Hari pertama masuk sekolah setelah libur panjang. Icha hadir paling awal. Ia agak bingung mendapati kondisi kelasnya. Kebingungan itu tampak dari ekspresi wajah dan gesturnya. Sejenak, gadis kecil itu termangu di ambang pintu. Pandangan bola matanya menyapu seluruh ruangan. Ia melepas sepatunya, lalu mengambil sepasang sepatunya tanpa melihat. Kedua matanya masih menatap seisi kelas.

Wajar saja Icha bingung. Hari terakhir masuk sebelum libur, ruang kelas 1 terasa lapang. Semua kursi meja murid dikeluarkan. Sebagai gantinya, digelarlah karpet memenuhi seluruh lantai. Ruang kelas di-setting lesehan. Kini, meja kursi murid-murid kembali tertata di dalam kelas. Ditata dengan basis kelompok. Satu kelompok terdiri atas empat murid.

Bu Wiwik menyadari kebingungan muridnya. Icha salim kepada Bu Eva dan Bu Wiwik.

“Mbak Icha, buku dan bekalnya ditaruh di laci meja, ya. Minumnya diletakkan di meja biru dekat galon. Tas kosong dimasukkan ke dalam loker,” jelas Bu Wiwik.

Itulah yang sering dilakukan Bu Wiwik saat memberi instruksi. Memilih kalimat lugas dan sependek mungkin. Pembaca pasti tahu tujuannya.

Bu Wiwik memastikan muridnya itu melaksanakan instruksi dengan benar. Keenan tiba setelah Icha. Bu Wiwik meminta tolong kepada Icha untuk membantu Keenan menata isi tasnya. Begitu seterusnya hingga semua murid menyelesaikan tugas pertama mereka itu.

Hari ini, doa dan tahfiz pagi dilakukan di musala Sekolah. Kelas 1 dan 2, serta seluruh guru turut serta. Dilanjutkan nasihat dan pesan dari Kepala Sekolah, Pak Aruf, Bu Layla, dan Pak Adhit. Kegiatan dilanjutkan dengan halalbihalal. Seusai halalbihalal, murid-murid dipersilakan masuk ke kelas masing-masing.

Bu Wiwik menceritakan pengalaman libur lebarannya. Inara tak mau ketinggalan. Ia mengangkat tangan saat Bu Wiwik memberi kesempatan.

“Asalamualaikum, Teman-Teman. Waktu Idulfitri, saya bangun jam 5. Setelah itu bersiap-siap untuk salat Id. Saya salat Id di lapangan Gaharu,” jelas Inara mengawali kisahnya.

Elora mengangkat tangan. Setelah Bu Wiwik memberi kode, Elora menyampaikan, “Saya juga salat Id di lapangan Gaharu. Saya bertemu Inara dan Kak Naren.”

“Saya juga, Bu!” sergap Vano.

“Alhamdulillah, ternyata Mbak Inara, Elora, Naren, dan Mas Vano bertetangga, ya,” sela Bu Wiwik.

Inara melanjutkan kisahnya dengan percaya diri.

Kesempatan berikutnya diambil oleh Salma. Gadis kecil nan periang itu bercerita, ia silaturahmi ke rumah eyangnya. Teman-temannya memberi apresiasi dengan tepuk tangan.

Bel berbunyi. Murid-murid menyantap bekal mereka.

“Saya tidak membawa bekal, Bu,” lapor Elora.

“Oh, begitu. Teman-Teman, yang membawa bekal lebih boleh berbagi dengan teman lainnya, ya,” pinta Bu Wiwik.

Mika telah menyelesaikan makannya. Ia membawa lepak birunya keluar. Mika menuju wastafel di depan kelas. Ia mendapati spons yang hendak ia pakai kotor terkena air hujan.

“Sebentar, Mas. Bu Wiwik ambilkan spons yang baru.”

Setelah menerima spons baru, Mika segera mencuci tempat bekalnya. Ia lantas membilas dan meniriskannya di keranjang yang disediakan. Bu Wiwik mengamati Mika dari jauh. Ia bersyukur, muridnya masih istikamah melanjutkan kebiasaan baik itu. Ini prestasi yang luar biasa!

Bu Wiwik juga berbangga atas prestasi Mika. Betapa tidak? Hari ini adalah hari pertama setelah libur panjang. Biasanya, murid-murid butuh waktu dan pengingat untuk melanjutkan kebiasaan-kebiasaan di kelas. Mika, tanpa perlu banyak waktu dan diingatkan, telah membuktikan keistikamahannya.

Rasa bangga Bu Wiwik kian membuncah tatkala mengingat fakta bahwa selama sebulan penuh sebelumnya, murid-murid sama sekali tidak mencuci tempat bekal di Sekolah karena puasa. Terima kasih, Mika. Kesungguhan dan ketangguhanmu patut menjadi teladan bagi teman-teman dan gurumu. (A2)

Bagikan:
One thought on “Lepak Biru”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *