Bel tanda masuk berbunyi. Murid-murid bersegera masuk kelas masing-masing. Bagi yang bermain di luar, mereka harus mengembalikan alas kaki dulu ke rak dekat tempat wudu. Murid-murid sudah terbiasa dengan jadwal harian mereka. Setelah istirahat pertama, kegiatan berikutnya adalah salat Duha.

Murid-murid tampak khusyuk melepas kancing lengan baju. Mereka lantas menggulungnya. Tak lupa, murid putra juga menggulung celana panjang mereka hingga sebatas lutut. Sebelum siap, murid-murid dilarang duduk di karpet. Itulah kesepakatan yang telah dibuat pada awal tahun ajaran.

Murid-murid duduk berjajar di karpet. Menghadap pintu kelas. Tiga lajur barisan putra dan 2 lajur barisan putri. Kapten memimpin niat wudu. Bu Eva memilih barisan Kaisar lebih dulu. Disusul barisan Kirana. Di barisan Kaisar ada Abri, Arka, Rafka, Al Fatih, dan Eyza. Sementara Gabi, Aqilaa, Celline, Salma, Sofie, dan Asha berada di belakang Kirana.

Saya menunggu di kelas. Bu Eva, Ustaz Adhit, dan Pak Kukuh membimbing wudu di tempat wudu. Ketiganya memiliki peran masing-masing. Ustaz Adhit membimbing wudu klasikal, Bu Eva membimbing wudu individual, sedangkan Pak Kukuh mengondisikan anak-anak yang menunggu giliran wudu.

Kaisar dkk. sudah selesai wudu. Mereka mengetuk pintu kelas, mengucap salam, dan menutup kembali pintunya. Mereka lantas mengambil peci di loker masing-masing. Setelah itu, mereka mengambil lembar asmaulhusna berlaminasi yang saya siapkan di meja saya. Anak-anak duduk berbanjar menghadap pintu. Kaisar, Abri, Arka, Rafka, Al Fatih, dan Eyza duduk di saf paling depan. Nazam asmaulhusna mulai dilantunkan.  Sejurus kemudian, Kirana dkk. menyusul masuk kelas.

“Gabi, tutup pintunya,” seru Kaisar.

Gabi-lah yang terakhir masuk. Ia lupa menutup pintu. Begitu namanya dipanggil Kaisar, Gabi menoleh. Namun, ia masih mencerna apa yang dimaksud Kaisar. Abri mengamati interaksi kedua temannya itu. Mendapati Gabi belum paham apa maksud Kaisar, serta-merta Abri menutup pintu. Saat melihat Abri melangkah menuju pintu, Gabi mulai paham kealpaannya. Ia pun bermaksud menutup pintu, tetapi keduluan Abri.

Saya menyaksikan kejadian itu dari tempat saya duduk. Rasa haru sekaligus bangga menyeruak. Biasanya, Kaisar selalu menutupkan pintu jika ada temannya yang lupa. Kali ini, Kaisar sengaja tak melakukannya. Ia bahkan memilih cara yang lebih bijak. Bukan karena Kaisar bosan atau malas menutupkan pintunya, tetapi Kaisar ingin Gabi belajar.

Baca juga: Semua Murid, Semua Guru

Niat baik Kaisar telah tersampaikan kepada Gabi. Meski terlambat menangkap maksud temannya, Gabi tetap mendapat pelajaran hari itu. Tantangan berikutnya: mengamalkan pelajaran yang ia dapatkan.

Abri pun tak kalah bijak. Mendapati Gabi masih bingung, Abri memberikan teladan langsung. Ia melakukannya tanpa beban dan paksaan. Dalam hatinya, mungkin ia membatin, “Saya, kan, yang paling dekat dengan pintu. Biar saya saja yang menutup.”

Terima kasih, Kaisar, Gabi, dan Abri. Kalian telah membuktikan bahwa kalian mampu mengistikamahkan kesepakatan kelas nomor 5: saling mengingatkan. (A2)

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code