Ternyata waktu Zuhur sudah hampir tiba. Begitu sampai di sekolah, tak ada waktu untuk beristirahat. Kami langsung mengajak anak-anak bersiap wudu.

“Nggak ada istirahat kedua, Bu?” tanya beberapa anak.

“Istirahat keduanya sudah di Perpusda tadi, Nak. Anak-anak sudah bermain dan makan juga, kan?” jawab saya sambil tersenyum.

Mereka mengangguk paham. Beruntungnya, tak satu pun yang mengeluh lelah.

Selepas salat Zuhur, makan siang, dan doa setelah makan siang, saya melanjutkan rencana selanjutnya. Rencana yang tiba-tiba muncul di kepala.

“Bu Eva punya tiga bintang untuk anak-anak yang bisa menjawab pertanyaan Bu Eva!” seru saya.

“Bintang kelompok, Bu?” tanya Diva penasaran.

“Bukan, tapi bintang stiker,” jawab saya sambil merogoh saku gamis.

Anak-anak tampak antusias. Dua pertanyaan berhasil dijawab dengan cepat oleh Malik dan Hasna.

“Tantangan terakhir, ya. Siapa yang berani bercerita dengan runtut tentang kegiatan kita hari ini?”

Banyak tangan mungil terangkat tinggi. Saya sampai bingung memilih. Akhirnya, saya tunjuk Clemira—karena dia yang paling dulu mengangkat tangan.

Clemira mulai bercerita dengan ekspresif dan penuh percaya diri. Bahasanya lugas dan runtut.

“Waktu nonton bioskop, Clemira nangis karena filmnya sedih,” ujarnya polos, membuat teman-temannya tertawa kecil.

“Wah, keren sekali ceritanya Mbak Clemira. Mbak Clemira ceritanya runtut, jelas, dan percaya diri. Bu Eva yakin anak-anak yang lain juga bisa.”

Saya ikut tersenyum. Clemira layak mendapat apresiasi dan stiker bintang.

“Nah, Teman-Teman, tadi Mbak Clemira sudah bercerita tentang kegiatan kita hari ini. Sekarang Bu Eva mau mengajak anak-anak menulis cerita. Boleh tentang kegiatan hari ini atau tentang hal lain yang berkesan.”

Beberapa anak tampak bingung. Tapi tak ada yang protes.

“Bu Eva dan Bu Yeni mau membagikan buku baru! Sebentar, ya, Bu Eva ambil dulu bukunya.”

Sekejap, wajah-wajah yang tadi bingung berubah semringah.

“Wah, lucu banget bukunya!” seru anak-anak putri sambil memandangi sampul bergambar.

“Nanti yang dipanggil boleh pilih bukunya. Tapi Bu Eva pilih dari yang paling tertib dulu!”

Satu per satu anak memilih buku dengan gambar dan warna yang mereka sukai. Namun, di detik terakhir, seorang anak tampak kecewa karena buku yang ia inginkan sudah habis. Ia sempat terdiam.

Lalu, tiba-tiba, muncul malaikat kecil.

“Ini, buat kamu aja, deh,” kata Clemira sambil menyodorkan bukunya.

“Masyaallah, Mbak Clemira nggak pa-pa?” tanya saya memastikan.

“Nggak pa-pa. Cle mau ganti yang ini aja,” jawabnya tulus.

Saya tertegun. Buku pengganti yang ia ambil justru lebih cocok untuk anak laki-laki, tapi ia rela mengalah demi temannya. Hati saya penuh haru.

Bel pulang pun berbunyi. Anak-anak mengumpulkan bukunya. Ada yang sudah menulis tiga hingga lima baris, ada yang baru satu baris, bahkan ada yang baru menuliskan nama. Tak apa, waktu mereka hanya dua puluh menit.

***

Keesokan harinya, saat pelajaran Bahasa Indonesia, saya membawa satu buku tulisan karya murid-murid kelas 1 angkatan 2023/2024.

“Yang menulis buku ini sekarang sudah kelas 3, Teman-Teman. Dulu mereka menulis ini waktu masih kelas 1 seperti kalian,” jelas saya.

“Berarti kakakku, Bu?” celetuk Kama.

“Kakakku juga dong, Bu!” sahut Khalif cepat.

“Iya, betul,” jawab saya sambil tersenyum.

“Waktu menulis buku ini, kakak kelas pantang menyerah, lo, walaupun banyak tulisan yang harus diperbaiki. Misalnya hurufnya salah atau keluar garis,” lanjut saya.

Lalu saya bacakan beberapa ceritanya. Ada tulisan dari Inara, Vano, Alisha, dan Elora.

“Kalau yang ini punya kakaknya Mas Kama. Judulnya ‘Gigi Lepas’,” kata saya sambil melirik Kama yang langsung tersipu malu.

Anak-anak tertawa mendengar ceritanya.

“Jadi begitu, Teman-Teman. Kalian boleh menulis cerita apa saja. Boleh yang sedih, senang, lucu, atau apa pun,” ujar saya menutup pembicaraan.

Mereka mendengarkan dengan mata berbinar. Kali ini juga tak ada yang protes. Entah kenapa, mereka tampak paham—seperti mendapat ilham.

Saya juga membacakan tulisan mereka dari hari sebelumnya. Walau hanya beberapa baris, saya tetap mengapresiasi semuanya. Hingga akhirnya mereka tampak lebih semangat menulis.

Sebagian sudah menulis sendiri. Hanya tiga anak yang benar-benar butuh pendampingan. Namun hal tersebut tidak menyurutkan semangat mereka.

Waktu menulis sudah hampir selesai. Satu per satu mulai mengumpulkan bukunya. Ternyata, beberapa anak menulis hingga dua halaman! Tulisan mereka memang belum semuanya rapi, masih ada huruf yang salah, tapi setiap goresannya jujur.

Saya menatap tulisan-tulisan polos itu sambil tersenyum haru dan berkaca “Lihatlah! Betapa hebat anak-anakmu. Mereka menulis tanpa beban, tanpa takut salah. Sementara kamu, sudah berapa lama mogok menulis?”

Saya merasa tertampar sekaligus bersyukur. Lagi-lagi, mereka mengajari saya. Mereka adalah guru saya. Guru kecil yang selalu membuat saya belajar kembali. Terima kasih, anak-anak saleh dan salihah.

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code