“Every day is Monday in FEE Center”. Itulah salah satu kesan yang saya dapatkan selama dua pekan berada di FEE Center, Kediri. Setiap hari terjadwal enam sesi. Tidak ada libur. Bahkan Sabtu dan Ahad.

Sesi pertama dijadwalkan pukul enam pagi. Tiap-tiap sesi berdurasi 60 menit. Pukul 07.00, kegiatan belajar dijeda selama sejam untuk sarapan dan salat Duha. Sesi 2—4 dilaksanakan pada pukul 08.00—11.00. Sesi 5 dan 6 dimulai pukul 13.00 hingga jelang asar.

Sabtu (24/01/2026), kegiatan belajar sesi 1 hingga 4 tetap berjalan seperti biasanya. Usai makan siang, saya dan teman-teman dari Hidayatullah menuju ruang Notredam. Ruangan tersebut berada di lantai 2. Di sanalah biasanya kami belajar. Namun, ada yang istimewa kali ini. Pelajaran ditiadakan. Kami berkesempatan berdiskusi dengan pimpinan dan guru-guru dari Pondok Pesantren Al-Amin, Mojokerto.

Acara dibuka oleh Mr. Malik. Beliau merupakan founder sekaligus owner FEE Center. Setelah menyampaikan pengantar, Mr. Malik pamit dikarenakan harus menemui tamu yang lain. Sebelum pamit, Mr. Malik berpesan agar guru-guru Hidayatullah menggali informasi sedalam-dalamnya dari para guru Al-Amin. Mr. Hendri—salah satu tutor FEE Center—lantas mengambil alih acara.

“Dear teachers, now it’s time for sharing session. Hidayatullah teachers could find a partner from Al-Amin teachers and discuss anything about your school,” jelas Mr. Hendri.

Saya berbalik. Saya berpartner dengan guru Al-Amin yang duduk di belakang saya. Namanya Bu Cindy. Di Al-Amin, beliau mengajar Kitab Kuning.

“Do you deliver your lesson in English?” tanya saya.

“Yes, and until now, I’m still trying to improve my English. I graduated from a pondok pesantren. So, I can say that I teach in English from zero,” terang Bu Cindy. “Even, my English is not as good as my students. Their English is better than me.”

Pembicaraan mengalir. Untuk menambah suasana akrab, kami membahas pula tentang hal-hal kecil yang sifatnya personal. Tak terasa, waktu ramah tamah telah usai. Mr. Hendri kembali mengambil alih acara. Beliau mempersilakan salah seorang pimpinan Al-Amin untuk menyampaikan pengalaman beliau mengembangkan bahasa Inggris di institusinya. Belakangan diketahui bahwa beliau merupakan sekretaris Yayasan sekaligus kepala MA Al-Amin.

“I am Muhammad Imaduddin. Just call me Mr. Imad. Yes, I am mad. I-mad, a.k.a gila,” kelakar Mr. Imad. Ruang Notredam bergemuruh tawa para hadirin.

“I joined Al-Amin in 2007. I was a santri and teacher of salafiah pesantren. So, you can imagine how I struggled with English in Al-Amin.”

Mr. Imad (tengah) menyampaikan pengalaman beliau di Al-Amin

Interaksi Mr. Imad dan para guru Al-Amin terasa sangat santai. Di sela-sela pemaparannya, Mr. Imad beberapa kali berkelakar.

“One thing that I learn. When you are in teachers’ room and find a teacher comes in to the room but she keeps silent, please, don’t ask her why. Just wait. Let her speak by herself. Listen and just answer with: yes.”

Mr. Hendri kembali mengambil alih acara.

“Dear teachers, It’s time for discussion. Is there any question?” tanya Mr. Hendri.

Sejenak hening. Saya memberanikan diri mengangkat tangan.

“Yes, please, Ms. Wiwik,” sila Mr. Hendri.

“Thank you for the chance given to me. I’d like to ask Mr. I… mad.”

Saya tidak bermaksud menjeda saat menyebutkan dua suku kata nama beliau. Saya belum begitu familiar dengan nama Mr. Imad.

“Gak pa-pa, Ms. Saya memang agak gila,” seloroh Mr. Imad.

“I’m sorry, Mr. Imad. Ampun. Saya takut kualat,” timpal saya.

“I’m curious. Why English? What motivated you to choose English for your school?” tanya saya.

“Al-Amin was established in 2000. And the concept was ‘language pesantren’: English and Arabic. In 2000—2003, the English development was good, but it was in ‘Gontor’ way. So, we stopped it. Until 2023, there was no English ‘hawa’ ini Al-Amin. Finally, in 2024, FEE Center did English rukyah to Al-Amin and alhamdulillah, it is gradually progressing,” ungkap Mr. Imad.

Mr. Imad dan Bu Cindy mengingatkan saya akan sebagian teman-teman guru di Hidayatullah. Sama seperti Bu Cindy dan Mr. Imad, teman-teman guru di Hidayatullah banyak yang merupakan alumni pondok pesantren salafiah. Untuk berbahasa Inggris, mereka cenderung kurang percaya diri. Namun, Mr. Imad dan Bu Cindy telah membuktikan: when there is a will, there is a way.

Baca juga: Putus Asa

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code