Dedikasi luar biasa ditunjukkan oleh teman-teman. Meski libur, mereka berkenan tetap berangkat ke Sekolah. Bahkan, lebih awal dari biasanya. Saat murid-murid libur, jam kerja pengabdi di Hidayatullah diatur mulai pukul 07.30. Hari ini, Sekolah berkebijakan pukul 07.00. Hal ini terpakasa dilakukan demi suksesnya agenda PGOTW (Pertemuan Guru dan Orang Tua/Wali Murid) Kelas 1.
PGOTW kali ini sangat istimewa. Selain dihadiri oleh orang tua murid baru SD Islam Hidayatullah 02, anak-anak—murid baru SD Islam Hidayatullah 02—juga banyak yang ikut orang tua mereka. Makin istimewa, pertemuan ini juga dihadiri oleh dua mantan Kepala Sekolah. Pak Kambali dan Bu Nana. Pak Kambali, mantan Kepala SDIH 02 dan Bu Nana, mantan Kepala SMP Islam Hidayatullah. Dan sejak 1 Juli 2025, Ibu Ratna Arum Sari, S.S.—Bu Nana—diamanahi sebagai Kepala SD Islam Hidayatullah 02.
Bu Nana memperkenalkan diri dan menyambut. Pak Kambali yang memaparkan program Sekolah. Bersyukur, 20 dari 25 wali murid yang diundang dapat hadir. Beberapa yang tidak dapat hadir pun telah menyampaikan izin dan alasan ketidakhadirannya.
Pertemuan berlangsung selama kurang lebih dua jam. Usai pertemuan, kami membereskan kembali sarana prasarana yang digunakan. Sembari beristirahat, saya, Bu Shoffa, dan Bu Eva mengobrol di ruang TU. Obrolan seputar kesedihan kami atas purnatugasnya Pak Kambali dari SDIH 02.
“Saya jadi mellow, Bu. Apalagi setelah baca tulisan Pak Kambali di (grup) Klinik Menulis,” terang Bu Shoffa.
“Saya belum membuka grup, Bu. Pak Kambali menulis tentang apa, Bu?” tanya saya.
“Judulnya ‘Pamit’, Bu,” jawab Bu Shoffa.
“Ah, sudah makin dekat waktunya,” batin saya, begitu mendengar jawaban terakhir Bu Shoffa tersebut. Makin dekat waktunya Pak Kambali mengemban amanah baru di SD Islam Hidayatullah. Meninggalkan SD Islam Hidayatullah 02.
Saya menepis angan itu. Kembali pada kenyataan bahwa cepat atau lambat, kenyataan itu akan benar-benar nyata. Obrolan pun diakhiri. Pak Kambali masuk ke ruang TU. Sekaligus beliau pamit pulang.
Saya melanjutkan kegiatan bersama teman-teman pengabdi magang (PM): mengaji. Kami mengaji di kelas 1. Sebelumnya, teman-teman PM mengaji dengan Pak Kambali. Materinya: bacaan salat. Sebelum mulai membimbing anak-anak, Pak Kambali ingin memastikan bacaan salat teman-teman PM sesuai dengan yang diajarkan kepada anak-anak.
Bel penanda waktu salat Zuhur berbunyi. Saya mengakhiri ngaji. Saya kembali ke ruangan saya. Membuka laptop dan mengunduh materi paparan PGOTW hari ini. Saya menjanjikan untuk mengirimkannya ke grup wali murid kelas 1. Sembari menunggu proses unduh, saya membuka aplikasi Telegram. Klik “Klinik Menulis”.
Saya menatap kiriman fail 174a. Pamit. Pak Kambali mengirimkan fail tersebut pukul 08.17. Saya ragu, hendak membukanya atau tidak. Namun, rasa penasaran saya lebih besar. Saya tepis keraguan itu.
Membaca tulisan teman-teman yang dikirim di “Klinik Menulis” selalu memberi hiburan tersendiri. Biasanya saya membaca tulisan-tulisan tersebut dengan teknik skimming. Namun tidak untuk kali ini. Kalimat demi kalimat saya cermati. Rasanya (mungkin) seperti yang dirasakan Bu Shoffa.
Angan saya melayang. Mengingat kembali masa-masa awal “membangun” SD 2. Hampir setiap hari Pak Kambali memberikan wejangan tentang pendidikan, keguruan, dan keislaman. Saya sering menyebutnya “cuci otak” saat saya menceritakan kembali ke teman-teman.
Baca juga: Ngopeni Ngaji
Pak Kambali mengubah paradigma saya tentang pendidikan. Maka, saya sanggah pernyataan Pak Kambali ini: “Awalnya saya berpikir, saya berhasil membimbing Bu Wiwik. Namun, ternyata saya salah. Saya ‘nemu‘ Bu Wiwik.” Apa yang saya lakukan sekarang, salah satunya “akibat” cuci otak itu.
Tak dimungkiri, belajar merupakan sebuah proses yang panjang. Sepanjang proses itu pulalah, beliau yang selalu menjadi rujukan saya. Terima kasih, Pak Kambali. Selamat menjalankan tugas yang baru. Mohon doakan kami semoga dapat meneruskan kebaikan yang telah Pak Kambali ukir untuk Sekolah.
