“Bu Eva, tolong menenangkan Akbar dulu, ya,” pinta Bu Wiwik kepada saya.

Saya baru saja masuk ruang kelas, mendapati Akbar sedang menangis. Menangisnya tidak terlalu keras, tidak juga pelan. Saya langsung menghampiri Akbar dan belum tahu apa yang akan saya lakukan.

“Mas Akbar kenapa?”

“Aku mau main sama teman-teman,” jawabnya sambil menangis tersedu-sedu.

“Tapi waktu istirahatnya sudah selesai, sekarang waktunya belajar di kelas, Mas Akbar.”

“Aku mau main sama teman-teman,” jawabnya, masih sama seperti sebelumnya.

“Main sama Bu Eva mau?”

“Gak mau. Mau main sama teman-teman.”

Saya paham jika maksudnya ia ingin bermain dengan teman-temannya saat jam istirahat tadi. Namun, tidak memungkinkan jika dikabulkan sekarang pada saat jam pelajaran. Saya harus cari cara lain.

“Oke. Sekarang, Bu Eva mau jadi temannya Mas Akbar. Mas Akbar mau main sama Bu Eva?”

Saya tidak mendengar jawaban apa pun dari Akbar. Tiba-tiba ia mengambil bekalnya yang ia jatuhkan ke lantai ketika menangis. Menangisnya pun seketika terhenti. Saya harus tetap memastikan apa keinginanya. Sembari ia membereskan bekalnya, saya bertanya kepada Akbar.

“Sekarang Mas Akbar mau apa?”

“Aku mau main,” jawabnya.

“Sama Bu Eva?”

“Iya.”

Akbar menerima tawaran saya. Alhamdulillah, setidaknya ia sudah bisa tenang.

Sebab Akbar menangis adalah karena ia belum sempat bermain bersama teman-temannya ketika jam istirahat. Mengapa bisa? Padahal ada waktu 30 menit yang diberikan: 15 menit untuk makan, 15 menit lagi untuk bermain.

Ternyata, saat belajar menulis, ia selesai lebih lama dari teman-temannya. Setelah selesai menulis, waktu istirahatnya sudah berkurang. Hanya tersisa sedikit waktu untuk menyantap bekalnya. Itu pun belum sampai ia selesai makan, sudah berbunyi bel masuk. Akbar masih belajar mengelola waktu.

Selepas Akbar membereskan bekalnya, saya ajak ia untuk izin kepada Bu Wiwik terlebih dahulu. Saya tuntun cara izinnya.

“Bu Wiwik, bolehkah saya izin main di luar?” tanya Akbar kepada Bu Wiwik.

“Main sama siapa?” tanya Bu Wiwik.

“Bu Eva,” ucap Akbar.

“Iya, silakan,” Bu Wiwik mengizinkan.

Saya dan Akbar kemudian main di luar. Di lapangan paling selatan ada arena bermain. Saya mengajak Akbar bermain ban. Saya gunakan ban untuk dua model permainan. Setelah Akbar cukup lelah, saya ajak ia main ayunan. Sembari mengayunkan, saya ajak Akbar bercakap-cakap. Sepanjang percakapan, Akbar anak yang menyenangkan untuk diajak berbicara. Jawabannya pun sesuai dengan apa yang saya tanyakan. Bahkan penalarannya tentang suatu hal juga cukup bagus untuk anak seusianya.

“Bu Eva ikut duduk, ya.”

Saya duduk di kursi ayunan yang posisinya di depan Akbar. Jadi, saya dan Akbar berhadapan.

Tetiba ada beberapa anak yang memanggil saya dari kejauhan, “Bu Eva …!” Pertama Adhit, disusul Haqqi, lalu Ridho, dan terakhir Sultan.

Mereka semua kakak kelas Akbar, kelas 2. Saya hanya melambaikan tangan pada mereka dan memberi kode agar anak-anak tersebut masuk ke kelas. Semua menurut, kecuali Sultan. Ia justru menghampiri saya. Saya menyuruhnya kembali ke kelas.

“Gak mau, ah, Sultan mau di sini aja, sama Bu Eva,” tolak Sultan.

Lalu saya berpikir kembali, saya tak boleh berlama-lama di sini. Benar saja, Nadia dan Kalynn hampir menyusul. Tetapi berhasil saya cegah. Saya tak ingin menganggu fokus mereka, karena kelas 2 akan melaksanakan salat Duha.

“Mas Akbar, Bu Eva mau bicara.”

Saya menatap Akbar yang masih belum fokus. Tetapi saya yakin ia masih mendengarkan saya.

“Mas Akbar, kita mainnya lima menit lagi, ya. Setelah itu kita belajar lagi di kelas.”

“Iya,” jawab Akbar.

Tidak sampai lima menit kemudian, saya mengajak Akbar menyudahi bermainnya, sekaligus mengajak Sultan kembali ke kelas.

“Ini sudah lima menit, waktunya sudah habis, Mas Akbar. Yuk, kembali ke kelas.”

Akbar turun dari ayunan dengan ekspresi riang.

“Mas Akbar sudah puas mainnya?”

“Sudah.”

Sebelum ke kelas, saya sempatkan mengajak Akbar membereskan ban-ban yang tadi kami gunakan bermain. Alhamdulillah, Akbar tidak keberatan sama sekali. Ia terlihat kembali bersemangat. Ditambah lagi saat masuk kelas, ternyata Bu Wiwik mengajak anak-anak menggambar. Kebahagiannya semakin kentara. Karena menggambar adalah salah satu aktivitas yang ia senangi.

Awalnya, saya sempat sedikit khawatir. Pertama, khawatir jika menangisnya sulit diatasi. Kedua, khawatir jika ia ingin bermain lama-lama. Kekhawatiran saya timbul hanya karena belum memahami betul karakter Akbar.

Jumat (21/07/2023), MPLS (Masa Pengenalan Lingkungan Sekolah) memasuki hari ke-4. Ini kali pertama ada anak yang menangis di kelas 1. Saat ini kami masih belajar menyelami karakter tiap-tiap anak. Alhamdulillah, ternyata berbeda dari yang saya bayangkan. Akbar merupakan anak yang bisa diajak bicara secara baik-baik sekalipun dalam keadaan menangis. Selain itu, Ia juga bisa menepati kesepakatan.

Kejadian ini menjadi catatan penting untuk memudahkan saya dan Bu Wiwik dalam pencegahan kejadian berulang. Baik untuk Akbar, maupun anak-anak yang lain.

Akbar sedang asyik menggambar.
Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *