Perdana, lapangan belakang ruang KS dipakai untuk kegiatan. Jumat, 16 Mei 2025, kegiatan latihan motorik untuk anak-anak putri kelas 1 dan 2. Saya bertugas mengawal kegiatan tersebut. Anak-anak dibagi menjadi dua kelompok. Kelompok kelas 1 dan kelas 2. Yang di lapangan belakang ruang KS. Yang lainnya di selasar lantai satu.

“Sudah lumayan ramai, coba lihat kelas 2, ah,” batin saya.

Saya pun berjalan ke dalam sekolah. Melalui pintu samping (pintu yang menghubungkan parkiran motor dengan lorong kecil dekat toilet putra). Baru berjalan beberapa langkah, saat melewati parkiran dan melihat jendela ruang guru, eh, saya melihat beberapa anak sedang membersihkan lantai ruang guru dengan sapu.

Mereka tampak tergesa-gesa. Tengok kanan dan kiri seakan takut jika ada yang melihat. Tapi tak melihat saya, yang berjalan di luar ruangan. Saya berharap mereka melihat saya. Namun, belum sampai mereka melihat saya, aktivitas mereka sudah selesai dan keluar dari ruang guru. Saya pun bergegas menghampiri mereka.

“Nadia, kenapa kok bawa sapu?” tanya saya.

Mmm, ndak pa-pa, Ustaz,” jawabnya.

Dari raut wajahnya, terlihat seperti menyembunyikan sesuatu. Saya pun masuk ke ruang guru. Baru dapat satu langkah, eh, kaki terasa lengket, seperti banyak butiran kecil menempel.

“Oh, … ini pasti ulah mereka tadi, astagfirullah,” batin saya suuzan.

Saya pun tak terlalu menggubris. Toh, sudah dibersihkan juga. Mereka sudah bertanggung jawab. Alhamdulillah.

Beberapa saat setelah itu, saya melanjutkan kegiatan dengan anak-anak putri kelas 2 dan masuk ruangan lagi. Eh, Nadia cs sudah ada di dalam.

“Nah, kesempatan emas, nih, buat minta klarifikasi dari mereka,” batin saya.

Tanpa ragu, saya tanyalah mereka.

Ehem, … tadi siapa, ya, yang numpahin gula?” tanya saya pura-pura tidak tahu.

Ndak tahu, Ustaz,” jawab salah seorang dari mereka.

Karena belum ada yang mengaku, saya pakai jurus yang kedua. Saya andalkan fungsi CCTV yang menempel di sudut ruangan.

“Yang bener, siapa … hayo? Ustaz habis lihat CCTV, lho. Kalian lihat, kan, tuh di atas,ujar saya sambil menunjuk letak CCTV yang berada di atas saya persis.

Eh, bukannya menjawab, mereka malah pamit keluar. Salah tingkah. Saya memang tak memasang wajah marah. Sengaja, supaya mereka mengaku dengan mudah dan menjelaskan kejadian yang sesungguhnya.

“Waduh, realitas tak sesuai ekspektasi,” batin saya.

Saya ke masjid untuk salat Jumat bersama murid-murid laki-laki kelas 3. Pulang dari masjid saya langsung menyantap makan siang yang sudah sedia dari sekitar jam 11. Saat saya makan, terdengar ketukan pintu.

“Tok … tok … tok …. Assalāmu ’alaikum.”

Wa’alaikumus-salām, ya, silakan masuk!” izin saya.

Lebih dari lima anak berjalan masuk. Yang saya ingat Nadia, Cemara, Kalynn, Naren, dan Najwa. Sambil saling pandang. Senyum salah tingkah menghiasi wajah mereka. Berjalan sedikit terburu-buru. Sampailah di samping meja saya.

“Ustaz, kami minta maaf, ya, udah numpahin gula,” ujar mereka serentak.

Lho, tadi Ustaz tanya, kok tidak ada yang menjawab?” respons saya.

“He-he … maaf, Ustaz,” jawab salah seorang dari mereka.

“Alhamdulillah, iya, ndak apa-apa, sekarang Ustaz minta tolong gulanya diisi lagi, ya!” pinta saya.

“Oke, Ustaz,” jawab salah seorang.

Mereka pun dengan sigap memenuhi perintah saya. Mengisi stoples gula—yang tinggal seperempat karena semula mereka tumpahkan—sampai penuh. Mungkin karena mereka telanjur mengakui kesalahan.

Awalnya, saya sempat meragukan perasaan bersalah mereka. Yang penting saya sudah berusaha untuk bertanya. Merasa bersalah atau tidak, ya, sudahlah. Sudah saya maafkan perbuatan mereka. Masak iya tidak saya maafkan?

Namun, keputusasaan saya tak dibiarkan oleh Allah. Allah mengirimkan bidadari-bidadari kecil itu untuk datang, mengakui kesalahan, dan minta maaf. Lā ḥaula wa lā quwwata illā billāh.

Terenyuh! Saya terharu dalam hati. Suuzan saya, mereka menyepelekan. Tapi ternyata hati kecil mereka digerakkan oleh Allah. Walau sekadar untuk datang dan minta maaf. Justru itu sangat ngayemke hati saya. Akhlak mereka sudah terbentuk. Hati mereka lembut. Masyaallah.

Sungguh, hari itu sebenar-benarnya “Jumat berkah”.

Baca juga: Doa Nadia

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code