“Teman-Teman, setelah ini kita akan membuat pop-up perasaan yang belum terselesaikan kemarin. Teman-Teman yang namanya dipanggil, silakan mengambil lem, gunting, dan kertas di atas meja, kemudian duduk membuat lingkaran di karpet,” instruksi saya.

“Siap, Bu,” jawab anak-anak.

***

Hari Rabu, pelajaran Bahasa Indonesia terjadwal pada jam pertama. Pada pertemuan sebelumnya, saya meminta murid-murid untuk membuat karya pop-up wajah yang menggambarkan perasaan.

Step by step saya ajarkan cara membuat pop-up tersebut. Alhamdulillah, murid-murid mudah mengikuti. Tetapi, karena waktunya tidak cukup, saya lanjutkan karya tersebut hari ini.

Murid-murid sangat antusias. Saya targetkan mereka harus selesai saat bel pergantian pelajaran berbunyi, yaitu pukul 08.15. Ternyata, pukul 08.00 banyak di antara mereka yang sudah selesai. Wah, ini di luar dugaan saya. Mereka bisa menyelesaikan sebelum waktunya.

“Teman-Teman, yang sudah selesai boleh membaca buku, sembari menunggu teman lain yang belum selesai,” jelas saya.

Murid-murid yang sudah selesai segera mengambil buku dan membacanya.

Tiba-tiba salah seorang murid menghampiri saya.

“Bu, Shaqueena menangis,” lapornya.

Saya segera menghampiri Shaqueena.

“Teman-Teman, ada yang tahu, mengapa Shaqueena menangis?” tanya saya.

“Disenggol Gibran, Bu,” jawab beberapa murid.

Saya mengonfirmasi kepada Gibran.

“Enggak, Bu. Aku loh cuma bercanda. Kena sedikit doang. Enggak sakit itu,” jawab Gibran tak mau kalah.

Bahkan Gibran juga enggan meminta maaf. Tampaknya ia betul-betul tidak bermaksud menyakiti Shaqueena. Salah paham. Gibran bermaksud bercanda, sedangkan Shaqueena merasa terganggu. Wajar kalau Shaqueena marah dan menangis. Wajar pula kalau Gibran tidak merasa bersalah.

Miskomunikasi. Bisa dialami siapa saja: anak-anak maupun orang dewasa, yang sudah saling akrab maupun yang belum saling kenal.

Akankah kesalahpahaman antara Gibran dan Shaqueena berlarut-larut? Hingga menjadi konflik berkepanjangan? Ah, mereka masih kanak-kanak. Pasti persahabatan dan keakraban mereka bisa pulih lebih cepat. Butuh waktu, itu pasti.

Shaqueena sudah ditenangkan teman-temannya dan saya melanjutkan mengontrol murid-murid yang belum selesai.

Bel berbunyi, tanda jam pelajaran usai. Selanjutnya adalah pelajaran Bu Indah, yaitu Pendidikan Pancasila. Terlihat Shaqueena sudah tenang dan kembali bergabung duduk di karpet dengan temannya.

Saya menetap di kelas sembari mengontrol murid-murid. Terlihat Gibran mendekati Shaqueena, mengucapkan sesuatu sambil menyodorkan tangannya. Dugaan saya, Gibran meminta maaf. Tak selang lama, Gibran mendekati saya.

“Aku sudah minta maaf, Bu,” ucap Gibran sambil tersenyum.

“Wah, keren Gibran! Ini baru namanya anak hebat,” jawab saya dengan mengacungkan jempol.

Gibran membalas dengan senyuman.

Apa yang dilakukan Gibran perlu diapresiasi. Saya terkesan, akhirnya ia bisa mengalahkan emosinya. Saya yakin, sikap Gibran yang semula sempat menolak minta maaf itu bagian dari proses untuk menjadi lebih baik. Hanya saja, untuk menjadi lebih baik itu memang membutuhkan waktu.

Selamat berproses menjadi lebih baik, Gibran!

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code