“Bu Layla, Bu Puput, Pak Aruf, Bu Shoffa, Pak Kukuh. Mulai hari ini, pengelompokan tahfiz kelas 3 menjadi: …” sebuah pesan baru masuk via WhatsApp. Tertulis pukul 06.44 dari Pak Kambali.
Yap. Lagi dan lagi. Tahun baru. Semester baru. Gedung baru. Dan perubahan baru. Sebuah langkah baru yang penuh harapan.
Semula, tahfiz kelas 3 dibagi menjadi enam kelompok. Kali ini diperkecil menjadi tiga kelompok: saya, Ustaz Aruf, dan Bu Puput. Pengelompokan ini bertujuan agar lebih optimal. Dimulai dari kemampuan yang sama antarmurid.
Sejak semester 2: awal Januari, Kepala Sekolah mencoba menjalankan tahfiz pagi dengan pengelompokan. Jauh sebelum perubahan tersebut, tahfiz dilaksanakan dengan sistem klasikal. Tiap kelas dibimbing oleh ustaz/ustazah pengampu BAQ. Namun, seiring berjalannya waktu, kami mulai menyadari adanya perbedaan capaian hafalan di antara murid-murid. Ada yang hafalannya sudah sampai surah An-Naba’, sementara lainnya ada yang sampai Al-Infiṭār, Al-Muṭaffifīn, bahkan ada yang sampai Al-Balad. Dari situlah muncul ide baru: mengelompokkan murid sesuai dengan capaian dan kemampuan masing-masing. Dan, di tengah perjalanan, pengelompokan ini mengalami perubahan. Kemudian dirombak lagi: berdasarkan kemampuan masing-masing. Hal ini terus dilakukan untuk memastikan tiap anak bisa berkembang dengan maksimal.
Upaya ini tidak terlepas dari perhatian penuh Kepala Sekolah, yang selalu berusaha mengupayakan yang terbaik untuk seluruh warga SD Islam Hidayatullah 02, utamanya untuk murid. Beliau terus menggali dan mencoba berbagai cara (trial and error) agar sesuai dengan standar mutu yang diharapkan. Salah satunya: cinta Al-Qur’an.
“Hafalannya sudah sampai mana?” tanya saya, di hari pertama membersamai kelompok baru. Memastikan sejauh mana capaian mereka.
“Al-Balad, Bu. Tapi Haqqi sama Rayya belum,” jawab anak-anak serempak.
“Oke. Kalau begitu kita mulai sambung ayat dulu, ya. Dari taawuz dan basmalah bersama-sama. Dua, tiga,” aba-aba saya memandu mereka untuk memulai.
Murid-murid melafalkan dengan saksama.
“Selanjutnya, silakan, Rayya,” ujar saya.
Rayya memulai hafalan dengan taawuz. Ia melafalkan dengan tenang dan lancar. Sesekali diingatkan. Tidak banyak. Hanya tiga kali saja. Namun, kali ini berbeda. Rayya bisa langsung melanjutkan dengan mudah dan lancar.
“Alhamdulillah,” puji saya sembari mengacungkan jempol kepada Rayya.
“Wiiih, keren, Ray!” sahut Qaleed. Ia juga mengacungkan jempol kepada Rayya.
“Bagus, Ray!” sahut teman-teman lainnya, tak ingin kalah mengapresiasi keberhasilan Rayya.
Saya tersenyum semringah. Terkesima dengan perubahan yang terjadi. Rayya, yang dulu seringkali kesulitan mengingat, kini menunjukkan kemajuan yang luar biasa. Ini adalah pencapaian yang tak terduga. Sungguh, hal ini sangat menakjubkan.
Tak bisa dimungkiri, kemajuan Rayya yang luar biasa ini tidak terlepas dari dukungan lingkungan sekitar. Baik dari keluarga maupun gurunya. Beberapa kali saya sempat sharing dengan Bu Puput—guru BAQ Rayya. Beliau juga menceritakan ketakjuban yang dirasakan. Padahal saat membersamai Rayya, beliau tidak memiliki ekspektasi apa pun.
Mungkin saja, saat membersamai Rayya, Bu Puput menggunakan pendekatan yang tepat, penuh kesabaran, dan kasih sayang. Namun, tak bisa dimungkiri. Semua ini berkat pertolongan Allah. Rayya, keluarganya, dan Bu Puput hanya bisa berusaha semaksimal mungkin. Sedangkan untuk hasilnya, biarlah Allah yang mengurus. Ternyata, ketika kita pasrah sepenuh hati, di situlah Allah menggerakkan segalanya dengan cara yang tak terduga. Selamat, Rayya! Selamat, Bu Puput!
