Tadarus selesai. Jam sudah menunjukkan pukul 15.10. Namun, azan Asar belum berkumandang. Maklum, pukul 15.14 baru masuk waktu asar. Saya dan Bu Wiwik masih duduk di ruang Kepala Sekolah. Di depan ruangan tampak dua anak sedang bermain. Kakak beradik. Kakaknya, kelas 4 SD Islam Hidayatullah (selanjutnya ditulis SD 01). Namanya, Kaisar. Adiknya, kelas 1 SD Islam Hidayatullah 02 (selanjutnya ditulis SD 02). Namanya, Sultan.

Kaisar dan Sultan sama-sama sedang menunggu jemputan. Sembari menunggu, keduanya mengisi waktu dengan bermain di halaman SD 02.

Sesaat kemudian, kumandang azan Asar terdengar. Saya dan Bu Wiwik bergegas ke luar ruangan. Hendak menuju ke musala. Begitu melangkahkan kaki ke luar ruangan, saya berhenti sejenak. Menatap Kaisar dan Sultan yang masih asyik bermain. Alhamdulillah, Bu Wiwik tanggap. Tanpa saya minta, Bu Wiwik mendekati Sultan dan mengajaknya berjemaah Asar.

Bu Wiwik itu guru kelasnya Sultan. Pada umumnya, anak lebih mudah mengikuti bila yang menyuruh/mengajak adalah guru yang secara intensif mengajarnya.

Bu Wiwik tidak hanya mengajak Sultan, tetapi sekaligus mengajak Kaisar.

Males,” kata Kaisar merespons ajakan salat.

Sementara, Sultan hanya diam saja. Lisannya tidak mengucap apa pun. Ucapan menolak tidak ada. Ucapan mengiyakan juga tidak ada. Sultan lebih memilih menjawab memakai bahasa tubuh. Ia tampak “aras-arasen” beranjak dari tempat bermain.

Bu Wiwik masih terus berusaha merayu Sultan. Sementara, Kaisar terlihat mengabaikan Bu Wiwik dan enggan meninggalkan tempat bermain.

Melihat Kaisar yang enggan meninggalkan tempat bermain, saya pilih menghampiri Kaisar.

“Mas Kai, yuk, salat Asar dulu bareng Pak Kambali!”

Males,” timpal Kaisar.

“Salat itu wajib. Jadi, walau males harus tetap kita paksa.”

“Saya mau salat di rumah saja.”

“Ini kan Mas Kai masih nunggu jemputan dan sekarang sudah masuk waktu asar. Jadi sebaiknya jemaah dulu sembari nunggu jemputan.”

“Ini bentar lagi jemputan datang.”

“Ya, nanti kalau jemputan datang, Pak Kambali yang bilang, biar nunggu Mas Kai salat dulu.”

“Saya mau salat sendiri saja.”

“Salat sendiri itu boleh, tapi pahala jemaah kan lebih banyak.”

Saya raih tangan Kaisar sembari bilang, “Yuk, jemaah bareng Pak Kambali. Eh, Mas Kai kelas 4 apa?”

“4D.”

“Siapa wali kelasnya?”

“Bu Arie.”

Saya gandeng tangan Kaisar dan saya tuntun menuju musala. Sambil jalan, Kaisar terus saya ajak bicara. Sengaja saya alihkan ke pembicaraan yang ringan-ringan. Sultan pun ikut berjalan menuju musala.

Akhirnya Kaisar dan Sultan salat Asar di musala. Ikut berjemaah bersama saya, Bu Wiwik, Pak Adhit, dan pengabdi SD Islam Hidayatullah 02 lainnya.

Selesai salat, saya sengaja berzikir dengan suara keras. Pun dengan zikir pendek. Itu karena ada Kaisar dan Sultan. Namun, Kaisar justru keluar dari saf salat dan hendak keluar musala. Sultan mengikuti kakaknya. Pak Adhit sigap. Beliau menahan Sultan. Gagal. Lalu beliau segera menahan Kaisar. Berhasil. Kaisar kembali ke tempat semula. Demikian pula Sultan, ikut kembali ke saf salat. Keduanya mengikuti zikir. Hingga selesai.

“Terima kasih, Mas Kai. Terima kasih, Sultan. Kalian hebat! Sudah salat Asar, berjemaah pula. Pak Kambali doakan, semoga istikamah, ya.”

Kedua anak itu keluar dari musala dan kembali bermain sambil menunggu jemputan.

Saya meyakini, Kaisar dan Sultan membutuhkan perjuangan yang luar biasa ketika berproses dari “tidak mau” menjadi “mau”. Saya merasa perlu memberi apresiasi sekaligus berharap menguatkan motivasi dan semangatnya.

Saya ambil HP. Saya kirim chat ke Bu Arie, wali kelas Kaisar.

“Bu Arie, sore ini, Kaisar 4D (kakaknya Sultan SD 02) menunggu jemputan di SD 02. Dengan Sultan bermain di area bermain. Azan Asar berkumandang. Jemputan belum kunjung tiba. Kami ajak berjemaah Asar. Awalnya menolak. Hendak salat di rumah. Akhirnya kami “paksa”. Alhamdulillah, mau. Jadi, Kaisar dan Sultan sore ini berjemaah Asar di SD 02. Saya memohon kepada Bu Arie, agar besok, Kaisar diberi apresiasi dengan cara menceritakan kehebatan Kaisar: berjemaah Asar tepat waktu pada sore hari ini. Saya berharap, dengan diceritakan di depan kelas, Kaisar merasa mendapat pengakuan atas prestasinya, walau mungkin dipandang “kecil” oleh orang lain. Demikian, matur nuwun. cc: Pimpinan SD IH”

Selain ke Bu Arie, chat di atas juga saya kirimkan kepada empat orang pimpinan SD 01 sebagai tembusan.

Dan saya masih terpikir: saat Kaisar menolak diajak salat, Sultan pun ikut enggan mengikuti ajakan salat. Ketika Kaisar memenuhi ajakan salat, Sultan pun mengikutinya. Saat Kaisar selesai salat dan langsung pergi hendak keluar musala, Sultan ikut berjalan keluar. Ketika Kaisar kembali ke saf salat, Sultan pun mengikutinya.

Seorang adik mengikuti perilaku kakaknya. Anak kecil mengikuti yang lebih besar, mengikuti yang lebih dewasa, mengikuti orang tua. Jika begitu, perilaku guru pun akan diikuti muridnya. Benarkah demikian? Wallahua`lam. (A1)

Bagikan:

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *