“Ngapunten, Pak, jenengan yang mau jemput anak-anak, njih?” tanya saya kepada anggota TNI yang bertugas menjemput anak-anak, pagi itu.
“Iya, Pak, mau berangkat sekarang?” respons petugas tersebut.
“Belum, berangkatnya 07.45, Pak,” jawab saya.
“Oh, iya, saya tunggu di sini,” responsnya.
“Mobilnya di mana, njih?” Tanya saya.
“Itu, di sana,” sahutnya, sambil mengacungkan telunjuk ke arah selatan lapangan futsal.
“Oh, njih,” ujar saya.
Dari pos satpam, saya pun bergegas berjalan ke ruang kelas 2 untuk memberi tahu tim bahwa mobil yang menjemput sudah datang.
Pagi itu, Selasa, 22 April 2025, anak-anak kelas 2 mendapatkan pengalaman berharga. Mereka mengikuti kegiatan Sekolah: kunjungan instansi. Kelas 2 tahun ajaran ini berkesempatan berkunjung ke YONIF 400/BR Semarang. Salah satu batalyon TNI di Kota Semarang.
Baca juga: Naik Truk TNI, Lihat Senjata Asli.
Walaupun ada kunjungan instansi, kegiatan Sekolah pagi itu tetap berjalan normal. Diawali dengan apel dan berdoa. Dilanjutkan dengan tahfiz. Dan masih sempat salat Duha. Baru persiapan berangkat ke BR.
Kami mengajukan untuk ada penjemputan dari pihak BR. Alhamdulillah, pengajuan kami memperoleh acc. Anak-anak pun dapat merasakan bagaimana rasanya naik mobil TNI. Memang jaraknya dekat. Sehingga sang driver tak perlu menancap gas lebih dalam. Pelan-pelan namun pasti. Akhirnya kami sampai di tujuan.
Sesampainya di BR, kami diturunkan di parkiran kendaraan tempur. Terlihat banyak sekali kendaraan terparkir rapi. Begitu juga anak-anak. Baris rapi menghadap ke barat. Dengan background lapangan latihan TNI yang terdapat replika tebing di ujungnya, saya pun tertarik untuk mengabadikan pemandangan itu. Saya ambil gambar dengan iPhone 11 Pro yang beberapa bulan lalu saya beli untuk istri. Ya, saya pinjam untuk kegiatan Sekolah. Untuk kepentingan pengambilan dokumentasi. Karena memang kameranya support. Katanya, sih, hasil gambarnya bagus.

Beberapa gambar dan video saya ambil. Lalu saya kirim ke Bu Indah untuk dikombinasikan dengan hasil jepretan beliau yang sama-sama diambil dengan iPhone. Kemudian diedit dan dipublikasikan.
Beberapa titik di BR dijelaskan oleh pemandu. Ada museum, asrama, lapangan tembak, klinik, dan masih banyak lagi. Hingga akhirnya kami disuguhi beberapa jenis senjata tempur di GOR Firdaus. Di sana disambut lagi oleh beberapa anggota. Begitu masuk, anak-anak sudah antusias. Saling bertanya dan melihat-lihat sekitar GOR.
Kami diberi waktu untuk istirahat sejenak. Duduk dan makan bekal masing-masing. Saya ikut duduk dan makan karena kebetulan dibawakan bekal oleh istri tercinta. Sambil duduk dan makan, Pak Tentara menjelaskan sedikit tentang persenjataan. Dari barisan belakang saya mendengar suara Fathir cukup lantang.
“Itu senjatanya boleh dipegang, pak? Boleh dimainkan?” tanya Fathir.
“Iya, boleh,” jawab singkat Pak Tentara.
“Yeee,” respons Fathir kegirangan.
Spontan, saya dibuat senyum oleh sikap Fathir. Walaupun di tempat baru ia tak sungkan ataupun ragu untuk bertanya. Ia lontarkan pertanyaan seolah mewakili teman-temannya. Jika sikap Fathir menggambarkan masa kecil saya dulu, ketika saya di posisi Fathir, belum tentu saya berani bertanya tentang hal tersebut.
Berani. Sikap Fathir tak diragukan lagi. Ia membekali masa belajarnya dengan keberanian. Bukankah sikap ini diperlukan oleh semua orang? Berani bertanya, berani bicara, dan berani-berani yang lainnya. Saya pun masih sangat butuh belajar untuk menjadi pemberani dalam segala hal.
Akankah saya bisa seberani Fathir?
