“Snack Bu Wiwik dibawakan Bu Indah, nggih,” jelas Bu Nana selepas megikuti kegiatan galang donasi untuk Palestina.
“Nggih, Bu Nana. Terima kasih,” jawab saya.
Menurut rundown yang saya terima, sedianya acara selesai pada pukul 09.00. Namun, sekitar pukul 09.30, anak-anak baru keluar dari musala SDIH. Saya tidak tega jika harus memaksa anak-anak melanjutkan KBM. Saya putuskan untuk memberi mereka waktu 15 menit untuk istirahat dahulu. Imbasnya, BAQ mundur 15 menit. Bersyukur, Ustazah Na’im dan Ustaz Adhit tidak keberatan.
Saya memberi tahu Bu Tantri—wali kelas 4. Beliau menyepakati. Saya lantas turun ke lantai 1. Menuju ruangan saya. Ruangan tersebut berada di sebelah utara tangga selatan. Lorong lantai 1 sepi. Sayup-sayup terdengar lantunan bacaan Al-Qur’an anak-anak. Kelas 1 sedang mengaji. Tahun ajaran ini, KBM BAQ diatur dalam tiga sesi. BAQ kelas 1 dan 4 dilaksanakan pada waktu yang bersamaan.
Saya mulai membuka laptop. Berupaya menyelesaikan beberapa tugas yang mengular. Meja kerja saya berada di sisi tenggara. Berdekatan dengan dinding kaca. Saat sedang mengetik, sudut mata saya melihat seorang anak laki-laki berjalan dari arah tangga.
Ia mengetuk pintu. Membukanya sembari mengucap salam. Gestur dan pembawaannya tampak tenang. Wajar. Tak tampak ketergesaan. Kedua tangannya membawa kotak snack. Ia mendekati meja saya. Ia lantas mengulurkan kotak snack itu. Masih dengan menggunakan kedua tangannya. Saya menerimanya dan mengucapkan terima kasih.
Anak itu lantas pamit. Mengucap salam, lalu menutup kembali pintu ruangan saya. Saya menyaksikan kejadian singkat itu dengan saksama. Sejenak, saya tertegun sekaligus haru. Rasaya baru kemarin saya membersamai anak itu dan teman-temannya di kelas 1. Ternyata, sekarang mereka sudah kelas 4. Rasa haru pun menyeruak. Tatkala mendapati fakta Ken mempraktikkan adab bertamu dengan sempurna. Ya, anak itu adalah Kennard, murid kelas 4.
Baca juga: Salam
Kejadian ini mengingatkan saya akan rencana saya. Saya bermaksud mengadakan social experiment di Sekolah terkait adab bertamu. Oleh sebab saya belum merealisasikannya, saya mesti menahan diri untuk menceritakannya di sini. Semoga, hasilnya dapat saya ceritakan di tuisan saya selanjutnya.
Alhamdulillah. Benih-benih yang kami semai mulai bertunas. Semoga tak hanya Ken saja yang menampakkan tunasnya. Perjalanan masih panjang. Kami, para guru sekaligus murid, tak boleh berhenti. Konsistensi adalah kunci. Namun, tak pula lupa untuk selalu bersandar pada Sang Maha Rahman.
Terima kasih, Kennard. (A2)
