“Siap, … gerak!” aba-aba kapten dengan suara lantang.

Elora, hari itu ia menjadi kapten. Ia bersuara lantang penuh percaya diri. Teman-teman pun merasakan energi positifnya. Mengikuti kapten dengan suara semangat.

“Siap, … gerak!”

Setelah anak-anak siap, kapten menunjuk barisan paling rapi. Anak-anak salim dengan Bapak Ibu guru, kemudian menuju kelas dengan tenang. Tanpa diminta mereka langsung duduk menempatkan diri. Anak putri duduk di sebelah kanan, anak putra duduk di sebelah kiri. Kapten Elora pun memimpin doa. Mereka berdoa dengan khusyuk. Melihat kejadian itu, Bu Wiwik langsung mengapresiasi, “Alhamdulillah hari ini kapten kita suaranya lantang. Doanya juga sudah khusyuk, sudah lebih baik dari kemarin. Hari ini Bu Wiwik kasih nilai 90 untuk anak putri, anak putra Bu Wiwik kasih nilai 90.”

Yeay,” seru anak-anak serempak.

“Semoga besok bisa lebih baik, ya, dan Allah mudahkan anak-anak semua.”

“Aamiiin.”

Setelah berdoa, dilanjutkan tahfiz pagi bersama Ustaz Adhit kurang lebih selama 15 menit. Setelah itu, dilanjutkan BAQ dengan ustaz/ustazah masing-masing.

~~~

Bel berbunyi, tanda BAQ sudah selesai. Namun, kenyataannya ada kelompok yang belum selesai. Hal ini memicu suasana tidak kondusif di kelas. Sembari menunggu teman lainnya, Bu Wiwik mengajak anak-anak bermain tebak-tebakan kata per huruf. Kalau anak-anak bisa menebak, mereka yang menang. Begitupun sebaliknya. Jika anak-anak belum bisa menebak dengan tepat, Bu Wiwik yang menang.

“Saya adalah planet, huruf saya ada delapan. Siapakah saya?” umpan Bu Wiwik.

Anak-anak menebak dengan antusias. Mereka menyebut per huruf. Tetiba ada salah satu anak yang tahu, Gibran. Ia angkat tangan dan menyebutkan nama planet itu. Namun, Bu Wiwik tidak menggubrisnya. Karena perjanjiannya tebak huruf. Gibran pun tahu kenapa ia tidak dipilih Bu Wiwik. Dengan sigap, ia angkat tangan kembali. Setelah ditunjuk, ia menyebutkan hurufnya satu per satu. Dan akhirnya anak-anak menang.

“Bu Wiwik punya tebakan lagi, nih. Saya adalah rukun Islam, huruf saya ada delapan. Siapakah saya?” tanya Bu Wiwik.

Anak-anak kembali antusias. Satu per satu mereka mengangkat tangan untuk menebak huruf. Ketika sudah dipersilakan, baru menyebut hurufnya. Kala itu sudah tersusun s, a, h, a, a, t. Kurang dua huruf, untuk menyempurnakan kata tersebut. Mereka menebak, sampai tersisa satu kesempatan lagi. Kemudian ada yang angkat tangan, dan menjawab y disusul d. Dan sempurnalah huruf-huruf tersebut membentuk kata syahadat.

Yeay,” seru anak-anak girang.

“Yah, Bu Wiwik kalah lagi, tapi gak pa-pa. Kalah menang dalam perlombaan atau permainan gak pa-pa ya, Teman-Teman. Kalau kalah tidak perlu menangis,” nasihat Bu Wiwik.

“Bu Wiwik masih ada tebakan lagi, nih. Saya adalah makanan khas Indonesia. Huruf saya ada delapan. Siapakah saya?”

Anak-anak masih antusias untuk menjawab. Namun, kali ini berbeda. Mereka kesulitan untuk menebak. Tebakan per huruf juga belum bisa terangkai menjadi kata. Sampai akhirnya kesempatan menebak itu habis. Dan Bu Wiwik yang menang. Ternyata jawaban untuk makanan khas Indonesia itu adalah sate sapi. Usut punya usut, tebakan ini berkaitan dengan materi Bahasa Indonesia yang akan dipelajari, yaitu pengenalan suku kata berawal huruf-huruf s, p, dan t. Sebelum anak-anak menulis huruf s, p, dan t, Bu Wiwik bercerita tentang lomba 17 Agustus.

“Pada suatu hari, tanggal 17 Agustus 2023. Di suatu desa diadakan karnaval sepeda. Nah, mereka melewati sawah, dan di sawah mereka melihat sapi. Kemudian orang-orang yang ikut karnaval capek dan mereka beristirahat untuk makan soto dengan lauk tempe. Ternyata pemenang dalam karnaval sepeda mendapatkan pita. Setelah karnaval, tempat tersebut kotor dan mereka bahu-membahu membersihkan dengan sapu,” cerita Bu Wiwik sambil menggambar objek yang diceritakan: sepeda, sapi, soto, tempe, pita, dan sapu.

“Anak-Anak, kalian menulis ini dulu, ya,” perintah Bu Wiwik sambil memegang tumpukan kertas yang berisikan lembar kerja menebalkan tulisan sate sapi lalu menyalinnya.

“Kalau sudah selesai, baru boleh ambil yang ini,” lanjut Bu Wiwik sambil memegang secarik kertas yang berisikan gambar sepeda, sapi, dan lainnya.

Bu Wiwik pun menunjuk anak-anak yang tertib untuk diberi lembar kerja. Dengan tenang, mereka mengerjakan tugas. Tak butuh waktu lama, sekitar sepuluh menit anak-anak sudah selesai. Mereka menyerahkan tugasnya kepada Bu Wiwik untuk dikoreksi. Ajaib, dalam proses mendapatkan nilai, mereka mengantre dengan tenang. Sesekali bercanda dan berbicara, tapi sewajarnya. Kalau sudah mendapatkan nilai, mereka mendapat kertas yang berisikan gambar sepeda, sapi, dan lainnya. Sesuai janji Bu Wiwik.

Dalam proses belajar ini, membayangkan sebagai anak, saya merasakan senang sekali mempunyai guru seperti Bu Wiwik. Bagaimana tidak, Bu Wiwik mengemas pembelajaran sedemikian rupa, sehingga saya tidak merasakan kalau sedang belajar. Padahal dalam proses pembelajaran ini tanpa disadari Bu Wiwik juga membangun karakter anak-anak. Seperti, jika ingin mengungkapkan perasaannya harus mengangkat tangan terlebih dahulu, budaya antre, dan lainnya. Terima kasih, Bu Wiwik sudah memberikan pengalaman membuat pembelajaran yang menyenangkan. Semoga ada Bu Wiwik-Bu Wiwik lainnya yang bisa membuat anak-anak nyaman tanpa ada rasa keterpaksaan untuk belajar.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *