Kamis (4/1/2024), merupakan hari ketiga di semester genap. Setelah istirahat, murid-murid bersiap melaksanakan rangkaian kegiatan salat Duha. Kapten Inara memimpin niat wudu. Sebelum menuju ke tempat wudu, Bu Wiwik kembali mengingatkan murid-muridnya.

“Teman-Teman, ketika wudu, tidak perlu buru-buru. Saat menunggu giliran wudu, silakan bersikap yang wajar, tidak berlebihan. Ngobrol boleh. Namun, cukup level …?”

“Satu!” sergap murid-murid.

“Iya, betul. Lalu, setelah selesai doa sesudah wudu, pastikan diri kalian siap. Siap untuk menjaga diri. Yang belum siap, boleh menyiapkan diri dulu di luar kelas. Kalau sudah siap dan bersedia menahan diri, baru boleh masuk kelas. Sepakat?”

“Sepakaaat!”

“Bu Guru harap, kalian menjadi anak-anak yang beruntung. Hari ini harus lebih baik dari kemarin,” pungkas Bu Wiwik.

Kelompok pertama telah selesai berwudu. Ada Gibran, Shaqueena, Dea, Azza, Kinan, dan Keenan. Mereka berbaris dua lajur. Putra di kanan, putri di sebelah kiri. Kali ini, Azza yang memimpin doa. Setelah selesai berdoa, Azza dipersilakan berjalan terlebih dahulu menuju kelas. Murid-murid putri mengekor, diikuti para murid putra.

Bu Wiwik membiarkan mereka menuju kelas tanpa pengawasan guru. Tak lama kemudian, sayup-sayup terdengar lantunan asmaulhusna. Berdesir rasanya hati Bu Wiwik.

Kelompok kedua juga telah selesai berwudu. Begitu pula Vano yang hari itu dites wudunya oleh Pak Kambali. Ustaz Adhit—pembimbing Vano—menyusul. Bu Wiwik bergegas menuju kelas. Ustaz Adhit sigap menggantikan posisi Bu Wiwik.

Di kelas, pemandangan mengharukan tampak nyata. Murid-murid kelompok wudu pertama tadi dengan khusyuk melantunkan asmaulhusna. Mereka pun duduk dalam saf yang rapi. Bersyukur, Gibran dan kawan-kawannya dapat menjaga amanah dari guru-gurunya. Meski tidak diawasi, mereka dapat bertanggung jawab.

Kelompok wudu kedua tiba. Mengetuk pintu, ucap salam, dan berjalan membungkuk di depan guru adalah adab yang sehari sebelumnya dikuatkan kembali. Bersyukur (lagi), Allah mudahkan mereka untuk menerapkannya.

Mereka segera menyesuaikan diri dengan kelompok pertama. Setelah mengambil teks asmaulhusna, mereka duduk dan mengikuti bacaan yang terdengar. Demikian pula kelompok ketiga.

“Sikap salat!” komando Bu Wiwik setelah asmaulhusna selesai dibaca.

“Berdiri tegak. Menghadap kiblat. Pandangan lurus ke tempat sujud!”

Kalimat demi kalimat itu ditirukan oleh murid-murid. Disertai gerakan sesuai komando yang diucapkan.

“Salat sunah Duha dimulai!”

Bu Eva, Ustaz Adhit, dan Bu Wiwik mengambil posisi strategis agar leluasa melakukan pendampingan. Jika diperlukan, ketiganya njawil anggota tubuh murid yang kurang sesuai sikapnya. Hanya dengan sentuhan, murid sudah paham kesalahan mereka. Segera, murid yang dijawil itu akan memperbaiki sikapnya.

“Mas Gibran hebat!” seru Bu Wiwik memberikan afirmasi.

Gibran makin bersemangat.

“Saf pertama hebat!”

Saf dua hingga empat tak mau kalah. Mereka menunjukkan sikap terbaik mereka.

“Saf kedua juga hebat!”

“Anak putri hebat!”

“Asalamualaikum warahmatullah,” ucap murid-murid mengakhiri salat Duha.

“Anak-Anak, yang merasa haus boleh minum dulu. Setelah itu duduk kembali ke karpet sesuai kelompok,” pinta Bu Wiwik.

“Teman-Teman, alhamdulillah, Bu Wiwik, Bu Eva, dan Ustaz Adhit senang sekali. Hari ini kalian dapat menjaga diri. Insyaalah, kalian menjadi anak-anak yang beruntung,” jelas Bu Wiwik mengawali refleksi.

“Bapak/Ibu Guru tadi terkesan kepada beberapa anak yang patut dijadikan teladan. Ada tiga anak. Dan ketiganya layak mendapat bintang. Yang pertama: anak ini tadi mengawali membaca asmaulhusna. Ia menjadi pelopor kebaikan sehingga teman-temannya mengikuti. Anak ini juga sangat bersemangat dan menjaga diri ketika salat.”

“Gibran!” seru murid-murid.

“Betul sekali. Terima kasih, Mas Gibran, sudah menjadi pelopor kebaikan.”

Gibran tersipu.

“Bintang kedua dan ketiga diberikan kepada dua anak yang juga bisa menjaga diri dengan baik. Keduanya bersikap wajar saat menunggu waktu salat. Mereka juga khusyuk saat salat. Dari awal hingga akhir, keduanya melantunkan bacaan salat dengan baik. Mereka adalah Azza dan Keenan.”

Senyum semringah tampak di wajah Azza. Sementara itu, Keenan berusaha menyembunyikan senyumnya. Ia tersanjung, tapi malu.

“Mas Gibran, Mbak Azza, dan Mas Keenan, silakan ikut Bu Wiwik.”

Setelah menuliskan nama masing-masing, ketiganya menempelkan bintang di “rumah bintang”.

Bu Wiwik patut bersyukur. Apa yang diceritakan Bu Shoffa di sini masih istikamah dilakukan anak-anak. Tidak mudah untuk membiasakannya. Namun, jika sudah terbiasa, tidak mudah pula untuk digoyahkan.

Jalan menuju “terbiasa” itu butuh proses yang panjang, dan tak jarang terjal. Trial and error, refleksi, evaluasi, tindak lanjut, dan yang paling berat adalah konsistensi. Guru tak boleh lelah. Guru tan kêna léna. Satu gejala penyimpangan saja muncul, harus segera ditanggulangi. Tak boleh sedikit pun ada celah pembiaran.

Semoga Allah mudahkan.

Bagikan:
One thought on “Guru Tan Kena Lena”

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *