Penilaian Akhir Semester (PAS) telah usai. Pekan pasca-PAS diisi dengan persiapan gelar karya dan pentas untuk Ekshibisi Akhir Semester. Ekshibisinya akan diadakan pada Sabtu, 16 Desember 2023, bersamaan dengan pembagian rapor. Untuk menyelenggarakan ekshibisi, dibentuk panitia cilik. Anggotanya anak-anak kelas 1 dan 2.

Hari pertama. Pemberian informasi, pembagian personel pentas, dan pembentukan panitia cilik. Pentas kali ini akan menampilkan tilawah, tahfiz, hadis, lagu “Satu Nusa Satu Bangsa”, operet “Cublak-Cublak Suweng”, hadrah, tembang “Padhang Bulan”, dan tari “Wonderland Indonesia”. Ustaz Aruf dan Ustaz Adhit mendapat tugas sebagai penanggung jawab penampilan hadis dan hadrah.

Hari kedua. Anak-anak dibagi sesuai dengan perannya masing-masing. Latihan pun segera dimulai. Ustaz Aruf dan Ustaz Adhit melatih anak-anak yang akan menampilkan hadis. Ustaz Adhit melatih kelas 1, sedangkan Ustaz Aruf melatih kelas 2.

Terlihat anak-anak kelas 2 yang bertugas menampilkan hadrah masih santai di kelas, menunggu Ustaz Aruf dan Ustaz Adhit untuk melatihnya. Melihat itu, Ustaz Aruf menyuruh mereka untuk berlatih mandiri dahulu, “Yang bertugas hadrah, boleh berlatih dahulu di musala, ya.”

“Baik, Ustaz,” jawab beberapa anak yang bertugas hadrah.

“Oh, iya, rebananya sekalian dibawa ke musala, ya, sedangkan tasnya ditinggal di kelas saja,” pinta Ustaz Aruf.

“Siap, Ustaz,” jawab beberapa anak.

Mereka pun ke musala dengan membawa rebana. Sejenak kemudian, terdengar suara rebana. Pertanda mereka sudah mulai berlatih.

Ustaz Aruf dan Ustaz Adhit datang. Latihan pun dilanjutkan. Setelah dirasa cukup, dan ternyata waktu zuhur sudah hampir tiba, latihan pun diakhiri. Anak-anak segera mengembalikan rebana ke ruang kelas 2. Rebana ditaruh tanpa dimasukkan ke tasnya. Ustaz Aruf memasukkan rebana ke tasnya sendirian. Melihat itu, Itaf dengan sigap segera membantu. Naren, yang kebetulan berada di sana, juga ikut membantu. Naufal tiba-tiba juga mendekat dan ikut membantu.

“Terima kasih, Itaf, Naren, dan Naufal,” ucap Ustaz Aruf.

“Sama-sama, Ustaz,” jawab mereka.

Masyaallah. Itaf, Naren, dan Naufal, dengan sigap segera membantu demi melihat Ustaz Aruf membereskan rebana sendiri. Tanpa disuruh. Dengan spontan. Hatinya tergerak. Telah tumbuh jiwa suka menolong. Alhamdulillah, Bapak dan Ibu Guru senang melihatnya.

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *