Senin, 28 Juli 2025. Pekan kedua kegiatan belajar-mengajar berlangsung, dan hari ini terasa begitu padat. Jadwal kelas 2 dipenuhi mata pelajaran BAQ, Matematika, Fikih, Bahasa Indonesia, dan Pendidikan Pancasila. Saya, sebagai guru Bahasa Indonesia dan Seni Budaya, baru akan masuk pada jam pelajaran ke-7 dan ke-8. Sambil menunggu, saya duduk di kelas, ikut mendampingi kegiatan mereka. Suasana di kelas terasa ramai, dipenuhi tawa dan celoteh riang anak-anak.
Waktu menunjukkan pukul 9 pagi, tiba saatnya salat Duha. Di kelas 2, tim guru pendamping terdiri dari saya, Bu Puput, Pak Kholis, dan Pak Kukuh. Kami sudah terbiasa membagi tugas. Ada yang mendampingi niat bersama, mengantre wudu, membantu murid yang kesulitan, hingga memimpin bacaan asmaulhusna bagi yang sudah selesai. Hari ini saya mendapat giliran mendampingi anak-anak yang mengantre wudu. Setelahnya, saya bergabung dengan kelompok murid yang sudah kembali ke kelas untuk membaca asmaulhusna.
Satu per satu, murid-murid mulai berdatangan kembali ke kelas. Mereka dengan sigap mengambil teks nazam asmaulhusna yang sudah disiapkan dan mulai membacanya dengan suara pelan. Di tengah khusyuknya mereka membaca, pandangan saya tak sengaja terhenti pada seorang anak.
Sejak tadi, saya memperhatikan matanya yang terus saja tertuju ke pintu kelas. Pintu itu seolah menjadi fokus utamanya. Beberapa murid yang baru kembali dari wudu tampaknya lupa menutup pintu. Pintu itu dibiarkan terbuka begitu saja, mengganggu konsentrasi anak-anak yang sedang membaca.
Dan di saat itulah Alzam bergerak. Tanpa diminta, ia bangkit dari tempatnya, berjalan ke arah pintu, dan menutupnya dengan pelan. Pintu itu kembali rapat. Namun, tak lama kemudian, satu atau dua murid lagi masuk dan kembali lupa menutupnya. Pintu itu kembali terbuka.
Alzam tidak mengeluh. Tanpa ragu, ia kembali bangkit. Berjalan pelan dan menutup pintu itu lagi. Begitu terus, setidaknya dua sampai tiga kali. Setiap kali pintu terbuka, ia seolah merasa bertanggung jawab untuk menutupnya. Gerakannya begitu ringan dan penuh kesadaran, seolah itu adalah tugas pribadinya. Teman-temannya yang lain sibuk dengan bacaan mereka, mungkin tak menyadari apa yang dilakukan Alzam.
Saya tertegun. Di tengah keramaian dan kelupaan teman-temannya, Alzam hadir sebagai “penjaga pintu” yang tak terlihat. Ia tak mencari pujian, tak menunggu perintah. Ia hanya melakukan apa yang menurutnya benar, demi kenyamanan bersama. Sikap kecil itu, sebuah kepekaan yang luar biasa, menjadi pelajaran berharga bagi saya hari ini. Itu bukan hanya tentang menutup pintu, melainkan tentang kepedulian yang tulus pada keadaan sekitar. Sikap ringan tangan yang tak dimiliki orang kebanyakan.
