“Bu, kita baris di mana?” tanya Ridho.
Anak kelas 3 sudah sampai di hall SD 01—SD Islam Hidayatullah. Namun, sesampainya di sana, hall sudah dipenuhi oleh anak-anak kelas 3 SD 01. Saya langsung berinisiatif menggeser barisan sedikit lebih rapat, agar anak kelas 3 SD 02 mendapatkan tempat.
Setelah anak-anak mendapat tempat, saya mengambil posisi yang dapat memantau keseluruhan anak. Beberapa saat kemudian, Sultan datang menghampiri saya.
“Bu, Sultan enggak mau Pramuka!” seru Sultan.
“Loh, kenapa?” tanya saya.
“Sultan bosan. Gak mau berdiri. Capek!” keluhnya.
“Terus kalau Sultan bosan Pramuka, sekarang mau ngapain?”
“Mau pulang aja, di SD 02.”
“Seharusnya, kalau Sultan enggak mau ikut Pramuka, bilangnya tadi waktu masih di SD 02. Jadi enggak perlu ikut ke sini. Karena sekarang sudah sampai sini, Sultan di sana dulu sama teman-teman. Kalau enggak mau berdiri, Sultan boleh duduk. Tapi di sana!”
Sultan pun bersegera kembali ke hall, menyusul teman-temannya berbaris. Sesampainya di sana, saya lihat Sultan tidak duduk, tetapi tidur dengan posisi tengkurap sembari menggambar di buku tulisnya. Itaf, yang melihat Sultan tidur tengkurap, segera menyuarakan protesnya.
“Loh, Bu, Sultan enak banget sambil tiduran!”
“Sultan, tadi Bu Puput bilang boleh duduk. Bukan tiduran!” tegur saya.
Sultan tetap abai, sama sekali tidak mengindahkan teguran yang saya berikan. Melihat itu, Itaf segera menghampiri Sultan dan mencoret buku yang sedang Sultan gunakan untuk menggambar. Sultan marah. Tidak terima bukunya dicoret, sehingga merobek dan membuang kertasnya di sembarang tempat. Saat diminta untuk mengambil kembali, Sultan menolak.
Saat saya masih berbicara dengan Sultan, Rendra datang kepada saya, melaporkan bahwa tempat pensilnya hilang. Belum selesai saya berbicara dengan Sultan, atas inisiatifnya sendiri, Rendra mengambil kertas yang dibuang Sultan dan membantu menaruhnya di tempat sampah.
“Masyaallah, Rendra keren sekali! Terima kasih, ya, Ren. Sudah membantu menaruh di tempat sampah,” ucap saya.
Rendra tersenyum sambil mengangguk. Setelah itu saya minta Rendra untuk mencari tempat pensilnya yang lupa ditaruh di mana. Tidak berselang lama, Rendra kembali dan berkata “Sudah ketemu, Bu. Tadi lupa naruh di barisan belakang.”
Masyaallah, saya kagum dengan kepedulian Rendra. Saya tidak meminta. Ia berbuat baik atas keinginannya sendiri. Atas kebaikannya, Rendra diberi kemudahan oleh Allah untuk mendapatkan kembali tempat pensilnya. Dari sini saya dapat mengambil hikmah bahwa berbuat baik sekecil apa pun akan mendapat balasannya.
Baca Juga: Kepedulian-2
