“Beliau ini wali kelasku waktu aku kelas 3, yang pertama kali ngajar Bahasa Inggris.”
Pesan tersebut dikirim oleh Miss Ratih, dosen saya saat kuliah di perguruan tinggi. Ternyata itu sebuah balasan dari story WhatsApp saya. Tentang tulisan pertama saya berjudul “LATIHAN”. Tak hanya itu, ternyata pesannya berekor. Tak heran, dari dulu memang beliau se-friendly dan se-humble itu. Saya kenal dekat karena beliau juga yang sering membimbing saya saat mengikuti lomba-lomba.
“So happy beliau masih sehat dan berkarya,” sambungnya.
“Masyaallah, ternyata. Beliau hebat sekali, Miss. Iya alhamdulillah masih sehat dan masih bisa menularkan ilmunya,” balas saya.
Tak hanya sampai situ, kami terus berbalas pesan. Nostalgia memang hal yang menyenangkan. Saya bernostalgia mengingat masa-masa kuliah dengan “guru” saya—Miss Ratih. Miss Ratih bernostalgia mengingat masa-masa sekolah dasar dengan gurunya. Bagaimana tidak nostalgia? Beliau kelas 3 sekolah dasar saat tahun 1998. Saya baru lahir setahun setelah itu.
Makin lama kami berbalas pesan. Makin terkuak kenangan-kenangan beliau semasa kelas 3 SD saat dibersamai oleh gurunya itu. Saya sampai terheran-heran dengan ingatan beliau di masa itu.
“Keren banget emang beliau. Yang bikin aku pengen ngajar Bahasa Inggris, ya, beliau.”
“Wah, ternyata, dunia sempit sekali.”
“Ha-ha-ha, … bener banget. Semoga betah di sana, ya, Indah.”
“Amin. Iya, Miss. Bismillah, bikin semangat belajar lagi di sini. Oh, ya, sekadar informasi, ini yang ngajarin kita nulis juga beliau, Miss. Tulisan saya juga dikoreksi dan di-approved beliau, he-he,” balas saya, sengaja masih ingin berlama-lama berbalas pesan. “Tulisan beliau juga banyak dan bagus-bagus di blognya, Miss,” sambung saya.
“Kereeennnnn, … memang beliau kreatif banget.”
Nah, dari sini muncul cerita-cerita baru lagi. Saya jadi senyum-senyum sendiri membaca balas-balasan pesan kami.
“Dulu ada mata pelajaran apa, ya, yang isinya menjahit. Beliau yang ngajarin. Bahkan sampai sekarang, aku masih pakai ajaran beliau buat jahit badge sekolah anak-anak,” cerita Miss Ratih antusias. Tersisip banyak emoticon di sela-sela pesan tersebut.
“Masyaallah, bermanfaat sekali,” balas saya.
Setelah itu saya ceritakan lagi kepada Miss Ratih tentang kepiawaian gurunya itu dalam “membabat” habis soal Bahasa Inggris. Siapa tahu, ini bisa jadi bahan refleksi bagi Miss Ratih dan saya pribadi juga. Sekaligus swipe left pesan “Kereeennnnn, …” dari Miss Ratih tadi.
“Ha-ha, iya, di tulisan saya ada link tulisan beliau yang ‘membabat’ habis soal Bahasa Inggris, Miss. Yang ditemukan di bungkus nasi kucing di angkringan. Bisa-bisanya, …,” adu saya karena keheranan.
“Oh, ya?” balas Miss Ratih yang tampak keheranan juga. “Ha-ha, sudah aku baca ini tulisan beliau. Kalau ketemu, salam, ya, Indah. Waktu acara ulang tahun Yayasan kemarin, aku gak ketemu beliau,” sambungnya.
“Iya, Miss. Insyaallah minggu depan saya ada pelatihan lagi dengan beliau.”
“Bilang saja, dari muridnya zaman dahulu kala.”
“Ha-ha, dahulu kala, Miss?”
“Iya, masih tahun 1998, kurang dahulu kala, gimana? Yayasan 40 tahun, umurku 35 tahun. Ha-ha.”
“Ya Allah, saya baru lahir, Miss.”
“Kakakku itu, lulusan pertamanya SD Hidayatullah. Berasa dunia makin sempit karena sekarang Indah malah jadi guru di sana. I’m so proud juga.”
“Alhamdulillah, Miss, saya juga tidak menyangka jadi guru di sana.”
Begitulah pesan kami mengalir. Ada rasa senang dan haru. Dan saya jadi menyadari beberapa hal. Ternyata sebegitunya tindak tanduk guru bisa memberi dampak yang begitu luar biasa ke muridnya. Tindak tanduk seorang guru saat menjadi wali kelas sekaligus guru Bahasa Inggris membuat dosen saya, Miss Ratih, termotivasi untuk menjadi guru Bahasa Inggris. Ilmu menjahit yang ditularkan oleh gurunya dari tahun 1998 masih diamalkan sampai 2025.
Masyaallah, saya benar-benar iri. Semoga ini bisa jadi reminder untuk saya pribadi. Bahwa murid akan mengingat tindak tanduk saya sebagai guru. Sehingga saya harus bisa menjaga diri. Lalu ilmu yang saya tularkan akan diingat oleh murid-murid saya. Mungkin hingga akhir hayat mereka. Oleh karena itu, ilmu yang saya tularkan harus benar dan bermanfaat. Bismillah, semoga saya pribadi dan seluruh Bapak/Ibu guru SD Islam Hidayatullah 02 bisa menjadi “guru” yang baik bagi murid-murid kami. Amin.
