Bel istirahat berbunyi. Anak-anak diperbolehkan melakukan aktivitas sesuai kebutuhannya. Karena masih di bulan Ramadan, anak-anak memanfaatkan waktunya untuk bermain di lapangan, membaca buku, dan bermain tebak-tebakan di kelas.

Naren, misalnya. Di waktu istirahat, dia banyak menghabiskan waktunya di kelas untuk membaca buku. Gadis manis dan lembut ini tidak banyak berkomunikasi secara verbal dengan teman maupun Bapak/Ibu Guru. Namun, gestur tubuhnya sangat khas dan mampu mewakili ungkapan yang dikehendaki. Perkembangan kognisi maupun afeksinya sangat signifikan dibandingkan dengan awal masuk kelas 1. Di kelas 2 ini, Naren cukup lihai dalam mengondisikan diri. Dari sisi kemampuan kognisi dan pengetahuan, dia me-refill dengan membaca buku.

Sebagaimana disampaikan oleh Bu Mery, mamanya Naren. Sejak kelas 1, dia rutin belajar mengaji, Bahasa Inggris, dan mata pelajaran lain di rumah. Tidak hanya itu, Naren juga tampak lebih percaya diri. Ikhtiar tersebut tentunya membuahkan hasil. Terbukti, Bu Wiwik sempat bercerita ke Bu Layla perihal perkembangan baik Naren dalam pelajaran Bahasa Inggris. Sama halnya dalam mengaji, capaian Naren saat ini cukup membahagiakan. Di Al-Qur’an awal ini, Naren tampak terampil dan teliti. Selain itu, di kegiatan peringatan Maulud Nabi, tanpa diminta, Naren berani membacakan selawat menggunakan mikrofon di depan teman-teman dan Bapak/Ibu Guru. Masyaallah, …. Sesuatu yang menakjubkan!

Perihal kemandirian, kala itu Naren masih perlu ditemani ketika ke toilet, dan masih banyak hal yang membuat Naren kurang percaya diri. Namun, di kelas 2 ini kepercayaan dirinya meningkat. Sekarang dia tidak lagi harus ditemani oleh Ibu Guru ataupun teman. Justru Naren sekarang yang menemani.

Tidak hanya itu, ketika tahfiz pagi, di kelas 1 Naren dengan jujur sering mengangkat tangan ketika ditanya Bapak/Ibu Guru tentang salat Subuh, pertanda dia tidak melaksanakannya. Namun, berbeda halnya ketika di kelas 2. Sangat jarang bahkan cenderung tidak bagi Naren mengangkat tangan ketika ada pertanyaan tentang salat Subuhnya. Artinya, Naren sudah melaksanakan salat Subuh.

Yap, Naren berproses. Naren sedang mengimplementasikan sebuah pendidikan. Menuai hasil adalah bonus, hadiah dari apa yang dijalani atas prosesnya itu.

Sebagaimana hadis yang artinya:

“Barang siapa yang hari ini lebih baik dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang beruntung, (dan) barang siapa yang hari ini sama dengan hari kemarin, dialah tergolong orang yang merugi, dan barang siapa yang hari ini lebih buruk dari hari kemarin, dialah tergolong orang yang celaka.” (H.R. Al-Hakim).

Semoga Naren dan kita semua termasuk ke dalam golongan orang-orang yang beruntung dan diakui keberuntungannya oleh Allah Swt. dan Rasul-Nya. Amin.

Bagikan:
One thought on “Orang yang Beruntung”
  1. Alhamdulillah, Naren hebat. Semoga menjadi contoh baik untuk teman-teman dan lingkungan sekitarnya.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *