Selasa (1/7/2025) masuk tahun ajaran baru 2025/2026. Sekaligus menjadi hari pertama Pak Kambali tidak menjabat lagi sebagai Kepala SD Islam Hidayatullah 02. Namun, alhamdulillah beliau masih berkenan untuk membimbing kami—para pengabdi magang. Kami memulai bimbingan salat sekitar pukul 12.45 WIB. Setelah itu Pak Kambali sempat menyinggung akhir doa iftitah mengenai musyrik atau menyekutukan Allah. Bisa disebut juga menduakan.
“Sebenarnya tanpa kita sadari kita kadang menduakan Allah, dengan uang, jabatan, dan lain-lain. Misalkan waktunya salat, tapi kita masih disibukkan pekerjaan. Itu termasuk menduakan Allah,” jelas Pak Kambali.
Saya langsung mak deg, seperti tertampar. Sehari sebelumnya, saya dan beberapa teman yang lain sempat membuat Pak Kambali dan beberapa bapak ibu guru lainnya menunggu untuk salat jemaah. Entah maksud Pak Kambali untuk mengingatkan kami tentang kejadian itu atau tidak. Ya, hanya beliau yang tahu.
Pembahasan itu mengakhiri bimbingan salat. Dilanjutkan pembahasan menulis. Kami harus menyetorkan tulisan setiap hari Sabtu.
“Saya masih terkesan dengan Bu Yeni, yang waktu itu mengirimkan tulisan di hari Sabtu sebelum pukul 07.00 pagi,” puji Pak Kambali mengawali pembicaraan.
“Saya juga masih terkesan dengan Bu Iin, yang sudah berjanji mengirimkan tulisan hari Senin sebelum pukul 03.00 sore, tapi Bu Iin sudah mengumpulkan di hari Sabtu. Malam, ya, Bu, waktu itu?” tambah Pak Kambali.
“Njih, Pak,” jawab saya.
“Nah, malam-malam itu, Bu Iin bilang sebenarnya ingin menjanjikan hari Sabtu, tapi takut kalau tidak bisa menepati. Akhirnya bilang hari Senin, tapi Bu Iin tetap berikhtiar untuk menyelesaikan di hari Sabtu,” tegas Pak Kambali.
“Selain itu, kemarin siapa lagi, ya, Bu, yang mengirim malam-malam?” tanya Pak Kambali.
Belum sempat saya jawab beliau sudah ingat.
“Oh, iya, Bu Nisa!” seru Pak Kambali.
“Karena sudah sekitar pukul 23.00, saya bilang ke Bu Nisa untuk istirahat saja. Loh, ternyata masih dilanjutkan dan dikirim revisinya sekitar pukul 24.00. Masyaallah, luar biasa Bu Nisa ini,” puji Pak Kambali.
Beberapa pujian terus dilemparkan Pak Kambali. Tidak hanya pada forum siang itu, tapi juga pada forum-forum lain sebelumnya. Hal itu membuat saya membatin. “Ini sepertinya Pak Kambali menerapkan hal yang sama ke kami. Seperti yang dilakukan Bu Wiwik ke anak-anak. Yups, obral pujian”. Itu juga istilah yang dipakai Pak Kambali ke Bu Wiwik. Saya hanya meneruskan.
Sepertinya obral pujian ini memang cukup efektif. Tidak hanya anak-anak, orang dewasa pun senang dengan pujian. Lalu, jika disampaikan di forum, mungkin itu bisa jadi motivasi untuk yang lain. Beda halnya dengan hal yang kurang baik. Cukup diutarakan dengan cara dislimurke. Seperti pembahasan dua kalimat terkahir di paragraf pertama.
Hal ini juga mengingatkan saya kepada sifat Rasulullah. Saat pembahasan hadis niat dengan Pak Kambali. Rasulullah ketika menyampaikan hal baik, disampaikan dengan sejelas-jelasnya. Namun, ketika menyampaikan hal kurang baik, disampaikan dengan samar.
Terima kasih, Bu Wiwik. Terima kasih, Pak Kambali. Sudah membuat kami dan anak-anak termotivasi berkat obral pujian. Sekaligus mengingatkan kami pada sifat Rasulullah yang patut diteladan.
