Murid-murid SD 02 membentuk pagar betis.

“Bapak, gurunya anak saya, ya?” tanya seorang ibu. 

Pertanyaan itu mengalihkan perhatian saya. Sebelumnya, pandangan saya fokus ke Jalan Bina Remaja. Arah menuju kantor Kelurahan Srondol Wetan. Kesibukan di jalan itu terkait dengan penyambutan kedatangan Bu Ita, Wali Kota Semarang.

Murid-murid SMPN 12 telah bergerak. Tadinya para murid berbaris di dalam area SMPN 12 dekat pintu gerbang. Sudah sejak sebelum pukul 07.30 mereka baris di tempat itu. Sembari meneriakkan yel-yel. Sesekali berhenti. Lalu yel-yel lagi. Semangat mereka tercermin dari kekompakan mereka meneriakkan yel-yel itu. Kini mereka telah berjalan dari area SMPN 12 menuju kantor Kelurahan. Disusul murid-murid SD 01 (baca: SD Islam Hidayatullah).

Tak berselang lama, murid-murid SDN Srondol Wetan 01 mulai berdatangan. Mereka berbaris di pinggir Jalan Bina Remaja. Membentuk pagar betis. Dari pintu gerbang SD Islam Hidayatullah 02 (selanjutnya ditulis SD 02) hingga pintu gerbang kantor Kelurahan. Sebagian di sisi selatan. Sebagian di sisi utara. Murid-murid SD 02 juga turut membentuk pagar betis. Hanya murid kelas 2. Mereka berbaris di sisi utara.

Murid-murid SD 02 membentuk pagar betis.

Bu Ita dijadwalkan hadir pukul 08.00. Membuka acara Lomba Nasi Goreng Mbak Ita. Hingga pukul 08.30 ternyata beliau belum juga hadir. Sudah beredar kabar: Bu Ita terlambat hadir. Saya merasa waswas. Mengkhawatirkan anak-anak yang membentuk pagar betis. Sudah sekitar 30 menit mereka menanti. Yang dinanti tak kunjung tiba. Saya khawatir anak-anak  bosan, capek, dan kecewa.

Sebagian murid SDN Srondol Wetan 01 sudah mulai tampak jenuh. Ada yang minta minum ke satpam SD 02. Ada pula yang minta izin menggunakan toilet SD 02. Hampir semuanya sudah tidak berdiri lagi. Mereka memilih duduk. Dengan beragam cara.

Saya tidak tahu harus bagaimana. Terutama kepada murid SD 02. Memang saya sempat terpikir: kembali ke kelas saja. Namun, saya khawatir murid -murid justru sangat ingin menyambut Bu Ita. Bila demikian, yang di kelas berarti hanya jasad mereka. Sedangkan pikirannya masih sibuk ikut menyambut Bu Ita.

Di saat saya berpikir harus bagaimana, pertanyaan ibu itu membuat saya mengamati sang ibu lebih saksama. Saya belum berhasil mengenalinya. Pakaiannya sama dengan yang digunakan para peserta lomba. Berarti, beliau warga Srondol Wetan. Namun, beliau pakai masker. Ini menambah sulit bagi saya untuk mengidentifikasi orangnya. Saya jadi bingung.

Sang ibu paham kebingungan saya. Beliau menambah info, “Itu, lo, Pak, Rizal. Masih ingat, kan?”

Saya mencoba mengingat nama itu. Namun, gagal. Sedikit pun, saya belum terbayang dengan nama anak itu. 

“Buka masker, dong, biar saya ingat!” pinta saya.

“Enggak perlu, Pak. Saya juga lupa nama Bapak. Namanya, siapa, ya?”

“Saya, Kambali, Bu.”

“O, iya, Pak Kambali. Anak saya, Rizal, dulu diajar Pak Kambali. Itu, lo, yang takut dengan Pak Kambali.”

“O, Rizal! Yang saya juga sempat ke rumah. Ya, ya, saya masih ingat. Alhamdulillah, gimana sekarang kabarnya?”

“Sekarang jadi polisi, Pak. Di Polda.”

“Jawa Tengah?”

“Ya, Pak.”

“Di bagian apa?”

“Propam, Pak.”

“Dulu, SMA-nya di mana?”

“Rizal, SMP dan SMA-nya di Hidayatullah, Pak.”

“Wow, betul-betul loyal. Makasih, Bu.”

“Alhamdulillah, Pak. Akhlaknya kentara banget. Baik sekali. Komandannya sering bilang begitu. Saya bersyukur sekali.”

“Alhamdulillah.”

“Saya foto, ya, Pak. Mau saya kirim ke Rizal.”

“Ya, silakan. Rizal masih ingat saya, enggak?”

“Masih, lah, Pak.”

“Ibu ikut lomba?”

“Hanya penggembira saja. O, iya, Pak. Waktu di SPN, komandannya juga bilang kalau Rizal itu rajin salat Duha.”

“SPN itu apa, Bu?”

“Yang di Purwokerto itu, lo, Pak. Sekolah Polisi Negara.”

“O, ya, ya. Alhamdulillah, Rizal masih menjaga salat Duha.”

“Itu kok bisa begitu, gimana, ya, Pak?”

“Itu doa ibunya.”

“Ya, enggak, gitu lah, Pak. Saya menduga karena pembiasaan yang sudah dilakukan di SD, SMP, dan SMA.”.

Saya sudah berhasil mengingatnya. Rizal. Murid kelas 4C. Tahun ajaran 2012/2013. Saat itu saya ditugasi sebagai guru kelas 4C. 

Percakapan dengan mama Rizal meninggalkan kesan mendalam bagi saya. Terutama tentang salat Duha Rizal. Saya meyakini, kemudahan Rizal menjaga salat Duha dipengaruhi tripusat pendidikan. Keluarga, sekolah, dan lingkungan.

Andai di SPN lingkungannya tidak mendukung, pastilah Rizal kesulitan melaksanakan salat Duha. Katakanlah ada larangan salat Duha. Atau tidak ada larangan, tetapi kegiatannya padat tanpa ada kesempatan jeda. Atau tempatnya yang tidak mendukung. Atau airnya yang sulit diakses.

Namun, di sekolah sudah semestinya saya fokus pada peran dan tugas sekolah. Salah satunya, membangun pembiasaan anak. Contoh nyata yang dialami Rizal semakin menguatkan motivasi dan semangat saya. Untuk terus berikhtiar. Membangun akhlak murid-murid SD 02. Semoga Allah senantiasa mempermudah dan memberkahinya. (A1)

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *