Kali ini anak-anak kelas 1 memperoleh pengalaman yang tak kalah menyenangkan. Biasanya mereka hanya membaca buku di sudut baca kelas atau perpustakaan Sekolah. Kali ini mereka berkesempatan membaca buku, bahkan bermain, di PERPUSDA (Perpustakaan Daerah) Jawa Tengah.
Ya, Rabu Paing, 26 Februari 2025, anak-anak kelas 1 berkunjung ke Perpusda Jawa Tengah. Dua tahun berturut-turut, perpustakaan yang bersebelahan dengan Taman Budaya Raden Saleh (TBRS) di Jalan Sriwijaya itu dipilih menjadi objek kunjungan kelas 1. Dua tahun berturut-turut pula, saya ketiban sampur sebagai penanggung jawab kunjungan.
Anak-anak sangat antusias dalam mengikuti kegiatan. Melihat-lihat sekeliling seakan penasaran. Saling bertanya dan menyampaikan kalimat demi kalimat kepada Bapak Ibu Guru.
Alhamdulillah, mereka tertib dan kondusif. Hingga saya temukan satu pemandangan yang menjadi perhatian saya. Salah seorang anak duduk di dekat tumpukan kotak mainan. Desain kotak tersebut berbahan transparan sehingga bisa dilihat apa saja yang ada di dalamnya. Ia melirik salah satu objek mainan seakan ingin memainkannya. Sedangkan yang dilirik posisinya ada di dalam kotak yang berada di tumpukan paling bawah.
“Ustaz, saya boleh pinjam itu?” tanya anak itu sambil menunjuk ke arah mainan yang dikehendaki.
“Oh, ya, … boleh,” izin saya.
“Tapi, kok, … di bawah,” sahutnya, mengisyaratkan minta tolong untuk diambilkan.
“Iya, Fatih bisa ngambilnya?” tanya saya.
“Hmm, … gak bisa,” jawabnya.
“Dicoba dulu,” bujuk saya
Ia pun bergegas mengangkat satu per satu kotak yang ada di atasnya. Hingga berhasil menggapai kotak paling bawah. Dan mengambil mainan yang dimaunya.
Akhirnya ia memainkan mainan itu dengan senang. Mainan yang terlihat lusuh, berbentuk dinosaurus dari bahan karet. Mungkin umurnya sudah lama dan sering dibuat mainan. Tapi Fatih tetap asyik memainkannya.
Setelah beberapa menit bermain, anak-anak saya imbau untuk segera menyudahi bermainnya. Jam sudah menunjukkan pukul 09.50. Sebentar lagi mobil yang menjemput tiba.
Saat mendengar imbauan saya, Fatih bergegas membereskan mainannya. Dimasukkanlah ke dalam kotak semula. Ia tutup rapat sehingga rapi seperti sedia kala. Tak berhenti di situ, ia bereskan kotak-kotak yang semula diambilinya. Ia tumpuk sehingga tersusun rapi sebagaimana sebelum ia mengambilinya. Sama sekali tidak ada jejak pemakaian mainan-mainan itu. Seakan-akan tidak ada tangan yang menjamahnya.
Masyaallah, sungguh pagi itu saya takjub. Di tengah antusiasnya untuk bermain, Fatih tetap menjaga tanggung jawabnya untuk merapikan kembali mainan yang dipinjamnya.
Tanggung jawab Fatih sudah mulai tumbuh. Asumsi saya, di rumah, Fatih sudah dibiasakan untuk bertanggung jawab. Sehingga di sekolah Fatih sudah mempraktikkannya. Walaupun sepele, sikap Fatih sangat luar biasa. Bukankah ketika kita ingin hal yang besar, kita harus mulai dari yang terkecil dulu? Bukankah ketika kita menginginkan hal yang luar biasa, kita harus mulai dari yang biasa dulu? Bukankah ketika kita ingin bisa melakukan hal yang berat, kita harus memulai dari yang ringan dulu? Dan seterusnya.
Baca Juga: Bukan Penghalang
Semoga proses Fatih dalam belajar bertanggung jawab senantiasa dimudahkan oleh Allah Swt. dan semoga kebaikan Fatih ini dapat menjadi kebiasaan positif di masa yang akan datang. Dan semoga kebiasaan positif tersebut menular ke teman-teman Fatih serta orang-orang terdekatnya. Hingga menjadi budaya yang positif untuk lingkungan tempat Fatih berinteraksi. Amin.
