Lagu pagi menggema di seluruh penjuru sekolah. Murid-murid kelas 2 dan beberapa murid kelas 1 asyik bermain di lapangan depan sekolah. Sebagian besar murid kelas 1 sudah berbaris di selasar. Perilaku ini sudah membiasa sejak dua pekan belakangan. Hampir semua murid ingin menempati barisan pertama.

Barisan diatur berdasarkan jenis kelamin. Murid putra membentuk satu barisan memanjang ke belakang. Demikian pula dengan murid putri. Siapa yang siap lebih awal, akan menempati barisan paling depan. Rupanya posisi ini menjadi incaran bagi banyak murid. Mereka berlomba-lomba menjadi yang terdepan.

Pagi ini, Shaqueena datang ke sekolah paling awal. Disusul Rama. Sejak akhir Agustus, Shaqueena sudah tidak ikut mobil antar jemput lagi. Ia lebih memilih diantar “mbak-nya”. Sebab ingin datang ke sekolah lebih awal. Bahkan, sang bunda merasa bersyukur atas semangat putrinya. Tak hanya ingin menjadi yang pertama, Shaqueena juga bersemangat salat Subuh.

“Asalamualaikum, Bu Wiwik. Saya bersyukur Shaqueena sekolah di (SD Islam) Hidayatullah 02. Sekarang, ketika azan Subuh (berkumandang), Shaqueena langsung bangun tanpa drama lagi. Kalau berangkat jam 6 pagi dari rumah. Saya bilang, Kakak (Shaqueena) apa enggak kepagian? Dia jawab, Enggak, Kakak pengin datang pertama terus menyiram tanaman, baca buku, dan bisa main sebentar.”

Begitu penuturan bunda Shaqueena suatu pagi.

Bergetar rasanya hati Bu Wiwik membaca chat itu. Konsistensi dan kesabaran Ustaz Adhit berbuah manis. Setiap pagi sebelum tahfiz, beliau tak lupa menanyakan salat Subuh murid-murid. Beliau juga memotivasi dan mendoakan anak-anak agar Allah memudahkan mereka dalam melaksanakan salat lima waktu.

Pagi ini, ada sedikit keributan jelang “Mars Hidayatullah”. Lagu ini sebagai penanda murid-murid harus bersiap baris. Shaqueena dan Rama telah menempati urutan pertama barisan putri dan putra. Bahkan, sejak sekitar pukul 06.25, keduanya telah bersiap di posisi mereka. Oleh sebab ada hal lain, Rama terpaksa meninggalkan sejenak posisi barisnya. Saat kembali ke barisan, ia bersitegang dengan Gibran. Gibran menempati posisi Rama. Sebelumnya, Gibran berada di urutan kedua.

“Kamu kan tadi pergi!” sergah Gibran mempertahankan posisinya.

“Aku kan cuma sebentar! Ini tempatku!” seru Rama sembari mendesak Gibran.

Bu Wiwik sengaja membiarkan adu argumen itu. Beberapa anak mengerubungi Rama dan Gibran. Adu argumen masih berlangsung.

“Kamu (Rama) jangan di depan terus. Teman-Teman juga ingin di depan. Gantian, dong!”  seru Rara kepada Rama.

Rama bergeming. Ia tetap berusaha mempertahankan posisinya. Bersyukur, sesaat kemudian Gibran bersedia mengalah. Ia bersedia mundur ke urutan kedua.

Murid-murid kelas 1 berbaris di selasar depan kelas

Bu Wiwik beranjak dari kursinya. Ia lantas melihat ke arah Gibran sembari mengacungkan jempol.

“Mas Gibran hebat, sudah mau mengalah,” ucap Bu Wiwik agak berbisik sembari mendekati Gibran.

Gibran tersenyum.

Atas unjuk kekesatriaannya, Gibran dianugerahi sebuah bintang oleh Bu Wiwik. Senyum Gibran semakin mengembang.

Kejadian serupa berulang beberapa kali. Murid putra sering berebut posisi baris paling depan. Bu Wiwik dan Bu Eva bersepakat mengubah penunjukan anak yang masuk kelas terlebih dahulu sesudah baris. Biasanya, kapten menunjuk satu barisan—dari paling depan hingga paling belakang. Pagi ini, barisan putra ditunjuk satu per satu. Dari yang paling tertib.

Kok anak putri enggak satu-satu?” protes Fathir.

“Karena anak putri tidak rebutan,” jawab Bu Wiwik.

Hari-hari berikutnya, murid-murid putra masih saja berebut posisi terdepan. Akhirnya, Bu Wiwik dan Bu Eva bersepakat mengeluarkan “jurus” pemungkas mereka.

“Teman-Teman, akhir-akhir ini Bu Guru melihat kalian, khususnya anak putra, selalu berebut posisi baris paling depan. Sebelum “Mars Hidayatullah” berkumandang, Anak-Anak boleh bermain, baca buku, ngobrol, bahkan makan,” ucap Bu Wiwik mengawali refleksi.

“Manfaatkan waktu sela itu untuk melakukan hal-hal yang kalian sukai. Karena apa? Sebab, jika kalian kekurangan waktu bermain, nanti bisa-bisa saat belajar kalian malah bermain. Kalau berdiri terlalu lama untuk menunggu baris juga kan bikin capek. Lebih baik kalian bermain saja, biar happy. Oleh sebab itu, mulai besok pagi, Anak-Anak dilarang baris sebelum “Mars Hidayatullah” berbunyi.”

“Tapi saya menunggu barisnya sambil duduk di buk, Bu Wiwik,” jawab Shaqueena.

“Saya juga sambil jongkok, Bu,” respons Rama.

“Tetap tidak boleh,” tegas Bu Wiwik.

Diskusi berakhir dengan kata sepakat.

Jumat pagi ini (22/09/2023) merupakan hari pertama penerapan larangan baris sebelum “Mars Hidayatullah”. Murid-murid mematuhinya. Bu Wiwik memberikan apresiasi atas kepatuhan murid-muridnya.

Begitulah anak-anak. Jiwa kompetisi mereka tak mudah dibendung. Selama masih dalam koridor yang baik, guru akan mendukung 100%. Namun, Bu Wiwik dan Bu Eva bersepakat bahwa apa yang terjadi sudah berlebihan. Keduanya harus segara mengambil tindakan.

Solusi yang diterapkan pun mesti bertahap. Tidak serta-merta menerapkan solusi yang kaku dan tegas. Hal pertama yang harus dilakukan adalah memahamkan anak akan dampak suatu kejadian. Berikutnya, diskusi dan kompromi terhadap solusi yang ditawarkan. Hingga akhirnya anak menyadari hal-hal positif dari solusi yang disepakati.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *