Seorang anak putra diantar oleh sang nenek menghampiri kami—para guru—untuk salim. Tak berselang lama, ternyata sang adik menyusul. Mereka berbusana kembar, setelan koko berwarna biru. Kakak beradik yang bersekolah di SD Islam Hidayatullah 02. Ubai kelas 3 dan Thalhah kelas 1.
“Bu Eva,” sapa Thalhah lalu mencium punggung tangan saya.
Thalhah hampir tak pernah melewatkan satu hari pun tanpa salim ketika bertemu guru. Meski sedang bermain, ia tetap meluangkan waktu untuk sekadar menyapa lalu salim.
Sore itu, Thalhah menjadi murid kelas 1 yang tiba paling awal untuk kegiatan Pesantren Ramadan.
Lama kelamaan, murid-murid lain berdatangan.
Karena kelas kami dipakai untuk tidur kakak kelas yang menginap, ruang transit kami sementara berada di kelas 4 lantai 2. Beberapa murid masih tampak bingung. Thalhah ikut membantu kami mengarahkan teman-temannya.
“Di kelas 4,” katanya sambil menunjuk pintu ruang kelas 4.
Tak lama, murid lain ikut melakukan hal yang sama. Anak-anak ini memang cepat sekali meniru hal baik.
Tak lama kemudian, seorang anak putri menghampiri.
“Bu, Billa kan bawa cincin. Boleh nggak nanti di–bagiin ke anak panti juga?” tanya salah seorang anak putri.
“Cle juga mau bagi stiker,” kata Clemira sambil menunjukkan tas imut transparannya yang berisi stiker.
“Masyaallah, lucu sekali. Tentu saja boleh,” respons saya sambil tersenyum.
Anak-anak ini memang ada saja idenya. Mereka sengaja membawa dari rumah untuk berbagi dengan teman-temannya dan juga anak-anak di panti.
Agenda pertama kami sore itu (06/03/26) adalah berkunjung ke Panti Asuhan Manarul Mabrur. Kami akan menyampaikan hasil sedekah subuh murid-murid kelas 1–4, serta bakti sosial dari para wali murid SD Islam Hidayatullah 02.
Setelah salat Asar berjemaah, tiga rombongan mobil berangkat menuju lokasi. Dua mobil lembaga membawa murid-murid. Satu rombongan lagi adalah perwakilan komite sekolah.
“Kita membaca doa naik kendaraan bersama-sama, yuk,” ajak Bu Nana—sapaan akrab kepala SD Islam Hidayatullah 02—kepada murid-murid putri.
Di mobil lain, Vino juga mengajak teman-temannya.
“Berdoa naik kendaraan dulu! Doa naik kendaraan…”
Kami pun melantunkannya bersama-sama.
Setelah berdoa, murid-murid putri kompak mengaji. Surah demi surah mereka lantunkan, mulai dari At-Tin hingga Az-Zalzalah. Sesekali diselingi cerita kecil yang membuat mobil dipenuhi tawa ringan.
Di mobil putra, suasananya tak jauh berbeda.
Rayyan G. memimpin membaca surah At-Takasur. Beberapa teman mengikuti. Namun ada juga yang masih seru mengobrol. Sekadar membicarakan apa yang mereka lihat selama perjalanan.
“Diam, yang tenang, jangan berisik!” kata Hafidz dan Rayyan A. mengingatkan.
Sesampainya di panti, kami disambut hangat oleh anak-anak panti. Kami juga bertemu langsung dengan Pak Ricky, pengelola sekaligus pemilik panti tersebut.
Acara dimulai setelah semua berkumpul.
Dalam sambutannya, Pak Ricky menyampaikan sesuatu yang cukup menggetarkan hati.
“Kami membesarkan 80 anak tanpa mencari sumbangan selama 14 tahun. Alhamdulillah kami masih bertahan. Yang penting kami tidak manipulatif dan membohongi publik dengan mencari simpati untuk keuntungan pribadi. Kami sudah menolak ratusan anak, karena beberapa tahun terakhir hanya cukup untuk makan dan hanya keluarga yang mengurus panti dan anak-anak di sini.”
Pak Ricky melanjutkan bercerita apa adanya tentang kehidupan di panti.
Saya rasa, siapa pun yang mendengarnya pasti akan tersentuh.
Bahkan anak-anak pun merasakan hal yang sama.
“Saya mau nangis rasanya, Bu. Tapi saya tahan soalnya malu,” kata Clemira sesampainya di sekolah.
“Saya juga, lo, Bu,” sahut Hasna.
Di momen itu, saya sempat menyelipkan beberapa pesan kepada anak-anak.
Namun, rasanya tanpa banyak penjelasan pun mereka sudah belajar banyak hari itu. Belajar bersyukur. Belajar peduli. Belajar berbagi. Hal-hal sederhana, tapi semoga membekas di hati mereka.
Rasa syukur dan doa tulus, kami sampaikan kepada pihak panti asuhan yang telah menerima kedatangan kami dengan hangat. Terima kasih telah membuka pintu, berbagi cerita, dan memberi kesempatan bagi anak-anak untuk belajar tentang arti kepedulian dan kasih sayang tanpa batas.
