Hari ini (Selasa, 22 April 2025), kelas 2 mengikuti kegiatan Kunjungan Instansi ke Yonif 400/Banteng Raiders. Lokasinya tidak jauh dari sekolah, hanya sekitar 15—20 menit perjalanan.
Pukul 08.00 kami berangkat dari sekolah menggunakan truk TNI yang sudah menunggu di parkiran. Perjalanan diawali dengan doa yang dipimpin oleh Ustazah Layla. Setibanya di lokasi, kami transit di parkiran mobil perang. Setelah itu kami menuju Museum Ahmad Yani yang berada di dalam Markas Komando (Mako). Museum ini menyimpan sejarah berdirinya Yonif 400/Banteng Raiders. Satuan ini didirikan oleh Jenderal Ahmad Yani, sehingga museum tersebut diberi nama sesuai namanya.
Di dalam museum, anak-anak dapat melihat banyak foto komandan yang pernah memimpin satuan ini, berbagai jenis seragam TNI, serta pesan-pesan peninggalan Pak Ahmad Yani beserta istrinya. Setelah mendapat penjelasan dari Pak Agil, anak-anak diberi kesempatan untuk mengamati dan membaca berbagai peninggalan yang dipamerkan.
“Bu, Kinan mau tanya,” ucap Alisha.
“Tanyanya ke Pak TNI saja. Mumpung di sini,” jawab saya.
“Enggak, ah, Bu. Malu,” sahut Kinan malu-malu.
“Ayo, Bu Yunita dan teman-teman temani,” desak saya sambil mengajak Alisha dan Icha.
“Enggak, Bu. Enggak mau. Malu.”
“Ya sudah, nanti enggak tahu loh, jawabannya,” goda saya sambil tersenyum.
Saya pun kembali mengamati sekeliling museum. Tak lama kemudian, Aya menghampiri.
“Bu Yunita, kenapa lambangnya kepala banteng? Kayak di sila keempat Pancasila.”
“Hmm, … Bu Yunita kurang tahu pasti alasannya. Lebih baik tanya langsung ke Pak TNI, yuk!” ajak saya.
“Enggak mau, ah, Bu. Malu.”
Sama halnya seperti Kinan. Aya juga malu untuk bertanya.
“Enggak pa-pa, Bu Yunita temani.”
Akhirnya, Aya memberanikan diri bertanya.
“Pak, kenapa lambang Banteng Raiders kepala banteng? Kayak di sila keempat Pancasila?”
“Itu karena dari namanya Banteng Raiders, jadi lambangnya menggunakan kepala banteng,” jawab Pak TNI.
“Batalyon itu sebenarnya banyak dan namanya bisa berganti-ganti. Nah, yang di sini dari dulu enggak pernah ganti nama. Paling hanya nomornya saja, misalnya Yonif 400, Yonif 431, dan seterusnya,” lanjut Pak TNI.
“Oooh ….” Aya mengangguk, tampaknya sudah puas dengan jawaban Pak TNI.
Setelah dari museum, anak-anak diajak menaiki kendaraan perang TNI: dua mobil Atav dan satu mobil Hilux. Mereka diajak berkeliling asrama, melihat lapangan upacara, rumah ban, tempat pelatihan menembak, klinik pengobatan, dan berbagai fasilitas lainnya.
Selesai berkeliling, kami beristirahat sejenak sambil menyantap kudapan yang telah kami bawa. Sembari makan, kami mendengarkan penjelasan tentang macam-macam senjata milik TNI. Anak-anak terlihat antusias. Setelah itu, mereka bahkan diperbolehkan melihat dari dekat—bahkan memegang—senjata-senjata yang dipamerkan.
Semua anak riang gembira mencoba memegang satu per satu senjata yang ditunjukkan. Tidak hanya anak-anak, para guru pun ikut antusias.
“Bu, saya tahu nama-nama senjata itu. Tapi enggak semuanya,” celetuk Tristan.
“Wah, tahu dari mana, Tris?”
“Ayah saya Brimob,” jawabnya bangga.
“Oh, iya. Itu masih banyak senjata yang lain yang belum kamu tahu. Nanti kamu tanya-tanya saja sama Pak TNI-nya agar tahu semua senjatanya.”
Tristan terlihat tak sabar. Ia segera mendekati Pak TNI untuk melihat lebih dekat berbagai senjata yang ada.
Hari ini sungguh hari yang menyenangkan. Anak-anak terlihat sangat riang, meskipun pasti mereka merasa lelah. Banyak pengetahuan serta wawasan baru yang mereka dapat. Mereka juga mendapat pengalaman menaiki truk TNI, mobil perang, bahkan memegang senjata perang milik TNI. Alhamdulillah, anak-anak hari ini merasa senang, tak terkecuali gurunya.
