“Siapa yang hari ini sudah salat Subuh, angkat tangan!” seru saya, setelah mengucap salam.

Beberapa anak langsung mengangkat tangan. Ada juga yang belum. Anak-anak yang sudah mengangkat tangan dengan sigap mengingatkan teman-temannya yang tidak fokus.

“Bu, enggak ditanya yang salat di masjid?” sela Ridho spontan.

“Nanti, ya,” sahut saya.

Mata saya pun langsung berselancar, menyapukan pandangan ke tiap barisan anak putra. Semuanya mengangkat tangan. Tidak ada yang menoleh ke kanan ataupun ke kiri. Sekilas, anak putra tampak tegang. Ada harap-harap cemas. Seolah ini menjadi ajang penentuan. Khawatir jika ada teman yang tidak salat Subuh. Bagi mereka, hal ini termasuk kompetisi. Dan memang, jiwa kompetisi anak putra lebih terasa dibanding anak putri. Lalu, saya menemukan seorang anak yang tidak mengangkat tangan. Ia tertunduk. Diam.

“Waaah, anak putra keren!” puji saya. “Tapi sayang. Ada satu anak yang tidak salat. Jadi, nilainya 99,” jelas saya.

“Yaaah …,” keluh beberapa anak kecewa. Seketika mereka langsung menoleh ke kanan-kiri, dan ke belakang. Mencari tahu siapa yang belum salat Subuh pagi itu.

“Gak pa-pa, Teman-Teman. Yuk, kita doakan. Semoga yang salatnya belum lengkap, setelah ini salatnya jadi lengkap lima waktu. Dan yang didoakan juga harus berusaha memperbaiki salatnya, ya,” ujar saya menenangkan.

“Oke, anak putra boleh menurunkan tangannya. Selanjutnya, anak putri,” aba-aba saya. Spontan, mata saya langsung menyapu tiap barisan anak putri.

“Waaah, anak putri juga keren! Tapi sayang. Ada tiga anak yang tidak salat Subuh. Jadi, nilainya 97.”

“Teman-Teman, yang salatnya belum lima waktu. Ayo, kita perbaiki. Biar salatnya full. Kayak Kalynn dulu. Kalau ada azan langsung salat. Biar salatnya tidak lupa,” titah saya.

“Siapa yang hari ini salatnya di masjid?” tanya saya.

Ridho dan Itaf mengangkat tangan.

“O, ya. Yang salatnya di masjid/musala?” ucap saya, teringat ada beberapa anak yang biasanya salat di musala.

Ken, Ridho, Itaf, dan Haqqi mengangkat tangan. Alhamdulillah.

Tiba-tiba terlintas di benak saya, “Adakah, tadi pagi yang salat tahajud?”

Ridho dan Itaf kembali mengangkat tangan. Tak hanya mereka berdua. Nadia dan Kalynn juga melaksanakan salat tahajud.

Masyaallah. Hati saya langsung berdesir. Baru beberapa menit berlalu, rasanya seperti mendapatkan embusan angin sejuk di tengah padang pasir yang gersang.

Hari itu, hari pertama anak-anak melaksanakan Penilaian Akhir Tahun (PAT). Sekaligus, pelaksanaan tahfiz dimulai kembali dengan basis per kelas. Baca juga: Berhati Besar

Saya mendapatkan amanah untuk membersamai anak-anak kelas 3 tahfiz di kelas. Pagi ini, saya ingin mengajak anak-anak kelas 3 untuk mengulas makna hari yang bersejarah: Tarwiah dan Arafah.

“Teman-Teman, ada yang tahu, gak? Hari ini hari apa?” pancing saya.

Langit mengangkat tangan. “Hari Rabu, Bu. Kita ulangan,” jawabnya setelah dipersilakan.

Saya tertawa kecil, “Betul, sih. Tapi belum itu yang Bu Guru maksud.”

He-he. Saya sadar. Pertanyaan saya terlalu umum. Belum menjurus. Wajar saja kalau penafsirannya jadi bermacam-macam.

“Hari itu, Bu …. Hmmm. Apa, ya?” gumam Itaf sambil berpikir keras. “Ah, Arafah, Bu,” sambungnya.

“Sedikit lagi, Taf. Kalau Arafah, besok,” jawab saya.

Anak-anak terdiam. Hening.

Tidak ingin kehilangan momen. Saya mengajukan pertanyaan lagi, “hari ini, adakah yang berpuasa?”

Tiga anak mengangkat tangan: Itaf, Ridho, dan Kalynn. Saya pun dibuat terpana. Bagaimana tidak. Hari ini mereka akan melaksanakan ulangan, tapi mereka tetap menjalankan puasa.

“Itaf, hari ini puasa apa? Tahu, gak?” tanya saya.

“Hmmm. Lupa, Bu. Pokoknya, bapak saya mewajibkan satu keluarga untuk puasa.”

“Kalau Ridho?” tanya saya.

“He-he. Gak tahu, Bu. Saya diajak Papa,” akunya.

“Kalau Kalynn?”

“Gak tahu juga, Bu. Saya diajak Mama,” jelasnya.

Saya mengangguk sambil tersenyum.

“Jadi, Teman-Teman, hari ini adalah hari tarwiah,” jelas saya, lalu mulai bercerita tentang sejarah hari tarwiah.

Diskusi mengalir ringan. Tidak terasa lima belas menit berlalu. Bel berbunyi. Tanda berakhirnya tahfiz pagi.

Anak-anak langsung persiapan duduk di tempat yang telah ditentukan.

Tiba-tiba ….

“Bu, saya izin wudu dulu, ya?” pinta Nadia.

“Iya, Nak.”

“Saya juga, ya, Bu,” pinta Kalynn, mengekor di belakang Nadia.

Hati saya kembali berdesir. Hari pertama pelaksanaan tes bertepatan dengan hari spesial. Bebarengan pula dengan kebiasaan-kebiasaan baik. Semoga hal-hal baik ini terus berlanjut dan menebar ke teman-teman lainnya. Nah, yang jadi pertanyaan: sanggupkah saya meneladan murid-murid kelas 3?

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code