Bel istirahat pertama berbunyi. Setelah menikmati kudapan, murid-murid berhamburan keluar kelas untuk bermain. Namun, tidak demikian dengan Rara.

“Bu, saya mau menyiram tanaman. Boleh?” tanya Rara.

“Boleh, dong,” jawab Bu Wiwik.

Rara bergegas melepas kaus kakinya. Ia menuju rak sepatu. Rara kemudian memasukkan kaus kaki itu ke dalam sepatu di petak 16. Rara lantas mengambil sandal yang tertangkup di sebelah kanan sepatunya. Ia bergegas keluar kelas.

Tak berselang lama, Rara kembali masuk kelas.

“Bu, gembornya dipakai kakak kelas,” lapor Rara.

Bu Wiwik menoleh ke arah pintu. Terlihat Hafidz berlalu-lalang mengambil air menggunakan gembor biru.

“Dua-duanya?” tanya Bu Wiwik.

“Cuma ada satu, Bu. Yang satu rusak,” jelas Rara.

“Kalau begitu, nanti gantian dengan Mas Hafidz, ya.”

Rara mengangguk. Ia mendekati Bu Wiwik.

“Bu Wiwik, kan, tadi belum selesai memotong bintangnya. Boleh saya bantu?”

“Tentu saja, Mbak Rara. Nih,” jawab Bu Wiwik sembari mengeluarkan stiker bintang dari laci mejanya.

Rara mengambil gunting dari tempat pensil di meja Bu Wiwik. Sengaja disediakan di meja Bu Wiwik. Di tempat pensil itu ada pensil, penghapus, daun ilmu, lem, dan gunting. Pensil dan penghapus disediakan untuk cadangan jika ada murid yang lupa untuk membawa alat tulis dari rumah. Daun ilmu dan lem disediakan untuk keperluan menempel daun di pohon ilmu. Gunting juga sering dipinjam murid-murid untuk memotong kemasan bekal mereka.

Rara tengah menggunting stiker bintang.

Dengan telaten, Rara memotong satu demi satu stiker bintang itu. Sesudah bel masuk berbunyi, Rara bergegas merapikan guntingan bintangnya. Ia menyerahkannya kepada Bu Wiwik. Rara juga mengembalikan gunting ke tempat semula. Tak lupa, Rara juga membuang sisa-sisa potongan stiker ke tempat sampah.

“Anak ini mandiri sekali,” batin Bu Wiwik.

Bel tanda istirahat telah usai berbunyi. Murid-murid melanjutkan aktivitas mereka kembali. Wudu, salat Duha, dan KBM merupakan kegiatan rutin yang dilaksanakan setelah istirahat pertama. Enam puluh menit kemudian, bel istirahat kedua berbunyi.

Rupanya, Rara masih penasaran. Ia bergegas melepas kaus kakinya dan keluar kelas. Tak ingin keduluan lagi, Rara bersegera mengambil gembor. Ia lantas mengisinya dengan air dari keran wastafel. Beberapa kali Rara bolak-balik menyiram tanaman pucuk merah di depan kelas.

Setelah puas menyiram, Rara kembali masuk kelas. Masih ada sisa waktu istirahat. Rara kembali meminta izin kepada Bu Wiwik untuk memotong stiker bintang. Tentu saja Bu Wiwik mengiakan. Bahkan, tak hanya hari itu saja, hari-hari berikutnya pun Rara tak bosan melakukannya. Sepertinya ia bertarget: semua stiker itu harus terpotong.

Ternyata benar adanya. Rara tak berhenti sebelum stiker-stiker itu habis terpotong. Tentu saja, Bu Wiwik sangat terbantu atas kebaikan Rara. Bu Wiwik juga yakin, Rara senang melakukannya.

Berawal dari mengamati, Rara penasaran. Rasa penasarannya itu berbuah kepedulian. Kepedulian yang sangat bermanfaat. Bagi Bu Wiwik. Bagi pohon-pohon yang haus. Juga bagi teman-teman Rara lainnya. Betapa tidak, hari berikutnya beberapa teman Rara terinspirasi melakukan kebaikan yang Rara teladankan.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *