Asesmen Akhir Semester telah usai. Suasana ceria begitu terasa. Anak-anak memakai pakaian olahraga bebas. Tampak warna-warni. Kian menambah kesan ceria. Setelah apel, doa, dan tahfiz pagi, anak-anak diarahkan untuk berbaris di lapangan futsal. Kelas 1 berada di barisan paling timur. Diikuti kelas 2 hingga 4. Pak Kukuh memimpin barisan. Mengondisikan anak-anak.
Aqilaa, Aya, Cemara, dan Elqeil diminta maju ke depan. Mereka didapuk menjadi instruktur senam. Keempatnya dianggap lebih hafal gerakan senam dibandingkan anak-anak lain. Ya, pagi itu anak-anak melaksanakan senam bersama. Tak hanya anak-anak, para guru pun tak ingin ketinggalan.
Usai senam bersama, anak-anak kembali ke kelas masing-masing. Mereka terjadwal salat Duha. Saya teringat akan satu hal. Segera saya konfirmasikan ke Bu Yeni, guru kelas 1.
“Bu, bacaan salat anak-anak apakah sudah selesai sampai tahiat?” tanya saya.
“Alhamduillah, sudah selesai sampai tahiat, Bu,” jawab Bu Yeni.
Jawaban Bu Yeni sangat melegakan.
Pembimbingan bacaan salat dilakukan secara bertahap. Satu kalimat per hari. Atau bahkan kurang dari itu. Guru harus memastikan semua anak melafalkan bacaan yang diajarkan pada hari itu dengan benar. Setelah dipastikan benar, guru menambahkan kalimat selanjutnya.
Mendengar jawaban Bu Yeni, sebuah ide tebersit. Hari-hari berikutnya salat Duha kelas 1 dan 2 digabung. Sekaligus untuk memberikan praktik nyata kepada anak-anak: adab di majelis. Pekan sebelumnya, anak-anak sudah melakukan simulasi adab tersebut.
Setelah Duha, kelas 1 dan 2 terjadwal futsal persahabatan. Meski ada yang tak ikut bertanding, semua murid menuju ke lapangan futsal. Mereka menjadi suporter. Bahkan, Ridho dan Itaf—murid kelas 4—bersedia menjadi coach bagi tim yang bertanding. Dari pinggir lapangan, keduanya mengarahkan adik-adik kelas mereka yang sedang bertanding.
Kalah atau menang tak jadi soal. Bermain harus happy. Itu yang selalu kami tekankan kepada anak-anak. Pukul 08.45—09.00 saatnya istirahat. Anak-anak kembali ke (gedung) sekolah. Para guru membimbing anak-anak supaya menata sepatunya dengan rapi di tangga teras. Usai istirahat, anak-anak kembali ke lapangan futsal. Kali ini, giliran kelas 3 dan 4 yang bertanding. Kelas 1 dan 2 turut menyaksikan pertadingan itu. Jika hendak bermain juga dipersilakan.
Baca juga: Beri Mereka Waktu
Saya ada keperluan ke lantai 2. Setelah menyelesaikan keperluan tersebut, saya menuju dining room—ruangan terbuka yang difungsikan untuk kantin. Di sisi luarnya, terdapat jendela tanpa kaca. Hanya berpagar ram-ram besi. Sejenak, saya menyaksikan serunya pertandingan dari jendela itu. Tampak, Gibran dan kawan-kawannya gigih memberikan perlawanan kepada tim futsal kelas 4.
Saya hendak kembali ke lantai 1. Langkah saya terhenti. Di pojok ruangan, tampak dua anak kelas 1. Keduanya saling baca simak buku mengaji mereka.
“Mas Abee dan Mas Kama lagi belajar?” selidik saya.
“Iya, soalnya kita mau tes (ngaji),” jawab Abee penuh semangat.
“Maasyaallah, anak saleh,” respons saya. “Semangat, ya. Semoga tesnya lulus.”
Abee dan Kama melanjutkan belajar mereka. Saya sengaja memperlambat langkah. Terdengar Kama memberi tahu Abee kalau bacaannya belum tepat. Kama lantas memberi contoh cara membaca yang benar. Saya menuruni tangga dengan hati berbunga-bunga. Dalam hati, terselip harapan semoga semangat mereka dalam mempelajari Al-Qur’an terus bersemi.
Baca juga: Ngopeni Ngaji
Belakangan, saya tanyakan kepada Bu Dian—pengampu BAQ keduanya. Ternyata, apa yang Abee dan Kama lakukan atas inisiatif mereka sendiri. Saat itu, Bu Naim—koordinator BAQ yang mengetes anak-anak—masih mengetes anak lainnya. Abee dan Kama diminta menunggu. Tak disangka, keduanya memilih memanfaatkan waktu menunggu itu dengan belajar. Subhanallah!
Kesungguhan Abee dan Kama berbuah manis. Di hari yang sama pukul 17.15, Bu Dian mengirimkan tahniah di grup Sekolah dan kelas 1. Tahniah untuk Kama. Sepekan kemudian, Abee menyusul. Keduanya tuntas jilid 2 dan naik jilid 3.
