses kalian adalah nikmat.

Bagikan:
One thought on “Tak Mau Kalah”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *