Jarum panjang menunjuk angka tiga. Jarum pendeknya seakan bergeming di angka delapan. Murid-murid kelas 1 telah selesai mengikuti pelajaran PJOK. Mereka kembali ke kelas. Peluh masih bercucuran. Bu Eva memberi waktu jeda beberapa saat. Waktu jeda itu anak-anak manfaatkan untuk sekadar melepas lelah dan/atau minum.
Bu Eva mengajak anak-anak duduk di karpet. Anak-anak duduk dalam tujuh lajur ke belakang. Tiap-tiap lajur terdiri atas tiga hingga empat anak. Bu Nana memasuki ruang kelas 1 terlebih dahulu.
Sejenak sebelum membuka pintu kelas 1, langkah saya terhenti. Beberapa anak terlihat melepas kaus kaki mereka. Setiap Senin sehabis olahraga, anak-anak terbiasa melepas kaus kaki sebelum masuk kelas. Hal ini dikarenakan setelahnya (biasanya) mereka berwudu. Wudu sebelum salat Duha.
“Mas Hafidz, kaus kakinya tidak dilepas dulu, ya. Kita masih akan belajar,” jelas saya kepada Hafidz.
Hafidz, yang sudah melepas kaus kakinya, tampak kebingungan. Namun, ia tetap mengikuti arahan saya.
“Mas Abee, juga. Kaus kakinya jangan dilepas dulu,” ujar saya.
“Kenapa, Bu?”
“Soalnya kita masih belajar lagi.”
Abee masih menawar. Ia ingin tetap melepas kaus kakinya.
“Mas Abee, setelah ini belum wudu. Kaus kakinya dipakai lagi, ya.”
Meski kecewa, Abee tidak jadi melepas kaus kakinya. Ia beranjak, lalu masuk kelas.
Pagi ini (24/11/2025), saya dan Bu Nana melakukan supervisi di kelas 1. Bu Eva yang disupervisi. Sedianya, supervisi dilaksanakan pukul 10.45. Namun, Bu Nana ada kegiatan lain pada jam tersebut. Sehingga jadwal supervisi untuk Bu Eva dimajukan.
Bu Nana duduk di kursi Bu Yeni. Saya memilih duduk di dekat pintu. Menggunakan kursi berwarna kuning dan meja berwarna biru. Meja itu biasanya digunakan untuk menggelar hidangan makan siang anak-anak. Meja biru tersebut ditempatkan berimpitan dengan dinding sebelah barat kelas. Di dindingnya terdapat stopkontak. Itulah alasan utama saya memilih duduk di sana. Supaya lebih dekat dengan stopkontak. Baterai laptop saya hampir habis. Sementara, saya menggunakan fail yang ada di laptop itu untuk mengisikan penilaian.
Bu Eva mengawali pembelajaran dengan membacakan cerita yang dibuat oleh salah satu muridnya, Emmer. Emmer menuliskannya di buku harian yang ada di kelas. Cerita singkat nan menarik dan menggelitik. Berikut isi ceritanya:
“Hari Jumat minggu lalu, saya berenang. Tapi air kolam renangnya hijau. Kayak buto ijo. Terus saya kaget. Pas saya ambil (airnya), airnya malah jernih. Ternyata kolamnya rusak karena kena hujan. Makanya saya kaget. Tamat.”
Bu Eva membacakan cerita tersebut dengan ekspresif. Anak-anak berceloteh menanggapi cerita tersebut. Sesekali Bu Eva mengingatkan murid-muridnya untuk mengangkat tangan jika hendak berbicara. Bu Yeni turut membantu Bu Eva mengondisikan kelas. Beliau duduk di karpet di barisan paling belakang. Barisan itu didominasi oleh anak laki-laki. Tak terasa, pembelajaran hampir berakhir. Anak-anak duduk di kursi dan mengerjakan tugas.
Saya fokus mengamati kondisi kelas. Tiba-tiba seorang anak berjalan sambil membungkuk menuju pintu. Tangan kanannya diluruskan di depan badannya. Telapak tangannya lurus terbuka. Fokus saya beralih ke anak tersebut. “Sempurna sekali sikap anak ini,” batin saya.
“Mas Abee hendak ke mana?” tanya saya.
Abee menghentikan langkahnya. Ia pun berdiri tegak.
“Saya mau ke kamar mandi, Bu,” jawab Abee.
“Tadi sudah izin ke Bu Yeni atau Bu Eva?” selidik saya.
“Sudah,” jawab Abee.
“Oke. Silakan, Mas Abee,” sila saya.
Abee kembali membungkukkan badannya. Lengan dan telapak tangannya pun sigap menyempurnakan sikap. Abee lantas membuka pintu dan menutupnya kembali dengan tenang. Sikap yang sama ia tunjukkan sekembalinya dari kamar mandi.
Saya sangat terkesan dengan sikap sempurna Abee ini. Abee termasuk tipe anak yang aktif. Ia suka bergerak. Selama duduk di karpet, Abee lebih banyak bergeraknya daripada duduk tenangnya. Beberapa kali Bu Eva mengingatkan Abee. Bu Yeni pun terlihat sering menepuk bahu Abee sebagai isyarat supaya Abee tidak terlalu banyak bergerak. Namun, di balik keaktifannya, Abee piawai mengondisikan anggota geraknya saat berjalan di hadapan saya. Semoga Abee istikamah membiasakan sikap sempurna itu.
