Bulan Imunisasi Anak Sekolah (BIAS) kembali dilaksanakan. Rabu (12/08/2026), terjadwal BIAS di SD Islam Hidayatullah 02. Sekitar pukul 8, para petugas kesehatan dari Puskesmas Srondol tiba di Sekolah. Di waktu yang sama, Bu Eva dan Bu Puput juga ada kegiatan di luar sekolah. Keduanya merupakan wali kelas 1B dan 1A. Para guru pendamping juga mengajar. Praktis, Bu Fatimah (1A) dan Bu Jesen (1B) membutuhkan bantuan. Diutuslah Bu Artika dan Bu Shelly untuk menggantikan peran Bu Eva dan Bu Puput.
Bagi sebagian besar murid kelas 1, ini merupakan kali pertama mereka diimunisasi tanpa didampingi orang tua. Meski sempat ada tawaran—lebih tepatnya permintaan—dari salah satu orang tua untuk turut mendampingi, dengan berbagai pertimbangan, guru-guru bersepakat agar orang tua tidak perlu menemani. Tentu saja hal ini menjadi tantangan bagi anak-anak dan para guru.
Meja dan kursi di ruang meeting ditata sesuai kebutuhan. Para petugas kesehatan telah bersiap. Pak Kukuh mengomando kegiatan. Kelas 1C mendapat giliran pertama. Anak-anak duduk di selasar depan ruang meeting dengan urutan sesuai nomor presensi. Pak Kukuh memanggil lima anak pertama. Kelimanya masuk ke ruang “eksekusi”. Saya mengamati situasi. Bu Yeni mendampingi anak yang mendapat giliran disuntik. Bersyukur, situasi cukup aman. Anak-anak kembali ke kelas.
Tibalah giliran kelas 1B. Bu Jesen menggiring anak-anak ke selasar lantai 1. Sembari menunggu persiapan, saya mengajak anak-anak berdiskusi.
“Sikap duduk tertib!” komando saya.
“Tertib-tertib, hap!” respons anak-anak sembari meragakan gerakan dua kali tepuk tangan lalu bersedekap.
“Siapa nanti yang disuntiknya sambil tersenyum?” tanya saya.
“Aku!” jawab sebagian anak-anak.
“Eh, kok, aku?” protes saya.
“Saya!” ulang anak-anak sambil mengangkat tangan.
“Siapa yang nanti sambil tersenyum?”
“Siapa yang nanti sambil menangis?” tanya saya sambil melirihkan suara pada kata ‘menangis’.
Setiap pertanyaan yang saya lontarkan, anak-anak menjawab dengan jawaban yang sama seperti pertanyaan pertama.
“Nanti sebelum disuntik, Teman-Teman akan dicek matanya dulu. Bu Dokter akan menunjuk beberapa huruf. Anak-Anak diminta menyebutkan huruf yang ditunjuk itu.”
“Setelah itu, akan dicek telinga dan mulutnya.”
Anak-anak tampak serius menyimak.
“Oh, tidak langsung disuntik, ya, Bu?” tanya seorang anak.
“Iya. Nah, habis dicek telinga, baru, deh, disuntik.”
“Saya pernah disuntik.”
“Saya juga.”
Anak-anak saling bersahutan.
“Sakit, lo,” celetuk seorang anak.
Saya memperhatikan ekspresi anak-anak. Ada yang tampak tegang dan takut, ada pula yang biasa saja. Bahkan ada yang menangis.
“Iya, sih, sakit. Tapi sakitnya hanya sebentar. Hanya 2 detik saja,” terang saya. “Dan Bu Wiwik yakin, akan-anak kelas 1B semuanya pemberani. Nanti kalau takut, boleh peluk Bu Jesen. Dan jangan lupa baca basmalah.”
Baca juga: Bintang Galau
Seorang anak tampak menangis.
“Mas … Hafidz takut?” tanya saya sembari melirik bet nama di dada kanan kemeja anak tersebut.
Hafidz mengangguk ragu. Ia tampak menahan tangis. Namun, akhirnya tak terbendung juga. Air matanya menetes deras meski tangisnya tak bersuara. Hafidz mengusap air matanya. Ia lantas mendekati saya.
“Dua menit itu berapa lama?” tanya Hafidz.
“Bukan dua menit, Mas Hafidz. Dua detik.”
“Dua detik itu berapa lama?” ulang Hafidz.
“Dua detik itu seperti ini, tik tik,” terang saya sambil meragakan menggunakan jari telunjuk. “Menurut Mas Hafidz, dua detik itu sebentar atau lama?”
“Sebentar,” jawabnya.
Hafidz tampak lebih tenang.
Murid-murid dengan nomor presensi 1—5 dipanggil masuk ke ruang meeting. Saya mengekor di belakang mereka. Bu Jesen mendampingi anak-anak yang disuntik. Saya membantu mendokumentasikan.
Tibalah giliran Hafidz. Setelah cek mata, mulut, dan telinga, Hafidz dengan sukarela menuju kursi imunisasi. Tak butuh dirayu.
“Kancing bajunya dibuka, ya,” ucap dokter.
Hafidz menurut.
Dokter tersebut mengajak Hafidz mengobrol. Berusaha mencairkan suasana dan mengalihkan perhatian Hafidz.
“Nanti saat disuntik, kalau mau menangis tidak apa-apa. Tapi tangannya jangan ditarik, ya,” terang dokter.
Hafidz mengangguk.
Dokter menusukkan jarum ke lengan kiri Hafidz. Dengan lembut. Masyaallah, Hafidz tampak tenang. Ia tak sedikit pun memberontak. Bahkan, Bu Jesen tak perlu memeganginya. Hafidz hanya meringis dan memejamkan matanya. Usai disuntik, ia pun keluar ruangan dengan tenang.
Saya takjub dengan ketangguhan Hafidz. Meski sempat menangis di selasar, tetapi ia berhasil menata kembali emosinya setelah memahami arti “dua detik”. Hafidz berhasil mengubah persepsinya dari ketakutan yang tak berujung menjadi sebuah kepastian yang singkat. Resonansi ketenangan itu ia bawa hingga jarum suntik menyentuh kulitnya. Ia hanya memejamkan mata erat-erat, menerima rasa sakit yang lewat, dan mengalahkannya. Selamat, Hafidz!
