Bakda jemaah Zuhur Jumat (04/09/2026), Bu Shoffa meminta waktu untuk berbicara. Bu Shoffa menceritakan apa yang beliau alami. Selepas BAQ kelas 3 sekitar pukul 11.15, beberapa anak terpeleset di depan musala B. Rupanya ada genangan air di depan pintu musala B. Bersyukur, anak-anak yang terpeleset tersebut tidak mengalami cedera serius.
Apa yang diceritakan oleh Bu Shoffa membuat saya kecewa. “Kok, terjadi lagi?” senandika saya.
“Airnya dari mana, Bu?” tanya saya.
Bu Shoffa menunjuk sebuah wastafel yang berimpitan dengan bagian luar dinding musala B. Sejenak saya berpikir. Beberapa opsi tindak lanjut sempat terlintas. Namun akhirnya, saya memutuskan menggunakan jalan pintas: CCTV. Setidaknya, terdapat beberapa alasan yang mendasarinya. Efektivitas dan objektivitas.
“Baik, Bu. Coba nanti saya cek CCTV,” janji saya.
Usai makan siang, saya membuka aplikasi CCTV di iPad. Saya gulirkan layar ke bawah, lalu saya klik “LT. 3 KORIDOR UTARA”. Saya butuh waktu sekitar 20 menit untuk menemukan adegan yang saya cari. Segera saya hubungi Ustazah Naim. Beliau koordinator BAQ.
“Bu Naim, kelompok BAQ yang mengaji di lab IPA pengampunya siapa saja?” tanya saya.
Dari ujung telepon, Bu Naim menjawab dengan lirih. Sayup-sayup terdengar teman-teman guru BAQ sedang mengaji.
“Oh, iya, para guru BAQ sedang koordinasi,” batin saya.
“Kelompoknya Ustazah Dina, Bu. Ada apa, Bu Wiwik?” tanya Ustazah Naim penasaran.
Saya ceritakan kronologi kejadian yang saya temukan. Bu Naim berjanji akan menyampaikan dan mendiskusikannya dengan teman-teman guru BAQ.
Saat melihat adegan dalam video tersebut, saya tertarik pada adegan bagian akhir yang saya rekam. Terlihat seorang anak putri berbaju pramuka penggalang. Awalnya saya kira ia adalah murid kelas 4. Anak tersebut tampak mendekati pintu kelas 4. Belakangan diketahui, ia merupakan murid kelas 5 yang sedang membuang sampah. Tempat sampahnya terletak di dekat pintu kelas 4. Dia adalah Nadia.
Di dalam video, tampak Nadia menghentikan aliran air dari keran yang sudah terbuka selama kurang lebih 12 menit sebelumnya. Ia juga membuka penutup yang menyumbat lubang pembuangan. Nadia melakukannya dengan enteng. Ekspresi wajahnya juga netral.
Nadia telah menyelesaikan satu masalah. Tidak terbayang jika Nadia tak acuh, berapa banyak air dan genangan yang akan ditimbulkan? Tindakan Nadia itu mengikis rasa kecewa saya yang sempat bergelayut. Bahkan, kekecewaan itu berganti menjadi rasa syukur.
Baca juga: Kepedulian Tingkat Tinggi
Saya tak ingin kehilangan momentum. Segera saya kirim pesan ke wali kelasnya.
“Bu Ni’mah, minta tolong disampaikan ke Nadia, pulang sekolah diminta mampir ke ruangan saya.”
Tak lama kemudian, Nadia mengetuk pintu ruangan saya sambil mengucap salam. Saya menyodorkan beberapa benda ke Nadia. Ia lantas memilih gantungan kunci berwarna kuning.
“Terima kasih, ya, Mbak Nadia, atas kepeduliannya,” pungkas saya.
“Sama-sama, Bu Wiwik,” jawab Nadia sambil salim.
Saya menatap punggung Nadia hingga tak terjangkau lagi oleh pandangan mata saya.
Setelah ini, masih ada PR besar untuk diikhtiarkan: membangun kesadaran kolektif. Dan hal itu bukanlah perkara mudah. Namun kepekaan dan kepedulian yang ditunjukkan oleh Nadia melambungkan optimisme saya. Semoga Allah mudahkan.
