Jumat, 24 November 2023. Tidak seperti hari Jumat pada biasanya. Jumat ini lebih berkah karena ada kegiatan khataman Al-Qur’an oleh LPIH di SDIH 02. Tepatnya di musala SDIH 02. Sebenarnya khataman serupa sudah beberapa kali dilakukan di SDIH 02. Tetapi kali ini, anak-anak kelas 1 dan 2 diikutsertakan.

Menjelang pukul 07.00, anak-anak sudah terlihat mempersiapkan diri. Mereka berbaris di depan kelas dengan membawa botol minumnya. Guru kelas mengawal mereka. Ustaz Adhit dan Ustaz Aruf lebih dahulu menuju musala, mempersiapkan tempat khataman. Tidak berselang lama, anak-anak berjalan dengan berbaris rapi memasuki musala. Anak perempuan duduk di barisan belakang. Sedangkan anak laki-laki di barisan depan. Tidak berselang lama, Ustaz Aris dan Ustaz Ahsan dari QLC Hidayatullah datang. Ustaz Eko, Direktur LPIH, beserta jajaran pimpinan dan staf LPIH menyusul berdatangan. Khataman Al-Qur’an pun dimulai.

Anak-anak antusias mengikuti khataman Al-Qur’an itu. Terdengar mereka ikut membaca surah At-Takasur sampai An-Nas, serta surah Al-Baqarah ayat 1–5. Menjelang doa khataman Al-Qur’an dibacakan, anak-anak membagikan lembaran teks asmaulhusna dengan cara estafet.

Doa khataman Al-Qur’an telah dibacakan. Tiba-tiba ada yang memanggil dari arah belakang. Dengan suara yang pelan, “Ustaz Aruf.”

Ustaz Aruf menoleh. Ternyata Qaleed.

“Ustaz, izin mau ke belakang, ya,” pinta Qaleed.

“Oh, iya, silakan,” jawab Ustaz Aruf.

Kemudian Qaleed pun berjalan ke luar musala dengan membungkuk saat melewati Bapak dan Ibu Guru.

Ustaz Aruf menoleh ke belakang. Melirik tempat duduk Qaleed. Ada yang membuat Ustaz Aruf takjub. Masyaallah. Qaleed menjadikan botol minumnya sebagai tatakan lembaran asmaulhusna yang ditinggalkannya.

Bukan kertas selembar itu yang dijaga Qaleed dari paparan debu lantai. Harga kertasnya sih tidak sampai menyamai nilai selembar uang dengan gambar apa pun. Akan tetapi, di kertas yang tak sebening kertas cek itu tertera nama-nama Allah. Keagungan Sang Pemilik asmaulhusna itulah yang dimuliakan Qaleed.

Anak kelas 2 itu begitu kuat menggenggam pesan bapak/ibu gurunya. Sebarang benda yang memuat tulisan nama Allah atau ayat Al-Qur’an tidak boleh ditaruh sembarangan. Qaleed menerima pesan itu dengan hatinya. Ia menyimpannya baik-baik di dalam ingatannya. Lalu ia mempraktikkannya dalam sikap dan perbuatan nyata.

Alangkah bahagianya Bapak/Ibu Guru kalau adab Qaleed itu menjadi adab teman-temannya juga. Tidak kalah membahagiakan jika Qaleed sendiri istikamah menjaga adab itu sepanjang hayatnya.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *