“If He Cuts (Himslef), He Will Learn”, tulis Tim Walker sebagai subjudul tulisan di blognya Taught by Finland. Tulisan yang diunggah pada 19 November 2018 itu menceritakan hasil kunjungannya ke sebuah sekolah dasar di Kuopio, Finlandia. Pada 18 Februari, Tim berkunjung ke kelas kriya kayu di SD Martti Ahtisaari yang diampu oleh Miika Tammekann.

Di sana Tim mendapati anak-anak lalu-lalang di dalam bengkel kerja yang memungkinkan mereka mengambil obor las dengan mudah. Alat ini akan digunakan Miika untuk membantu murid-muridnya menyelesaikan proyek kriya kayu mereka. Tim mengamati dengan saksama situasi kelas. Rupanya Miika melihat kekhawatiran di raut muka Tim lalu meyakinkan tamunya, anak-anak tidak akan menyalakan obor las itu.

“Bagaimana Anda tahu itu?” tanya Tim penasaran.

“Saya percaya pada mereka,” tegas Miika. “Kalau saya tidak percaya, mereka tidak akan berada di sini.”

Pada saat yang lain Tim melihat seorang anak bekerja menggunakan pisau yang amat tajam. Itu membuatnya deg-degan. Lalu ia mengingatkan Miika, anak tersebut bisa memotong jarinya sendiri dengan pisau itu.

“Kalau ia memotong jarinya sendiri, ia akan belajar,” jawab Miika sambil tersenyum.

Keduanya lalu tertawa bersama.

“Tetapi saya tahu, dia tidak sedang bergurau tentang filosofi itu,” tulis Tim di artikelnya.

“Sejauh ini tak pernah ada laporan murid terluka oleh pisau yang digunakannya,” imbuh Miika. “That’s life.”

Video ini mendokumentasikan kunjungan Tim ke kelas Miika. Situasi ruang kelas (bengkel) kriya kayu yang lain dapat dilihat di video ini.

Setelah merasakan enaknya menjadi guru SD di Helsinki, Tim memang suka berkunjung ke sekolah-sekolah di seantero Finlandia. Guru berkebangsaan Amerika itu penasaran: apakah strategi mengajar yang diterapkan oleh guru-guru di seluruh Finlandia sama dengan yang ia saksikan di Helsinki?

Finlandia dikenal luas sebagai salah satu negara dengan sistem pendidikan unggul kelas dunia. Salah satu corak yang mewarnai wajah sekolah-sekolah di sana adalah perpaduan teknologi modern dan pelestarian tradisi. Anak-anak sejak SD akrab dengan i-Pad di ruang-ruang kelas mereka. Namun, mereka juga belajar untuk menguasai pekerjaan-pekerjaan manual (kejuruan). Pertukangan, menjahit, memasak, dan berbagai keterampilan kriya diajarkan kepada mereka.

Dapat dipastikan, pelajaran-pelajaran semacam itu melibatkan penggunaan alat-alat dan bahan-bahan riskan bagi keselamatan. Perkakas tajam, panas, mudah pecah, mudah meledak, dan bahan-bahan mudah terbakar menemani anak-anak dalam kelas-kelas kejuruan itu. Namun, sebagaimana pengakuan Miika, guru-guru di sana sedemikian yakin bahwa murid-murid akan aman-aman saja.

Bagaimana bisa begitu?

Kenalkan

Pertama-tama, guru mengenalkan fungsi dan cara penggunaan peralatan dan bahan-bahan kerja yang ada di ruang kelas kejuruan yang bersangkutan. Nama, tentu. (Duh, takut diprotes oleh guru-guru—di belahan bumi mana itu—yang suka puas hanya dengan mengenalkan nama-nama benda.)

Tunjukkan

Guru mendemonstrasikan cara menggunakan peralatan dan bahan-bahan kerja: bila begini, hasilnya seperti ini; bila begitu, hasilnya seperti itu; dan seterusnya. Tidak kalah penting, guru meragakan akibat dari kesalahan dalam menggunakan alat/bahan. Pisau, misalnya, apa akibatnya jika menggores tangan—tentu, peraganya bukan tangan asli.

Percayakan

Setelah diedukasi—dikenalkan dan didemonstrasikan—tentang fungsi dan cara penggunaan alat/bahan kerja, anak-anak tinggal menunggu satu status: dipercaya. Kepercayaan (trust) yang diberikan oleh guru akan menumbuhkan tanggung jawab (amanah) pada diri murid. Demikian juga yang berlaku pada relasi antara anak dan orang dewasa di lingkungan yang lain—ayah-ibu di rumah, misalnya.

Ungkapan Miika,“If he cuts himself, he will learn,” (bila dialamatkan langsung kepada anak-anak, menjadi “If you hurt yourself, you will learn,”) adalah filosofi yang tidak cukup hanya dipahami dan diyakini oleh guru. Pesan pedagogis itu juga harus ditanamkan kepada setiap anak, hingga mereka menghayatinya. Ini bukan sekadar pesan bahwa pengalaman tersayat pisau akan menjadi pelajaran berharga bagi mereka.

“Jika saya ceroboh dalam menggunakan peralatan, bahaya siap mengancam diri saya sendiri dan orang lain,” adalah pesan yang mesti dipahami anak-anak. Berbekal demonstrasi pemakaian perkakas secara salah dan berakibat fatal, anak-anak akan bernalar secara kritis. Mereka akan membuat asosiasi-asosiasi sebab-akibat. Akhirnya, anak-anak akan menghayati bahwa kepercayaan yang diberikan oleh guru tidak pantas untuk disia-siakan. Pesan guru, “Saya percaya kepada kalian,” dijawab mantap oleh murid-murid, “Saya bertanggung jawab dan dapat dipercaya.” (Uih, menjiplak salah satu darma dari Dasadarma Pramuka!)

Pantang untuk diabaikan, pesan tersebut tidak cukup disampaikan sekali pada pertemuan perdana. Setiap kali hendak masuk ke bengkel kerja, anak-anak wajib mengulang janji itu. Pemasangan tulisan-tulisan afirmasi di lingkungan bengkel juga bisa menguatkan pesan tersebut.

Ancaman bahaya bukan hantu yang harus disembunyikan di dalam kegelapan. Ia mesti dikenali agar bisa diantisipasi.

Tabik.

Bagikan:

By Teguh Gw

Pekerja serabutan yang ingin bisa terus belajar dan belajar terus bisa

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *