Saat saya menggulir pesan WhatsApp, satu video masuk dari Bu Wiwik, lengkap dengan takarirnya: “Ada sandal dan sepatu yang tertinggal. Mohon ditindaklanjuti njih, Ibu-Ibu…”

Saya putar videonya. Tampak dua pasang sandal dan satu pasang sepatu tergeletak di depan pintu lobi. Saya cermati baik-baik. Hm, sepertinya saya kenal pemilik salah satu pasang sandal dan satu pasang sepatu itu. Sepasang sandal milik anak kelas 1, sepasang sepatu milik anak kelas 2. Satu pasang lagi, saya belum tahu siapa empunya.

Dalam hati saya bertanya-tanya, “Apakah mereka lupa? Atau memang sengaja? Tapi, saya buru-buru menepis rasa suuzan. Lebih baik saya pastikan langsung.

Saya panggil anak yang saya curigai pemilik sandal.

“Mas K, ini sandal Mas K, ya?”

Ia mengangguk pelan sambil tersenyum malu-malu.

“Mas K lupa, ya?” goda saya.

Anggukan kecil lagi. Saya tak ingin membuatnya canggung dengan terlalu banyak tanya.

“Oke, sekarang dikembalikan dulu, ya. Lain kali kalau selesai main, langsung dibereskan, ya, Nak,” ujar saya menutup percakapan.

Sepertinya ini bukan kejadian pertama. Mungkin sudah pernah juga sebelumnya. Tapi dengan pemilik sandal yang berbeda. Maka di sela-sela persiapan salat Duha, saya ambil waktu untuk refleksi ringan.

“Teman-Teman, tadi setelah istirahat pertama, ada dua sandal dan satu sepatu yang tertinggal di depan pintu lobi.”

Saya lihat sekilas, Mas K tersenyum malu. Tersentil, mungkin. Tapi sebelum saya lanjut bicara, satu tangan kecil terangkat. Saya kaget. Jarang sekali anak ini mengangkat tangan, kecuali jika penting.

“Iya, Mas Al Fatih, silakan,” kata saya sambil menunjuknya.

“Tadi K sudah saya ingatkan, Bu. Tapi malah nggak mau, langsung lari,” ucapnya polos dan jujur.

Saya tersenyum. Masyaallah, perhatian sekali anak ini. Tanggap dengan apa yang saya sampaikan. Padahal saya belum memberitahu siapa anak yang dimaksud.

“O, begitu? Teman-Teman, kalau diingatkan temannya untuk kebaikan, sebaiknya bagaimana?”

Nurut!” seru Kaisar dan Abrisam hampir bersamaan.

“100!” sahut saya, sambil mengacungkan jempol ke arah mereka.

“Jadi, Anak-Anak diingat-ingat, kalau habis main, sandalnya langsung dikembalikan. Tidak perlu buru-buru, nanti jadinya lupa.”

Lalu saya menoleh ke arah Al Fatih, “Terima kasih, Mas Al Fatih. Sudah peduli dan mau mengingatkan temannya. Hebat!”

Dan tak lupa, saya sapa Mas K dengan bangga, “Pemilik sandalnya juga hebat, lo, Teman-Teman. Mas K langsung jujur waktu Bu Eva tanya.”

Lagi-lagi Mas K tidak berkomentar. Hanya senyumnya yang ia tampakkan.

Kadang kita mengira bersikap jujur dan berani menegur itu perkara kecil. Tapi saat benar-benar dihadapkan dengan situasinya, ternyata tidak semudah yang dibayangkan.

Namun, hari itu dua hal berharga sekaligus berhasil tumbuh di kelas kami: kejujuran dan kepedulian.

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code