Sajadah saya gelar di atas karpet kelas. Tiga buah kursi saya pasang di ujungnya, sedikit dimajukan ke depan, supaya siapa pun tetap bisa lewat dengan nyaman. Kelas sedikit riuh oleh aktivitas anak-anak dan yang berdatangan.

Belum lama sajadah itu terbentang, tiba-tiba Namira mendekat.

“Bu Eva mau salat apa?” tanyanya penuh rasa ingin tahu.

“Salat Duha,” jawab saya.

Setiap kali saya menggelar sajadah di kelas, hampir selalu ada anak yang penasaran. Ada yang mengira saya sedang salat Subuh. Ada juga yang berkomentar, “Bu Eva Subuhnya kesiangan, ya?” Setelah saya jelaskan, biasanya mereka hanya mengangguk sambil berkata, “Ooo…” lalu kembali ke aktivitasnya.

Namun, kali ini istimewa.

“Saya mau ikut, tapi nggak bawa mukena,” kata Namira.

Kalimat sederhana itu membuat hati saya seketika meleleh.

Nggak pakai mukena juga gak apa-apa, Nam. Yang penting auratnya tertutup,” jawab saya.

“Oke!” sahutnya cepat, dengan wajah yang langsung berbinar.

“Namira sudah wudu belum?” tanya saya lagi.

“Belum.”

“Kalau begitu sekarang wudu dulu, ya.”

Namira tampak berpikir sejenak, lalu menawar dengan polos.

“Saya ajak Zahra, ya, Bu?”

“Boleh.”

Tak lama kemudian Namira menggandeng Zahra. Keduanya berjalan keluar kelas untuk berwudu. Saya sendiri tidak tahu bagaimana cara Namira membujuk Zahra hingga ia mau ikut. Yang saya lihat hanya dua anak kecil yang kembali dengan wajah basah oleh air wudu.

Kami pun salat bersama.

Namira dan Zahra berdiri di samping saya, menirukan setiap gerakan. Rukuk, sujud, duduk, semuanya mereka ikuti dengan sungguh-sungguh. Teman-temannya sebagian memandangi dengan raut wajah penasaran. Ada juga yang spontan bertanya.

Setelah selesai dua rakaat, saya menoleh dan berbisik, “Bu Eva mau salat lagi. Mau ikut?”

Namira dan Zahra saling tatap, lalu Namira bertanya dengan polosnya.

Emang boleh, Bu? Berarti nanti saya sama Zahra nggak usah salat Duha lagi sama teman-teman?”

Saya tertawa kecil, terasa seperti de javu.

“Salat Duha boleh banyak rakaat, sampai dua belas pun boleh. Tapi nanti tetap ikut salat Duha sama teman-teman, ya.”

Namira mengangguk. Ia menoleh ke arah Zahra. Zahra hanya menurut saja. Zahra tampak sedang tidak enak badan jadi tidak banyak bicara.

Kami melanjutkan salat.

Beberapa rakaat kemudian saya menghentikan diri.

“Bu Eva sudah selesai. Soalnya mau lanjut aktivitas lain. Namira sama Zahra sudah cukup atau mau lanjut?” tanya saya.

“Lanjut, ah, Bu,” jawab Namira cepat, sambil kembali melihat Zahra seolah meminta persetujuan.

Dan lagi-lagi Zahra hanya menurut.

Mereka terus salat. Hingga akhirnya mencapai sepuluh rakaat.

Saya hanya bisa tersenyum. Rasanya saya yang kalah. Semangat mereka justru lebih besar daripada saya.

Di tengah itu, tiba-tiba Arsyila menghampiri saya. Ia mengajak salim, masih membawa tas. Ia baru saja sampai, lalu bertanya dengan suara lirih.

“Mereka salat apa, Bu?”

“Salat Duha,” jawab saya.

“Saya mau juga, Bu.”

“Masyaallah. Boleh sekali. Arsyila menata tas dulu, lalu wudu, ya,” arah saya.

Arsyila segera berlari kecil. Tak lama kemudian ia kembali dengan wajah yang sudah dibasahi air wudu.

Namun, sayangnya, belum sempat ia salat, bel lebih dulu berkumandang.

Arsyila berhenti di depan saya. Wajahnya tampak sedikit kecewa, tetapi ia tetap berusaha tersenyum.

Bel mungkin menghentikan niat Arsyila pagi itu. Tapi saya percaya, keinginannya belum berhenti.

Benih-benih kebaikan yang tumbuh di hati anak-anak, kadang dari hal yang sangat sederhana. Lewat rasa penasaran. Lewat ajakan teman sebaya. Lewat melihat teman.

Semoga benih-benih kebaikan itu terus tumbuh menjadi kebiasaan baik yang terus mereka jaga, bahkan ketika mereka sudah tumbuh dewasa. Amin.

Bagikan:

Leave a Reply

Scan the code