Salat Duha telah selesai. Refleksi pun dilakukan. Bu Wiwik mengulas hal-hal yang perlu dipertahankan dan yang perlu dibenahi.

“Alhamdulillah, tadi salatnya sudah hebat. Gerakan salat Anak-Anak sudah semakin baik. Tidak perlu sering diingatkan lagi, Anak-Anak sudah bisa memeragakan gerakan dengan benar. Dipertahankan, ya,” Bu Wiwik mengawali refleksi, “Yang perlu diperbaiki adalah pandangannya. Ketika salat, pandangannya ke mana, Teman-Teman?” lanjut, Bu Wiwik.

“Ke tempat sujud!” seru murid-murid.

“Nah, Anak-anak sudah tahu, kan? Tadi, Bu Wiwik dan Bu Eva melihat Anak-Anak masih kurang khusyuk. Ada yang melirik kanan kiri, melihat ke depan, bahkan ada yang menengok ke belakang. Anak-Anak sudah tahu cara yang benar, tinggal mempraktikkannya saja,” pungkas Bu Wiwik.

Murid-murid dipersilakan minum. Setelah itu, mereka kembali duduk di karpet sesuai kelompok. Ada enam kelompok: nanas, apel, pisang, anggur, semangka, dan ceri. Nama-nama kelompok itu ditentukan sendiri oleh para murid. Atas kesepakatan semua anggota kelompok, tentunya.

“Teman-Teman, di depan sekolah kita ada tanaman. Tanaman-tanaman itu sangat berjasa kepada kita, lo,” ucap Bu Wiwik mengawali diskusi.

“Iya, menghasilkan oksigen!” seru Fathir.

“Betul sekali, Mas Fathir. Anak-Anak tahu tidak? Oksigen itu mahal, lo. Orang yang sedang sakit dan butuh oksigen, mereka harus membayarnya dengan biaya yang tinggi. Alhamdulillah, kita dikaruniai kesehatan, sehingga tidak perlu membayar oksigen. Kita bisa bernapas secara gratis. Allah baik sama kita. Tanaman-tanaman itu juga baik kepada kita. Mereka menyediakan oksigen untuk kita hirup. Gratis.”

Murid-murid menyimak dengan antusias.

“Karena tanaman-tanaman itu sudah baik sama kita, sebaiknya kita juga baik sama mereka. Caranya adalah dengan menyiramnya setiap hari. Supaya semua anak bisa ikut berbuat baik, Bu Wiwik dan Bu Eva akan membagi regu piket untuk menyiram tanaman.”

“Kemarin, saya sudah menyiram tanaman,” ucap Rara sambil mengangkat tangannya.

“Iya, Mbak Rara keren, belum diminta piket, tetapi sudah menyiram tanaman tanpa disuruh.”

Diskusi berlangsung seru. Murid-murid menyampaikan tanggapan dan pertanyaan.

Ups, ada yang menceletuk, “Kalau ayahku piketnya malam.”

“Oh, iya. Ayahnya Mas Tristan polisi, ya? Kalau polisi memang ada yang piket malam juga. Kalau anak-anak, piketnya pagi saja,” respons Bu Wiwik sambil tersenyum.

“Kalau datangnya terlambat, gimana, Bu Wiwik?” tanya Shaqueena.

“Yang belum sempat piket di pagi hari, bisa melaksanakan piketnya saat istirahat,” jawab Bu Wiwik.

Shaqueena mengangguk-anggukkan kepalanya.

Bu Wiwik dan Bu Eva menentukan petugas piket Senin—Jumat. Bu Wiwik lantas memastikan pemahaman murid-muridnya. Ia menanyakan siapa saja petugas piket di tiap-tiap harinya.

***

“O, iya, hari ini, kan, aku piket,” gumam Fathir setelah selesai menata isi tasnya.

Fathir lantas bergegas melepas kaus kaki, memasukkannya ke dalam sepatu, lalu mengambil sandal. Fathir menuju wastafel. Ia menadahkan gembor di bawah keran. Setelah gembor terisi setengah, Fathir mematikan keran itu. Ia menyiramkan semua air di dalam gembor itu pada tanaman pucuk merah yang paling dekat dengan wastafel. Begitu seterusnya hingga ia merasa cukup.

Fathir sedang mengisi gembor di wastafel depan sekolah.

Bu Wiwik mengamati Fathir dari ambang pintu kelas. Seulas senyum tersungging di kedua sudut bibirnya.

Hari berikutnya, Rafa tak mau ketinggalan. Ia sangat hafal kapan ia harus piket. Setiap Jumat, Rafa datang lebih awal dibanding hari-hari lainnya. Beberapa kali Rafa membuktikan kesungguhannya.

“Bu Wiwik, tadi saya sudah menyiram,” ucap Rafa di sela-sela refleksi kelas.

“Alhamdulillah. Mas Rafa ini rajin, lo, Teman-Teman. Setiap hari Jumat, ia selalu datang lebih awal untuk piket. Mas Rafa tidak pernah lupa melaksanakan tugas piketnya. Hebat, Rafa!” respons Bu Wiwik mengapresiasi Rafa.

“Selain Mas Rafa, siapa lagi yang piket hari ini?”

Salma, Inara, dan Vano mengangkat tangan.

“Saya belum piket, Bu Wiwik. Saya tadi datang terlambat,” jelas Vano.

“Iya, tidak apa-apa. Nanti, Salma, Inara, dan Vano bisa piket saat istirahat pertama, ya. Tapi, sebelumnya makan dulu.”

***

Piket merupakan hal baru bagi murid-murid. Mengenalkan hal baru kepada anak bukanlah perkara mudah. Apalagi membiasakan. Namun, Bu Wiwik patut berbangga, apa yang dilakukan murid-muridnya mengonfirmasi pemahaman mereka. Semoga, pemahaman itu menjadi motivasi intrinsik bagi murid-murid untuk memupuk kasih sayang kepada sesama makhluk Allah. Juga, sebagai latihan untuk menjadi pribadi yang bertanggung jawab. Sebab, sejatinya, kedua hal itulah yang menjadi tujuan utama program ini. (A2)

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *