Seorang anak mendekati meja saya. Menyerahkan masker yang talinya lepas.

“Bu, tolong,” pintanya.

“Langit bisa sendiri, kan?”

“Bisa, sih. Tapi, saya butuh jarum, Bu.”

Langit bermaksud meminjam jarum atau benda tajam lainnya dari saya.

“Bu Wiwik enggak punya. Pakai ini saja, Ngit,” saran saya sembari menyodorkan gunting.

Langit tampak kebingungan. Ia bermaksud menusuk bagian tepi maskernya dengan gunting itu. Saya mencegahnya. Saya mencontohkan cara yang lebih efektif. Saya menekuk ujung masker Langit. Lalu, saya gunting lipatan itu. Langit paham langkah selanjutnya. Ia meminta kembali maskernya. Ia lantas mengikat tali masker itu ke dalam guntingan yang sudah terbuat.

“Sebenarnya, hari ini saya mau puasa, Bu. Tapi saya enggak yakin,” jelas Langit.

“Enggak yakin, gimana maksudnya?” selidik saya.

“Ya, enggak yakin aja, Bu,” respons Langit. “Besok, insyaallah, saya mau puasa Syawal.”

“Alhamdulillah. Semoga Allah mudahkan, ya….”

Percakapan dan kejadian tersebut terjadi pada hari Senin. Selasa pagi, saat apel, saya mendekati Langit.

“Langit jadi puasa?”

“Enggak jadi, Bu. Nih!” respons Langit sembari memperlihatkan lengan kirinya.

“Ini kenapa?”

“Sakit, Bu. Cium aja (aromanya),” pinta Langit.

Saya mendekatkan wajah saya ke lengan kiri Langit. Tercium aroma min. Saya tidak melanjutkan percakapan. Sepertinya Langit masih enggan bercerita. Belakangan saya baru tahu. Senin siang sepulang sekolah, terjadi insiden antara Langit dan salah seorang temannya. Menyebabkan tangan Langit terkilir dan bengkak.

Keesokan harinya, saya kembali menanyai Langit. Tentang rencana puasanya.

“La, kan, besok, Bu…,” jawab Langit.

“Oh, ternyata itu maksudnya,” batin saya. Langit bermaksud puasa Syawal di hari Kamis.

Sejujurnya, Selasa pagi, saat saya menanya Langit, saya agak kecewa. Namun, ketika mendapati kegundahan Langit akan kondisi tangannya, kekecewaan saya menjelma jadi keibaan. Hari Rabu, saya berusaha mengenolkan ekspektasi. Hingga Kamis paginya, Langit melapor bahwa ia berpuasa. Kebahagiaan saya membuncah. Selain karena puasanya Langit, juga oleh sebab komitmennya. Langit tak asal bicara. Tak asal membual. Tak juga mengobral janji.

Kebahagiaan saya makin menjadi saat mendapati fakta Kamis siang. Di saat teman-teman Langit menikmati makan siang, tampak Langit dan salah seorang temannya tengah bersenda gurau di karpet. Sambil memainkan kursi kecil yang biasanya dipakai para guru saat menjelaskan di depan kelas. Teman Langit itu adalah Fillio. Ya, Fillio juga berpuasa! Saya mendapat bonus dobel hari ini. (A2)

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code