Warna-warni baju muslim yang dikenakan anak-anak menambah suasana ceria dan meriah pagi ini. Ya, anak-anak memakai baju muslim bebas. Biasanya, setiap Kamis anak-anak berseragam batik identitas. Kamis pekan ini (12/02/2026), anak-anak diminta memakai baju muslim bebas. Sekolah mengagendakan kegiatan tarhib Ramadan.

Pak Har—staf TU—menyiapkan trike yang beliau pinjam dari kerabat beliau. Dengan sigap, teman-teman guru menghias trike tersebut. Menggunakan bahan-bahan yang ada di kelas. Ini merupakan salah satu hal yang saya syukuri: kepedulian teman-teman. Meski bukan tugas mereka, tanpa harus ada instruksi, teman-teman bahu-membahu menghias trike. Semangat teman-teman guru itu menular kepada Itaf dan Naufal. Mereka berdua turut membantu menghias trike.

Pukul 07.00, anak-anak berkumpul di lobi. Bu Naim memimpin doa pagi dan tahfiz. Lima belas menit berselang, saya manyapa sekaligus membekali anak-anak. Membekali mereka untuk menjaga diri selama tarhib.

“Menjaga diri saat pawai itu contohnya apa saja?” ulik saya.

Beberapa anak mengangkat tangan. Mereka lantas menjawab setelah ditunjuk.

“Tidak boleh menyalip.”

“Tertib.”

“Tidak lari-lari.”

“Jalan di sebelah kiri.”

“Jawaban anak-anak betul semua. Siapa yang sudah membuat bunga manggar?”

Anak-anak serempak mengangkat tangan kembali.

Sama dikasih bendera,” celetuk salah seorang anak.

“Nah, nanti anak-anak boleh memberikan bunga manggarnya kepada orang-orang yang kalian jumpai di sepanjang jalan. Dan karena kita melewati jalan umum, selain menjaga diri, kita juga harus menjaga kebersihan. Jangan sampai barang-barang yang kita bawa mengotori jalan yang kita lewati. Anak-anak bisa?”

“Bisa!” jawab anak-anak serentak.

Sebelum pawai, kami berfoto bersama di depan gedung sekolah. Sangat meriah. Tiap-tiap anak memegang satu hingga dua bunga manggar. Lengkap dengan bendera bertuliskan ucapan selamat menyambut Ramadan. Tiga bunga manggar besar juga telah disiapkan. Menambah kian meriahnya suasana.

Murid-murid kelas 1—4 berbaris mengikuti arahan Pak Kukuh. Trike yang dikemudikan Pak Har berada di urutan pertama. Para penabuh rebana menaiki trike tersebut.  Di belakang trike, ada Gibran dan Fathir yang membawa sepasang bunga manggar besar. Kelas 1—4 berbaris dalam dua lajur di belakang Fathir dan Gibran. Bu Nana melepas rombongan pawai. Kami melewati rute yang telah ditentukan. Dari jam pintar yang saya kenakan, tercatat 6.800-an langkah, dari start hingga finis.

Kami berhenti sejenak di jalan Durian Selatan 2. Sekadar melepas lelah dan dahaga. Para guru membagikan air minum kepada anak-anak. Salma (kelas 2) menyerahkan bunga manggarnya kepada seorang anak yang menonton di depan rumahnya. Sasya (kelas 1) juga mengikuti tindakan kakak kelasnya itu.

Setelah dirasa cukup, kami pun melanjutkan perjalanan.  Menuju Jl. Durian Raya. Adit merupakan salah satu penabuh rebana. Namun, ia turun dari trike. Begitu pula Naufal. Keduanya memilih berjalan kaki di belakang Gibran dan Fathir. Dengan tetap membawa dan memainkan keprak mereka. Saya penasaran ingin memainkan keprak. Akhirnya, saya meminjam keprak yang dimainkan Adit. Tim rebana melantunkan beberapa selawat selama perjalanan.

Bunga manggar besar yang dibawa Gibran mengenai pohon. Salah satu dari ratusan bunga manggar itu jatuh. Dengan sigap, Adit mengambil bunga manggar yang terjatuh itu. Saya ingat betul, warnanya oranye.

“Alhamdulillah,” batin saya.

Pikiran dan hati saya datar saja saat melihat apa yang dilakukan Adit. Hanya sebatas bersyukur dengan hamdalah. Ups, satu bunga manggar Gibran jatuh lagi. Kembali, Adit sigap memungutnya. Di tangannya, kini terdapat dua bunga manggar: oranye dan merah. Dan lagi-lagi, saya menyaksikannya dengan jelas di depan mata.

Masyaallah. Seketika, saya beristigfar karena meremehkan kebaikan Adit. Saat bunga manggar oranye jatuh, saya sempat berburuk sangka Adit melakukannya karena ada saya di belakangnya. Namun, serta merta Allah seakan hendak mengingatkan saya. “Jangan suuzan”.

“Terima kasih, Mas Adit, atas kebaikannya,” ucap saya.

Adit tersipu.

Saat mengucapkan terima kasih kepada Adit, dalam hati saya menyambung kalimat itu dengan: dan pengingatnya. Semoga, kelak saat Adit membaca tulisan ini, ia memahami apa yang saya maksudkan dengan: dan pengingatnya.

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code