Hening. Tenang. Semua terdiam mendengarkan lantunan Kalam Ilahi dari seorang anak yang sedang mendapat giliran membaca. Di tengah suasana itu, tiba-tiba seorang anak datang. Ia berdiri agak lama di salah satu sudut ruangan. Seperti sedang mencari sesuatu. Sebenarnya apa yang ia cari?
Selasa, (15/04/2025).
“Ok. Sudah scan,” suara perekam sidik jari setelah saya menempelkan salah satu jari saya di mesin itu.
Hari itu jadwal saya lumayan padat. Tahfiz pagi, BAQ sesi 1 dan 2, Bahasa Arab kelas 2 dan 3, dan ekstrakurikuler kaligrafi. Alhamdulillah.
Waktu pelajaran BAQ sesi 2 tiba. Saya segera menuju ke musala, tempat BAQ kelompok saya. Saya kalah lagi. Sudah ada beberapa anak yang datang lebih dahulu dibanding saya. Saya pun segera memulai pelajaran BAQ. Hingga sampailah pada tahap tadarus Al-Qur’an. Seorang anak membaca. Sedangkan lainnya diam. Mendengarkan. Menyimak. Mengingatkan jika ada bacaan yang belum benar. Kemudian bergantian. Begitu seterusnya sampai cukup porsi tadarus di pelajaran BAQ.
Di tengah suasana tadarus, seorang anak datang: Naren. Ia terlambat. Sesampainya di musala, ia menuju ke salah satu sudut ruangan—tempat meja lipat mengaji ditaruh. Ia berdiri agak lama di sana. Saya penasaran. Kenapa lama? Saya perhatikan lebih jeli lagi. Ternyata Naren sedang mencari meja. Namun tidak menemukannya. Naren seperti kebingungan.
Ups, saya teringat, meja di musala hanya 17. Sementara, murid di kelompok saya ada 18. Kurang satu meja. Bagaimana ini? Haruskah saya pinjamkan meja saya kepada Naren? Atau minta salah seorang anak untuk berbagi meja, satu meja untuk berdua dengan Naren?
“Ini, pakai punyaku saja, Ren,” ujar Adit.
Naren menerimanya. Kemudian Adit mendekat ke teman sebelahnya: Daffa. Rupanya ia minta izin untuk mendompleng. Jadilah Daffa dan Adit berbagi satu meja untuk berdua. Mengatasi masalah tanpa masalah. Naren memakai satu meja. Hibah dari Adit. Sementara, Adit sendiri justru rela hanya mendompleng di meja Daffa. Mongkok, saya menyaksikannya.
Belum hilang dari ingatan saya. Sebelum ini, Adit juga pernah melakukan hal serupa. Daffa terlambat datang ke ruang BAQ. Sama seperti Naren, Daffa tampak kebingungan. Tidak ada lagi meja tersisa. Semua sudah dipakai teman-temannya. Adit sigap. Daffa diajaknya duduk di sebelahnya. Satu meja bersama.
Konsisten. Mendapati situasi serupa pada waktu yang berbeda, Adit meresponsnya dengan reaksi senada. Respons Adit juga spontan. Tidak menunggu anjuran, permintaan, perintah, bujukan, apalagi paksaan dari orang lain. Tampaknya aksi responsif itu sudah menyatu dalam karakter Adit. Boleh jadi, Adit tidak menyadari nilai-nilai apa yang terpatri di dalam jiwanya hingga melahirkan empati, lalu menjelma menjadi sikap peduli dan rela berkorban. Seakan-akan impuls kebajikan itu secara otomatis mengirim sinyal ke saraf-saraf tubuhnya untuk mengambil tindakan tepat, cepat, dan bermanfaat.
Terus, … kapan saya mengikuti jejak Adit?
